Dalam beberapa musim terakhir, kita disuguhkan Alexis Sanchez versi memble, jauh dari tampilan menakjubkan ketika dia memperkuat Barcelona dan Arsenal.
Bahkan, kepindahannya ke Manchester United dipandang sebagai transfer terburuk dalam sejarah klub tersebut. Minim motivasi, tetapi punya gaji tinggi. Fakta yang membuat insan sepakbola bakal geleng-geleng.
Namun, dalam beberapa pekan terakhir, publik sepakbola mungkin bisa melihat kembali Alexis versi terbaik, seperti yang kita kenal ketika dia dibawah polesan Arsene Wenger di Emirates Stadium. Gol yang dicetaknya ke gawang Genoa untuk membantu Inter merangsek kembali ke posisi runner-up klasemen dalam kemenangan 3-0 mengonfirmasi itu.
Bintang Cile ini kembali memperlihatkan kontribusi besarnya bagi skuad Antonio Conte, sekali lagi. Ya, sekali lagi!
Di laga-laga sebelumnya atau sejak restart kompetisi imbas pandemi virus corona, Alexis memperlihatkan lagi rasa laparnya. Layaknya pemain berstatus bintang, inilah Alexis yang sebenarnya. Mungkin bisa dibilang, penampilan terbaik pertamanya dalam dua tahun! Dia bergerak sangat cepat dalam skema dua penyerang Inter di lini pertahanan lawan, menghadirkan masalah serius bagi barisan defensif secara konsisten.
GFX - Alexis SanchezAlexis memulai deretan atraksi impresifnya ketika menghadapi Sassuolo. Assist vitalnya membantu Inter meraih satu poin di pertandingan itu. Tren positifnya berlanjut saat bentrok dengan Brescia, di mana Alexis lebih garang lagi karena membuat dua assist plus sebiji gol.
Menghadapi Torino, Alexis lagi-lagi menunjukkan kelasnya dengan memproduksi dua assist penting sebelum satu gol dan assist-nya mewarnai pesta empat gol Inter ke gawang SPAL. Tak berhenti sampai di situ, saat bertandang ke Olimpico Stadio, kreasi Alexis membuat Inter pulang dari markas AS Roma tidak dengan tangan hampa.
Di beberapa laga yang dia tidak mencetak gol pun sejak restart, Alexis tampak menunjukkan hasrat besarnya untuk kembali ke performa terbaiknya. Dua yang perlu digarisbawahi dari penampilan Alexis sejauh ini: rasa laparnya untuk mencetak gol dan kontribusinya bagi rekan-rekan setim untuk bisa mengoyak gawang seteru.
Media, dalam beberapa kesempatan, kerap mengkritik sikap Alexis di lapangan. Dia diklaim hanya memikirkan kegembiraan pribadinya sendiri bila mencetak gol meski timmnya kalah. Benar atau tidaknya klaim ini, tapi di Inter anggapan yang demikian sepertinya tidak berlaku.
Pelatih Conte boleh berpikir dua kali untuk menghadirkan Edin Dzeko atau Olivier Giroud di lini serang Inter. Mulanya, sang juru taktik ngebet ingin adanya kedalaman dan variasi di lini serang Inter pada musim panas ini ketika Alexis dirundung cedera. Namun, kini Conte bisa menaruh harapan dan kepercayaan di pundak Alexis.
Ambil contoh ketika Inter menghadapi Torino. Betapa vitalnya Lukaku di tim inti sepanjang musim ini, tetapi Conte memutuskan untuk mengistirahatkan bomber andalannya itu lalu memainkan Alexis sejak menit awal. Berduet dengan Lautaro Martinez, Anda bisa menilai sendiri bagaimana performa Alexis di pertandingan itu.
Paolo Rattini/GettyAlexis memang bukan tipe penyerang yang diinginkan Conte, yakni penyerang jangkung dengan postur yang meyakinkan pada diri Giroud, Dzeko, Fernando Llorente atau bahkan Lukaku. Alexis tidak demikian. Namun sikap cerdas yang ditunjukkannya di lapangan dalam beberapa laga terakhir benar-benar mencuri hati Conte. Barangkali, karena alasan ini pula kenapa sang pelatih begitu mencintai Lautaro Martinez.
Alexis yang sesungguhnya memiliki aura yang dapat membangkitkan etos kerja tim, seperti yang ditunjukkannya ketika di Arsenal. Sifat pekerja Alexis pula yang memungkinkan Giroud dan Mesut Ozil meningkat pesat di klub London Utara di masa-masa itu.
Seperti halnya Christian Eriksen dengan status kebintangannya, bagaimana pun Alexis tetap memerlukan waktu untuk mendalami secara utuh pendekatan Conte di Inter.
GettyPemain berusia 31 tahun itu berada pada titik kritis di sisa musim ini setelah menjadi opsi pencetak gol bagi Inter. Sekarang, Conte bisa sedikit tenang ketika Martinez atau Lukaku ditepikan. Tim sudah punya formula yang tepat pada diri Alexis.
Pembicaraan antara kubu Manchester United selaku klub induk Alexis dan Inter terus berlanjut, dengan wacana akan mempermanenkan superstar Cile itu di Giuseppe Meazza. Boleh jadi manajerOle Gunnar Solskjaer diam-diam mengamati performa cemerlang Alexis belakangan in. Statistik menterengnya sejak restart bisa saja jadi alasan kuat kenapa Alexis kembali berada di Old Trafford musim depan.
Masa depan Alexis tetap abu-abu. Tapi satu hal yang pasti, hari ini kita bisa melihat kembali Alexis sebagai seorang pemenang.
