Pemain internasional Senegal sekaligus bintang Chelsea Edouard Mendy mengungkapkan bahwa dia pernah tidak ingin menjadi penjaga gawang.
Sebelum pindah ke raksasa Liga Primer Inggris tersebut, sosook berusia 29 tahun ini relatif tidak dikenal saat ia memperkuat tim Ligue 1, Rennes.
Meski begitu, ia menjadi pusat perhatian setelah bergabung dengan The Blues dalam kesepakatan senilai 22 juta poundsterling ($31 juta) sebagaimana tim arahan Thomas Tuchel berusaha menemukan soliditas yang lebih besar di bawah mistar akibat buruknya penampilan Kepa Arrizabalaga.
Sejak saat itu, dia terbukti menjadi salah satu rekrutan top, melakukan penyelamatan penting bagi tim London yang finis keempat dalam kampanye Liga Primer 2020/21.
GettyDalam pembicaraannya dengan laman resmi UEFA jelang pertandingan Liga Super Villareal di Belfast pada Kamis (12/8) dini hari WIB nanti, Mendy mengisahkan tentang bagaimana dia awalnya benci bermain sebagai penjaga gawang.
“Saya tidak selalu ingin menjadi penjaga gawang, tetapi saya tidak memiliki banyak masa depan di sektor lain di lapangan,” katanya.
“Saya diminta untuk berdiri di bawah mistar, dan semuanya terjadi secara alami setelah itu. Saya pernah menjajal semua divisi di Prancis, dari tingkat enam hingga Ligue 1.
“Di antaranya, ada periode di mana saya menganggur selama satu tahun, ketika berusia 22 tahun.
“Karena belum pernah profesional, sulit untuk kemudian menjadi pesepakbola profesional, tetapi saya bekerja selama tahun tersebut, saya bekerja dua kali lebih keras dari yang lain.
“Saya memiliki keberuntungan di pihak saya dan untungnya itu berhasil. Saya memiliki kesempatan untuk bergabung dengan Olympique de Marseille [B]. Dan itu lantas membaik dari sana.”
Getty ImagesMendy memainkan peran kunci dalam kesuksesan Chelsea di Liga Champions – tampil dalam 12 pertandingan dan tidak kebobolan dalam sembilan kesempatan – sebuah prestasi yang membuatnya menyamai rekor cleansheet turnamen.
Hanya Santiago Canizares (Valencia pada 2000/01) dan Keylor Navas (Real Madrid pada 2015/16) yang pernah mencapai angka itu dalam satu musim, yang berarti bintang Afrika itu adalah anggota klub eksklusif.
Selain itu, ia adalah kiper Afrika pertama yang bermain di final kompetisi Eropa sejak Bruce Grobbelaar pada 1985.
Mantan pemain internasional Zimbabwe Grobbelaar juga menjadi penjaga gawang Liverpool setahun sebelumnya ketika The Reds mengalahkan AS Roma untuk merebut Piala Eropa pada 1984.




