Berita Live Scores
Bundesliga

Akademi Klub Jerman Yang Bukan Hanya Menciptakan Pesepakbola

19.00 WIB 18/04/18
Farabi Firdausy Tur Bayer Leverkusen Bundesliga
Tak semua bocah yang menghabiskan hampir setengah harinya di akademi sepakbola akan sukses menjadi pesepakbola profesional.

OLEH    FARABI FIRDAUSY      DARI       LEVERKUSEN

Goal Indonesia  memenuhi undangan dari Bundesliga untuk mengunjungi akademi milik Bayer Leverkusen, di situ terdapat sosok Peter Quast yang sangat ramah dan merupakan instruktur dari akademi milik  Die Werkself .

Saat itu sedang berlangsung laga antara Leverkusen U-12 melawan Borussia Dortmund U-12, tapi kami hanya melihat partai itu secara sekilas dan Peter mengajak rombongan jurnalis dari Asia Tenggara mengelilingi akademi.

Terdapat plakat di dinding yang tercantum nama-nama pemain jebolan akademi Leverkusen, sebut saja Landon Donovan, René Adler, Kevin Kampl hingga Kai Havertz yang saat ini tengah menjadi bintang muda dari Leverkusen.

Terdapat tim U-8 sampai U-18 yang merupakan piramida pembinaan dari Leverkusen, sekitar 120 pemain muda saat ini terus diolah sebagai aset masa depan klub. Akademi tersebut merupakan salah satu yang terbaik di Jerman.

Mereka memiliki lima bintang penghargaan dari DFB (federasi sepakbola Jerman), hal yang sudah pasti membanggakan. "Akademi ini mungkin yang paling biasa dan kecil di Jerman, tapi kami salah satu yang terbaik," ucap Peter.

Mendengar kalimat bahwa akademi milik Leverkusen merupakan yang paling 'biasa' di Jerman rasanya sangat mengganggu, karena bagaimana pun terlihat sangat bagus dan lengkap secara fasilitas untuk sebuah tim sepakbola senior.

Memang Leverkusen tidak memiliki alat-alat canggih di akademi mereka seperti layaknya Borussia Dortmund (klub dengan akademi sepakbola terbaik di Jerman), namun mereka mampu mencetak pemain berkualitas dengan biaya hemat.

"Kami tidak akan membeli pemain dengan usia muda hingga harus mengeluarkan jutaan euro. Mungkin 200 ribu hingga 2 juta euro untuk seorang pemain usia muda [di akademi] adalah batas kewajaran kami," ucap Peter.

Leroy Sané -- salah satu produk binaan akademi Leverkusen

Ia menjelaskan, bahwa Leverkusen hanya akan memburu bakat dengan radius maksimal 60 kilometer dari akademi mereka. Selebihnya datang dari negara lain karena dibawa orangtua mereka, terkecuali untuk U-18. Sekitar 5 juta euro diinvestasikan Leverkusen tiap tahunnya untuk akademi.

Akademi di Jerman tak melulu soal sepakbola dan menekan pemain binaan mereka untuk mahir di lapangan hijau. Ada pedoman bahwa  school first before football , yang artinya bahwa urusan sekolah tetap harus jadi nomor satu.

Hal itu nampak jelas dari sudut ruangan kecil di akademi Leverkusen, di situ seperti ruang untuk pemain belajar berkomunikasi dengan media dan mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah sebelum mulai berlatih. Leverkusen menyediakan guru untuk membantu pemain akademi mereka mengerjakan PR dan membahas urusan akademis sekolah.

"Jam 2 pagi semua sudah bekerja, ada supir yang akan menjemput anak-anak akademi untuk mengantar mereka ke sekolah, kemudian menjemput mereka untuk langsung ke tempat latihan. Mereka lebih dulu mengerjakan tugas sekolah, belajar, baru memulai latihan dan semua kegiatan selesai pada jam 5 sampai 6," ucap Peter.

Akademi harus memerhatikan anak-anak mereka, kegiatan di luar lapangan dan soal urusan sekolah dipantau oleh pihak Leverkusen. Ketika berbincang dengan Maurice Görges, direktur marketing dan komunikasi Bundesliga untuk Asia Pasifik, semua berkomitmen untuk mencegah pemain tak punya bekal lain di luar sepakbola.

"Tidak semuanya bisa menjadi pemain profesional Bundesliga, memang jika hanya main di kompetisi ketiga atau keempat cukup saja untuk membeli mobil. Tapi, sekolah yang pertama lalu sepakbola. Kami juga tidak mau pemain sampai bangkrut ketika mereka sudah pensiun karena kurang pendidikan dan tidak tahu berinvestasi," urainya.

Dengan padatnya kegiatan untuk usia anak akademi di luar sepakbola, sudah jelas bahwa pihak klub juga mengajarkan aset mereka untuk disiplin segala hal dan tidak lupa urusan sekolah. Akademi juga mengajarkan cara beretika dan berkomunikasi sejak dini. Hal seperti ini menegaskan bahwa sepakbola juga sebuah komitmen, karena memonitor anak sejak usia delapan tahun hingga nanti bisa menjadi pemain profesional bukan hal mudah.

LIMA ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. Gennaro Gattuso: Saya Bisa Lebih Murka Dari Gianluigi Buffon!
2. Diego Maradona: Jelas, Bukan Penalti!
3. Zinedine Zidane: Orang-Orang Iri Pada Real Madrid
4. 39 Laga Tanpa Kalah, Barcelona Pecahkan Rekor La Liga
5. (Sepakbola) Jerman Yang Tidak Henti Bikin Kagum