David de Gea tak bisa berbuat banyak menghadapi 'gol aneh' dari sebuah 'belokan jahat' saat Manchester United kalah 2-0 dari Arsenal, demikian kata eks kiper Inggris, Paul Robinson.
Granit Xhaka membuka keunggulan Arsenal setelah 12 menit di Emirates Stadium melalui sebuah tembakan jarak jauh sebelum penalti Pierre-Emerick Aubameyang menyegel tiga poin bagi tuan rumah dalam lanjutan Liga Primer Inggris.
De Gea menjadi sasaran kritikan karena gagal menghalau tembakan Xhaka, tapi Robinson memberikan analisisnya mengapa momen itu memang sangat menyulitkan sang penjaga gawang United.
Seperti diketahui, pada saat Xhaka melepaskan tembakannya, De Gea sebenarnya bisa membaca arah bola dengan baik. Namun laju bola tiba-tiba berbelok arah secara drastis sehingga membuatnya terkejut dan mati langkah.
"Itu [gol Xhaka] memang benar-benar belokan jahat," sebut Robinson kepada Sky Sports. "Anda bisa menganalisis setiap gol dan mengatakan ada kesalahan, tapi yang ini tidak seperti itu."
"Bagi saya untuk memulai, dengan ia terlalu dalam dan jauh ke belakang dari garisnya. Anda bisa melihat tayangan ulang ia bergerak ke kiri dan kakinya tidak benar-benar menyentuh tanah."
"Penjaga gawang memiliki sepersekian detik setelah seseorang menendang bola. Anda bisa berlatih setiap hari untuk memprediksi ke mana arah bola bergerak. Langkah awalnya adalah menuju pergerakan bola."
"Bola benar-benar berbelok dan apa yang dilakukannya adalah mengambil langkah lebih untuk bergerak lebih jauh," lanjut Robinson, yang pernah mengawal gawang Tottenham Hotspur.
"Ketika memutuskan itu, kakinya tidak benar-benar menyentuh tanah jadi ketika bola berbelok itu membuatnya terpaku untuk bisa pergi ke sisi yang lain. Itulah yang membuatnya tampak buruk."
"Banyaknya poin yang ia selamatkan bagi Manchester United selama bertahun-tahun dan laga-laga yang telah ia menangkan, ia membiarkan gol aneh itu terjadi."
"Itu mungkin karena kesalahan penilaian dan ada elemen kesialan di sana. Kami membandingkannya dengan level tinggi yang sudah ditetapkannya selama beberapa musim terakhir."





