Bos Persija Jakarta: Match-Fixing Di Indonesia Sudah Biasa

Komentar()
Media Persija
Gede menyebutkan kalau match fixing tidak dselesaikan secara tuntas, sepakbola Indonesia akan seperti ini saja.

Direktur utama Persija Jakarta Gede Widiade, mengomentari isu match fixing yang kembali mencuat di sepakbola nasional. Menurutnya, hal ini bukan sesuatu yang baru.

Dalam beberapa pekan belakangan ini sepakbola nasional kembali dilanda isu match fixing. Ada sejumlah pertandingan yang diduga diatur mafia dan bandar judi internasional.

Gede menyebut seharusnya ada langkah konkret yang dilakukan agar masalah tersebut tidak terulang. Satu di antaranya menangkap pelaku dan memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.

"Match fixing Indonesia sudah biasa, tapi apakah ada buktinya? Saya mantan lawyer, ada orang mengaku maling, tapi didiamkan saja. Buat apa membicarakan itu? Kalau malingnya sudah mengaku tapi tidak ditangkap buat apa. Saya mau tanya nih, gubernur korupsi ditangkap KPK," kata Gede.

"Kalau match fixing, kerugiannya ratusan miliar. Persija saja mengeluarkan uang Rp50 miliar. Tim-tim lain Rp30 miliar dan ada juga Rp20 miliar. Kalau match fixing tidak diselesaikan tuntas, ya sepakbola akan begini-begini saja," tambahnya.

Lebih lanjut, Gede menyebut publik seharusnya juga berperan aktif memerangi match fixing. Ia menilai PSSI tidak bisa bekerja sendirian untuk memberantas hal tersebut.

"Match fixing itu pidana, pengaturan skor pidana, kalau bukan delik aduan harusnya polisi tangkap. Kalau delik aduan, siapa merasa dirugikan, kalau federasi tidak berani, harus masyarakat yang melakukan class action, sangat mudah," ucapnya.

"Tetapi, biasa di Indonesia, teriak-teriak, sepuluh menit hilang, dulu contohnya, ketika saya manajer SEA Games, saya membiayai pribadi. Tapi saya dituduh, oleh seseorang yang bersembunyi di balik benteng kuat."

"Lucunya lagi saya dituduh suap Rp100 juta, padahal saya mengeluarkan uang miliaran. Saya harus tuntut? Saya tahu kredibilitas yang bikin isu, sama-sama saja. Soal PSSI, serahkan federasi karena aturan dan statutanya jelas."

 

Artikel dilanjutkan di bawah ini
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Goal Indonesia (@goalcomindonesia) on

 

 

ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. Indra Sjafri Belajar Di Juventus
2. Carlo Ancelotti: Sampai Gagal Lolos Grup, Napoli Idiot!
3. Di Balik Kontroversi Pemulihan Cedera Suarez Dengan Sel Punca
4. Persija Siap Relakan Stefano Cugurra Ke Timnas Indonesia
5. Matthijs De Ligt & Transfer Mahal Potensial Ajax
Selengkapnya:
Daftar Artikel Terlaris Goal Indonesia

 

Footer - Liga 1

Tutup