Jika suporter Manchester United kalian tanya soal bagaimana kemenangan kandang perdana di liga bakal diraih, maka tendangan penalti Bruno Fernandes bakal jadi prediksi yang populer.
Tentu saja, Ole Gunnar Solskjaer berharap timnya tampil bagus melawan West Brom pada Minggu (22/11) dini hari WIB tadi namun, mengingat pertandingan ini digelar tak lama setelah jeda internasional, itu jelas sulit.
Jangan salah, manajer asal Norwegia itu pasti akan senang karena timnya meraih tiga poin sekalipun dari titik putih. Terlebih lagi, United kini naik ke urutan kesembilan - berada di atas Manchester City.
Namun tidak ada hal yang positif dari permainan Setan Merah semalam. United baru bisa memecah kebuntuan lewat penalti yang diulang dari Bruno di babak kedua, tak lama setelah klaim penalti West Brom dianulir VAR.
Wasit David Coote awalnya memberi hadiah penalti kepada West Brom setelah Bruno mencongkel bola dari kaki Conor Gallagher hingga membuat lawannya itu terjatuh, tapi sang pengadil lapangan berubah pikiran seusai melihat monitor VAR.




Teknologi itu sekali lagi mengintervensi setelah sepakan penalti pertama Bruno diamankan Sam Johnstone. Dan kredit untuk Bruno, seperti yang ia lakukan melawan Paris Saint-Germain, berhasil menjaringkan bola di kesempatan kedua.
Boleh dikatakan bahwa drama VAR dibutuhkan tuan rumah untuk mencerahkan performa mereka yang cukup hambar di bawah sorotan lampu Old Trafford.
Sebelum kick-off, Ole menyebut pertandingan di kandang tidaklah signifikan karena semua pertarungan dimainkan secara tertutup karena adanya pembatasan massa akibat pandemi virus corona (Covid-19).
Sangat aneh melihat Ole mengadopsi pendekatan yang berhati-hati untuk pertandingan di Old Trafford melawan tim yang sedang ada di papan bawah, dengan ia memainkan dua gelandang bertahan sejak awal: Fred dan Nemanja Matic.
Semua orang tahu apa yang mampu dilakukan oleh Marcus Rashford dan Anthony Martial ketika mereka diberi layanan berkualitas dan meski United juga memiliki Juan Mata serta Bruno di starting XI, mereka tidak benar-benar memberi suplai seperti yang diinginkan.
Martial dan Rashford juga terlihat kurang maksimal. Malah jebolan akademi United Sam Johnstone melakukan beberapa penyelamatan gemilang untuk menahan upaya keduanya, sebagaimana tim tuan rumah tidak bermain mendekati level terbaiknya.
Meski mereka menang di akhir, keputusan Ole untuk menurunkan Fred dan Nemanja Matic bersamaan justru menjadi hal yang paling dipertanyakan. United harusnya bisa lebih berani untuk melawan tim yang sampai sekarang belum meraih kemenangan di Liga Primer pada musim ini.
Pasukan Slaven Bilic juga gagal meraih clean sheet di paruh pertama untuk laga tandang mereka sejauh musim ini dan telah kebobolan 17 gol dalam tujuh pertandingan.
Dengan mencermati itu, ini jelas bukan waktunya untuk bermain hati-hati; dan itu adalah permainan yang didesain untuk mengkesplorasi kualitas Paul Pogba. Sayangnya, pemain Prancis itu tidak tersedia karena cedera, dan Donny van de Beek seharusnya bisa menjadi starter.
Akan tetapi, rekrutan musim panas itu menghabiskan sebagian besar babak pertama di tepi lapangan dan harus menunggu hingga menit ke-78 sebelum dimasukkan. Meski begitu, masuknya ia di babak kedua tidak lantas menandai perubahan formasi, karena tetap ada dua gelandang bertahan yang tersisa.
Van de Beek telah menunjukkan dalam cameo-nya soal apa yang dia mampu lewat operan-operannya yang membelah pertahanan, gerakan cepat dan umpan-umpan cerdasnya yang sejatinya bisa membuat United bermain lebih hidup.
Tentu, hal positif bagi Ole sekarang ini adalah timnya bisa menang. Tapi sekali lagi permainan mereka mengundang lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
