Lebih Hebat Dari Pep Guardiola & Carlo Ancelotti Di Bayern Munich, Apa Keistimewaan Hansi Flick?

Komentar()
Flick, Guardiola, Ancelotti
Getty Images
Apa rahasia Hansi Flick membawa Bayern Munich bertakhta di Eropa sementara pelatih yang lebih ngetop seperti Guardiola dan Ancelotti gagal?

Bayern Munich melakoni start brilian dalam upaya mempertahankan mahkota juara Liga Champions dengan memukul telak Atletico Madrid 4-0.

Dikenal sebagai tim pemilik pertahanan tangguh, Los Colchoneros ternyata tak berkutik dan dipaksa menelan empat gol tanpa balas saat mengunjungi Allianz Arena pada Rabu (21/10) malam waktu setempat.

Dua gol Kingsley Coman dan masing-masing satu dari Leon Goretzka serta Corentin Tolisso menandai kemenangan selusin beruntun Die Roten di Liga Champions. Ini merupakan rekor terbaik sepanjang sejarah kompetisi, mempertajam torehan 11 kemenangan tanpa putus yang dibikin Bayern dalam perjalanan ke tangga juara musim lalu.

Kedigdayaan The Bavarians jelas tak bisa dipisahkan dari tangan dingin Hansi Flick. Dalam waktu singkat Flick berhasil mempersembahkan gelar Eropa paling bergengsi untuk Bayern, pencapaian yang bahkan tak kuasa diberikan pelatih lebih ngetop Pep Guardiola dan Carlo Ancelotti.

Apa yang membuat Flick begitu spesial? Arsitek timnas Jerman Joachim Low mengemukakan pendapat tentang mantan asistennya di Die Nationalmannschaft tersebut.

JOACHIM LOW HANSI FLICK GERMANY TRAINING 06092014

"Dia memiliki tingkat keahlian yang sangat tinggi dan dia mampu mempersiapkan skema menyerang untuk timnya dengan sangat baik. Ini hal yang dibutuhkan Bayern karena lawan mereka selalu bertahan sangat dalam," tutur Low kepada laman resmi Bundesliga.

"Dia juga sangat berempati terhadap para pemainnya dan dia pengertian dalam situasi-situasi penting. Komunikasinya baik dan dia bisa menyampaikan kepada pemain tentang apa yang diinginkannya, sehingga para pemain mendengarkan dan mematuhinya."

Flick awalnya datang ke Sabener Strasse sebagai asisten pelatih Niko Kovac musim panas tahun lalu. Ia dipromosikan jadi bos interim setelah Kovac dipecat pada November. Seiring performa memuaskan yang ditunjukkannya, eks pembesut Hoffenheim itu lantas didaulat sebagai nakhoda permanen Bayern.

Dari posisi keempat, Si Merah bangkit bersama Flick hingga akhirnya merebut titel juara Bundesliga 2019/20, kedelapan berurutan untuk klub, juga memenangi DFB-Pokal sebelum mengangkat trofi Liga Champions keenam dan melengkapi treble usai menundukkan Paris Saint-Germain 1-0 di final.

Tak berhenti sampai di situ, pada musim baru 2020/21 Bayern telah menambah dua trofi lagi, yaitu Piala Super Jerman plus Piala Super UEFA.

Bayern Munich Champions League 2019-20

Menurut Low, periode awal di posisi asisten pelatih Bayern membantu Flick karena ia sudah paham masalah apa yang perlu dibenahinya. Kedekatan dengan beberapa personel dari masa baktinya di tim nasional jadi faktor plus lain bagi pelatih 55 tahun itu.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

"Bayern selalu memiliki tim yang bagus tapi, dalam beberapa tahun terakhir, segala sesuatunya tidak selalu berjalan sesuai harapan di bawah pelatih berbeda yang juga memiliki talenta tinggi," kata Low.

"Hansi sudah menjadi asisten pelatih selama beberapa bulan, jadi dia mengetahui apa masalahnya dan langkah-langkah penting apa yang harus diambil bersama tim. Menjadi sebuah keuntungan baginya bahwa dia tidak benar-benar baru dalam pekerjaan ini dan bahwa dia sudah melihat terlebih dahulu bagaimana situasinya."

"Ia juga memiliki keuntungan lain dengan beberapa pemain Bayern sudah mengenalnya dan metode kepelatihannya dari tim nasional. Saat itu dia sudah menjadi bagian sangat penting dari sistem kami," pungkas Low.

Tutup