Duet maut Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo di lini depan akan menjadi dambaan fans sepakbola mana pun. Arsenal pernah berada di posisi mewujudkan impian tersebut.
David Dein dan Arsene Wenger, 20 tahun lalu, sangat berhasrat untuk memboyong kedua 'alien lapangan hijau' itu ketika mereka berada di tahapan awal karier masing-masing.
Messi baru mentas, menembus tim utama Barcelona dari akademi, tempat di mana Arsenal memboyong sosok potensial Cesc Fabregas. Sementara Ronaldo saat itu masih memperkuat Sporting Lisbon.
Pada akhirnya, Messi bertahan dalam jangka panjang bersama Barca, adapun Ronaldo gabung ke Manchester United setelah raksasa Liga Primer Inggris ini memenangkan perburuan.
"Messi adalah pemain yang bikin kami tertarik, bukan hal yang mustahil," kata Wenger, berbicara di sebuah acara untuk Twinning Project di London Palladium.
Goal"Barcelona punya Fabregas, Messi dan [Gerard] Pique di generasi yang sama. Kami mencoba memboyong [mereka]. Messi bukan mustahil, Barcelona lalu memperpanjang [kontrak Messi]. Fabregas ingin hengkang, Pique juga demikian," kenang Wenger.
"Dia [Pique] mendarat di Manchester United, Cesc bergabung dengan kami. Saya menolak untuk masuk dalam permainan itu, karena jika saya masuk ke ruangan saya dan menulis di dinding semua pemain yang saya gagal dapatkan, saya tidak bisa menyelesaikan hidup saya dengan baik," ungkapnya.
Terkait potensi penandatanganan Ronaldo kala itu, Dein menambahkah: "Kita putar waktu kembali, ketika Ronaldo berusia 17 tahun dan bermain di tim U-19 Portugal."
"Dia dipantau oleh kepala scout kami. Arsene mengatakan: 'Lihat, apakah Anda ingin mengamati dan melihatnya bermain? Saya katakan: 'Ya tentu. Saya akan mengamati'," lanjutnya.
"Saya pergi dengan kepala pemandu bakat dan saya ingat melihat Portugal U-19 bermain dan Cristiano tampil sangat bagus," katanya lagi.
"Lalu, sang agen, yang bersama kami saat itu, mengatakan: 'Ya, percaya atau tidak, dia akan menjumpai kami untuk makan malam setelah pertandingan'. Kami pun makan malam di semacam restoran pinggir jalan. Dia benar-benar anak yang baik, dia memberi saya jersey-nya. Ini adalah salah satu dari sekian jersey yang saya gantung di lemari rumah. Dia memberi saya jersey saat dia bermain," kenang Dein.
Getty Images"Kami membahas sedikit soal uang dan agennya mengatakan: 'Baik, biarkan dia memikirkan itu semalaman'. Lalu, Cristiano mengatakan: 'Saya harus pergi sekarang. Bus saya akan datang'," cerita Dein.
"Dia bergegas ke bus dan dia pulang ke rumah. Hari berikutnya, saya mendiskusikan dengan sang agen dan enam jam kemudian Manchester United menampar kami," bebernya.
"Itulah cerita Cristiano Ronaldo. Saya kira, kami sedikit dimanfaatkan untuk jadi rumah penguntit, sebab saya kira dia akan selalu pergi ke Manchester United saat itu," pungkasnya.
