Simon McMenemy menghadirkan hal baru untuk timnas Indonesia, yakni penggunaan formasi 4-4-2 permata dan 3-4-3. Kedua formasi tersebut sebenarnya bukan hal yang lumrah untuk timnas Indonesia.
Selama bertahun-tahun, di bawah arahan berbagai pelatih, Indonesia kerap menggunakan formasi 4-3-3, atau 4-2-3-1. Striker tunggal selalu menjadi prioritas dalam pakem permainan skuat Merah-Putih.
Bahkan untuk level klub, formasi tersebut tidak populer. Dalam dua tahun terakhir, hanya Bhayangkara FC sebagai tim yang mau menggunakan formasi 4-4-2 permata, dan pelatihnya adalah McMenemy.
"Dari pengalaman saya, saya banyak meraih keberhasilan dengan 4-4-2 permata, tapi yang utama adalah ketika saya melihat tipe dari pemain Indonesia. Mereka tidak memiliki striker yang besar dan tinggi, mereka tidak punya pemain belakang yang besar dan tinggi," kata McMenemy.
"Tapi di sini banyak pemain sayap dan gelandang yang sangat-sangat bagus, dan punya kemampuan sangat bagus untuk menguasai bola, bermain operan. Maka ketika kami memiliki bola di pemain tengah, kami bisa terus bermain," sambung eks juru taktik Filipina tersebut.
Menurut McMenemy, sudah semestinya Indonesia menghindari permainan bola panjang dan bola langsung demi mengendalikan permainan. Yang terpenting, pemain bisa tenang dan selalu mendukung ketika dalam keadaan tidak menguasai bola.
"Saya pikir kita tidak terlalu bagus jika bermain bola panjang, atau langsung, maka saya coba mencari formasi dan instruksi yang pas dengan talenta yang dimiliki Indonesia. Saya coba menciptakan identitas, cara bermain yang baru untuk Indonesia, yang bisa dibanggakan dan bisa disaksikan semua orang."
Sementara untuk pakem 3-4-3, yang ia kerap gunakan pada babak kedua pada laga uji coba sepanjang pemusatan latihan, menghadapi Perth Glory dan Bali United, McMenemy merasa formasi itu sangat mudah dijalankan. Dan lagi, punya fleksibilitas tinggi.
"Ini lebih pada fleksibilitas, yang bisa membuka pemain sayap kami turun ketika bertahan, dan juga bisa membantu ketika bermain tinggi dan menekan. Ini merupakan formasi yang fleksibel."
"Untuk beberapa pemain mereka butuh adaptasi dengan sangat cepat, tapi untuk gelandang sangat nyaman, untuk depan mudah karena mereka biasa bermain dengan tiga pemain depan."
"Jadi saya hanya coba memainkan formasi yang fleksibel dan pas, saya rasa dari 3-4-3 akan sangat mudah menjadi 5-4-1, jadi akan mudah ketika kami bermain bertahan atau bermain menyerang."
Kiprah Indonesia di bawah McMenemy bisa mulai dilihat pada laga internasional 25 Maret nanti, di Mandalay, kontra Myanmar. Berkekuatan 22 pemain, Indonesia membawa skuat campuran dengan nama-nama yang dirindukan berseragam Garuda, seperti Greg Nwokolo, hingga Rahmat Syamsuddin.

