Apakah gol semata cukup untuk merebut penghargaan individu paling bergengsi di dunia sepakbola? Sebuah pertanyaan yang menuntut jawaban tegas musim ini, dan Kylian Mbappe adalah pusat dari jawaban tersebut.
Bintang Prancis yang telah memecahkan segala rekor gol yang mungkin dicapai, sekaligus mencatatkan namanya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia, kini mendapati dirinya berhadapan dengan sebuah paradoks yang aneh: semakin dekat dengan impiannya, semakin jauh Ballon d'Or darinya. Lalu apa yang sebenarnya terjadi di balik layar persaingan ini? Dan mengapa penghargaan itu tak lagi terjamin bagi si Anak Emas dari Paris?
Di Prancis, di mana segala sesuatu diukur dengan timbangan yang cermat, persaingan tak lagi bisa dipastikan, melainkan berubah menjadi pertarungan terbuka yang tidak hanya ditentukan oleh angka, tetapi juga oleh gelar, konsistensi, bahkan oleh apa yang terjadi di dalam ruang ganti timnas Prancis itu sendiri.
Angka legendaris, tanpa mahkota
Kylian Mbappe memasuki persaingan Ballon d'Or tahun ini sebagai salah satu kandidat terkuat untuk meraihnya pertama kali dalam kariernya, dalam acara yang dinanti-nanti dan akan digelar beberapa pekan mendatang di ibu kota Inggris, London.
Meski pulang tanpa gelar kolektif pada musim pertamanya mengenakan seragam Real Madrid, capaian individunya tetap luar biasa dalam segala ukuran.
Ia menutup musim sebagai pencetak gol terbanyak Liga Spanyol dan pencetak gol terbanyak Liga Champions Eropa, sebelum menciptakan peristiwa terbesar musim panas lalu dengan bertakhta sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.
Namun sepakbola tidak mengakui individu semata. Keberhasilan Paris Saint-Germain merebut gelar Liga Champions Eropa, dan keberhasilan timnas Spanyol meraih gelar Piala Dunia, telah membalikkan semua perhitungan dan memanaskan bursa nominasi, sehingga membuka pintu bagi para pesaing yang memiliki apa yang tidak dimiliki Mbappe: gelar.
Yamal, pesaing yang memiliki segalanya
Di barisan terdepan para pesaing itu mencuat satu nama yang kini membuat resah seluruh penggemar Mbappe: Lamine Yamal, bocah berbakat Barcelona, yang menganggap dirinya paling berhak atas penghargaan individu tersebut, dan hal itu telah ia nyatakan dalam beberapa kesempatan.
Winger muda Spanyol itu tak lagi sekadar bakat yang sedang menanjak, melainkan telah menjadi pesaing langsung yang memiliki dua senjata mematikan: angka dan gelar.
Yamal membawa Barcelona meraih gelar Liga Spanyol dan Piala Super Spanyol, serta menjadi salah satu arsitek utama keberhasilan timnas Spanyol menjuarai Piala Dunia, di mana ia memainkan peran sentral yang tak bisa diabaikan.
Daftar itu tidak berhenti pada Yamal, karena persaingan ini menghadirkan nama-nama berbobot, seperti Rodri Hernandez, Ousmane Dembele yang meraih gelar Liga Champions bersama Paris Saint-Germain, pemain Georgia Khvicha Kvaratskhelia, dan pemain Inggris Harry Kane yang menutup musim sebagai pencetak gol terbanyak di benua Eropa.
3 rintangan dari dalam yang mengancam impian Mbappe
Bagaimana persaingan sengit ini dipandang di Prancis? Pertanyaan tersebut dijawab oleh jurnalis Prancis terkenal dari jaringan RMC Sport, Arthur Perrot, yang menegaskan bahwa persaingan tahun ini terbuka lebar lebih dari kapan pun sebelumnya.
Perrot mengatakan dalam pernyataan khusus: "Ada banyak pemain istimewa yang bersaing memperebutkan penghargaan ini, dan Mbappe tentu salah satunya. Ia telah menorehkan sejarah musim panas ini dan menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia, serta tampil luar biasa bersama Real Madrid, tetapi ia menghadapi tiga rintangan utama yang bisa merampas impiannya."
Rintangan pertama: kutukan gelar yang absen
Ketiadaan gelar kolektif adalah kriteria paling berbahaya dalam pemungutan suara Ballon d'Or. Dewan juri dan para jurnalis tidak hanya memberi penghargaan kepada pencetak gol, tetapi juga kepada sang juara yang membawa timnya naik ke podium juara, dan itulah yang tidak dilakukan Mbappe musim ini.
Rintangan kedua: absennya konsistensi
Meski memiliki angka yang luar biasa, Mbappe dinilai kurang konsisten dalam menjaga levelnya sepanjang musim dibandingkan dengan pesaing seperti Yamal dan Dembele, yang mampu mempertahankan ritme yang meningkat dan berpengaruh dalam laga-laga besar dan menentukan.
Rintangan ketiga: pertarungan internal Prancis
Inilah rintangan yang paling rumit; persaingan tak lagi hanya bersifat eksternal, melainkan telah menjadi Prancis-lawan-Prancis sepenuhnya, dengan masuknya rekan senegara sekaligus mantan sahabatnya, Ousmane Dembele, secara kuat dalam persaingan setelah musim bersejarahnya bersama Paris Saint-Germain.
Pernyataan yang memicu perselisihan di kubu Les Bleus
Sejumlah laporan media Prancis mengungkap kabar mengejutkan yang terjadi di balik pintu tertutup di Prancis, yang bisa memengaruhi peluang Mbappe dalam persaingan Ballon d'Or.
Di Prancis, media kerap menyinggung percakapan yang terjadi antara Mbappe dan Dembele; Mbappe menyatakan secara terbuka bahwa dirinya adalah kandidat terkuat dan bahwa ia layak meraih Ballon d'Or, dan Dembele membalas bahwa ia pun bekerja keras untuk itu dan layak dihargai meski pada awalnya tidak dijagokan secara kuat.
Pertukaran pernyataan ini menciptakan kebingungan dan ketegangan yang jelas antara kedua pemain, sebuah situasi yang hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan, dan dampaknya merembet hingga ke dalam kubu timnas Prancis.
Singkatnya, Mbappe memiliki seluruh kualifikasi individu untuk memenangkan penghargaan ini, tetapi persoalannya tak lagi bergantung padanya seorang. Ballon d'Or tahun ini tidak akan ditentukan oleh gol semata, melainkan oleh gelar, kestabilan, dan hubungan di dalam maupun di luar lapangan.

