Persepsi banyak orang bahwa sempurna di fase grup, belum tentu seirama ketika memainkan fase gugur. Skenario ini pun benar-benar terjadi pada Belanda, yang harus mengepak koper lebih dini di Euro 2020.
Pasukan Frank de Boer begitu digdaya selama memainkan babak grup dengan menyapu bersih seluruh tiga laga dengan raihan positif.
Usai membuka Euro 2020 dengan kemenangan ketat, 3-2, atas Ukraina, Belanda melanjutkan penampilan cemerlang mereka dengan menghajar Macedonia Utara tiga gol tanpa balas.
Di partai pamungkas, Oranje tak kesulitan mengatasi Austria 2-0 untuk mengamankan satu tempat di babak 16 besar sebagai juara di Grup C. Produktivitas gol Georginio Wijnaldum cs juga terbilang oke: 8-2.
Di babak perdelapan-final, jelas Belanda sangat dijagokan untuk melaju ke tahap berikutnya, terlebih mereka 'cuma' berjumpa lawan yang menjalani fase grup dalam keadaan terseok-seok: Republik Ceko.
Ceko melaju ke babak 16 besar lewat jalur pemeringkatan ketiga terbaik.
Selama menjalani fase grup, Ceko menuai satu kemenangan, satu hasil imbang dan sekali kekalahan, membuat mereka mengumpulkan poin empat, membawahi Kroasia selaku runner-up dan Inggris sebagai juara Grup D.
Tak dinyana, Ceko justru berhasil memberikan kejutan hebat bagi Belanda di perdelapan-final. Tak tanggung-tanggung, skuad Jaroslav Silhavy menang secara meyakinkan, 2-0.
GettyPatrik Schick menjadi protagonis di pertandingan itu. Selain mendonasi gol di sepuluh menit terakhir, menyempurnakan torehan pembuka dari Tomas Holes di menit ke-68, striker Bayer Leverkusen itu juga menjadi 'dalang' diusirnya Matthijs de Ligt dari lapangan pada menit ke-55.
Bek Juventus itu jadi orang terakhir yang mengganjal pergerakan sendirian Schick menuju gawang Oranje dengan tangannya. Kartu merah pun langsung diberikan wasit kepada sang defender usai tinjauan VAR.
Fans semakin dibuat bertanya-tanya dengan performa Belanda malam itu, karena selepas laga, Opta mencatat bahwa pasukan Frank de Boer tak sekali pun berhasil melepaskan tembakan ke gawang Ceko.
Menurut Opta, itu adalah pertama kalinya Belanda bermain tanpa membuat shot on target dalam satu pertandingan di turnamen mayor, sejak seluruh edisi Euro dan Piala Dunia dianalisis pada 1980.
Padahal, lawan yang dihadapi, skuadnya bisa dikatakan tak lebih baik dari materi pemain yang dimiliki Belanda. Sosok-sosok berbakat dan diakui di belantika sepakbola Eropa seperti Frenkie de Jong, de Ligt, Memphis Depay dan Donyell Malen rupanya tak bisa berbuat banyak kala meladeni The Locomotive.
Sementara, di skuad Ceko, barangkali hanya nama Schick yang paling familiar terdengar, tetapi mantan penyerang AS Roma tersebut seakan mengajari barisan ujung tombak Belanda bagaimana bermain efektif di Puskas Arena tadi malam.
Penyerang 25 tahun itu benar-benar jadi mimpi buruk bagi barisan belakang Oranje sepanjang laga, termasuk menghadiahi de Ligt kartu merah, dan puncaknya adalah ketika sang striker mencetak gol di menit ke-80 untuk membawa Ceko menembus perempat-final.
Dengan begitu, Schick kini telah mengemas empat gol dalam empat pertandingan yang dijalaninya sejauh ini bersama Ceko. Torehan ini tentu bisa bertambah seiring seberapa jauh timnya melaju di Kejuaraan Eropa edisi kali ini.
Schick hanya terpaut satu gol dari sang topskor Ronaldo [5], yang harus menghentikan lajunya di Euro 2020 setelah juara bertahan Portugal ditendang Belgia.
GettyBelanda kembali harus mengernyitkan dahi di turnamen mayor. Publik Negeri Kincir sudah teramat lama menanti trofi pertama sejak 33 tahun lamanya yang kala itu mereka berhasil berpesta juara Euro di Jerman Barat.
Euro 2020 kembali nirgelar, yang berarti tujuh ketikutsertaan Belanda dari delapan edisi terakhir selalu berakhir hampa trofi. Namun, loyalis Oranje tak akan lupa rasa pedih dari ketersingkiran kali ini, sebab tim kesayangan mereka sempurna di babak grup tetapi tak bisa berbuat banyak di fase gugur menghadapi lawan tak favorit.
