Arsene Wenger mengabdi selama 22 tahun di Arsenal, mempersembahkan segudang prestasi termasuk tiga Liga Primer Inggris dan tujuh Piala FA selama itu.
Namun, ia kehilangan kepercayaan beberapa pendukung di akhir rezimnya seiring langkah The Gunners yang kian terseok, bahkan terdepak dari empat besar.
Pria asal Prancsi itu merasa diperlakukan dengan tidak adil saat 'disingkirkan' dari kursi kepelatihan dan seharusnya lebih dihormati mengingat jasa-jasa dan pencapaiannya.
Pria 71 tahun itu kini menjabat Kepala Perkembangan Sepakbola Global di FIFA, dan mengomentari penghujung kariernya di London utara.
"Menurut saya orang-orang [bersikap] lumayan kejam di tahun-tahun terakhir saya," ujarnya kepada The Telegraph.
"Pada 2016 kami finis kedua di liga. Leicester juara tetapi tim lain juga berada di bawah Leicester, dan Leicester hanya kalah tiga kali."
"Pada 2017 kami gagal finis empat besar untuk pertama kalinya dalam 20 tahun tetapi mengoleksi 75 poin."
"Orang-orang tidak sadar. Kami menjuarai Piala [FA] kontra Chelsea yang baru saja memenangi [EPL] dan punya kans untuk meraih double."
"Setelahnya, pada 2018, kami kalah di final Piala Liga kontra [Manchester] City, dan kalah di semifinal Liga Europa melawan Atletico Madrid, tetapi cuma selisih satu gol," kilah Wenger.
"Tapi begini, saya mempersembahkan tahun terbaik karier saya untuk mengembangkan apa yang menurut saya penting: stadion, dan menebusnya kembali dan menempatkan klub di posisi yang mumpuni untuk menghadapi masa depan dan berpotensi untuk bernasib baik."
"Pada akhirnya, di atas segalanya, kami menang dan saya paling bangga bisa menempatkan klub di posisi itu."




