Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
ajaxOverig
Diterjemahkan oleh

Ajax Diperingatkan untuk Mewaspadai Hajduk Split, Tim yang Sangat Tangguh di Kandang

Ajax musim ini tidak tampil di Liga Champions, bahkan Liga Europa, melainkan di fase liga Conference League. Persinggahan pertama mereka adalah Kroasia, dengan Hajduk Split menjadi lawan tim asuhan pelatih Míchel pada Kamis. Ajax mengalahkan klub papan atas Kroasia itu di perempat-final pada 1995 dalam perjalanan menuju gelar Liga Champions yang tersohor. Bagaimana kondisi Hajduk Split lebih dari 30 tahun kemudian? Voetbalzone menanyakannya kepada jurnalis Frane Marsic, yang mengikuti perkembangan klub tersebut secara dekat untuk Jutarnji. 

Oleh Rian Rosendaal

"Marin Soticek, Michele Sego, dan Abdoulie Sanyang sedang berada dalam performa terbaik. Lalu, tentu saja ada Marko Livaja, yang dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi ikon kota ini dan para pendukung fanatik Hajduk," kata Marsic saat menjawab pertanyaan tentang pemain yang harus mendapat perhatian khusus dari Ajax pada Kamis di Kroasia. Livaja, penyerang tengah berusia 33 tahun, mengalami cedera hamstring pada akhir September dan terpaksa melewatkan pertemuan di Conference League tersebut.

Nama yang dikenal di Belanda

Pelatih Hajduk bukan nama asing di Belanda. Gonzalo Manuel García García (43) menangani lawan Ajax itu sejak 2025. Hajduk saat ini memuncaki klasemen 1. HNL Kroasia. Mantan gelandang sekaligus penyerang asal Uruguay tersebut pernah bermain untuk AGOVV Apeldoorn, SC Heerenveen, Heracles Almelo, FC Groningen, dan VVV-Venlo. Setelah itu, ia sempat menjalani periode singkat di FC Twente sebagai asisten pelatih dan pelatih kepala. "Ia menyukai gaya bermain modern yang bertumpu pada etos kerja tinggi, agresivitas, dan intensitas, disertai niat menyerang serta fokus mencetak lebih banyak gol daripada lawan."

Hajduk Split's fans use flares during thGetty Images

García bertugas membawa Hajduk meraih kesuksesan di Eropa musim ini. Namun, Marsic menekankan bahwa perjalanan di Conference League bukan prioritas tertinggi di Split dan sekitarnya. "Di sini ada harapan tim meraih tujuh atau delapan poin di fase liga. Jumlah itu biasanya cukup untuk finis di antara 24 tim teratas dan lolos ke babak berikutnya. Namun, pendekatannya adalah menjalani satu pertandingan demi satu pertandingan. Masih terlalu dini untuk membuat prediksi serius mengenai laga-laga di Eropa."

Hajduk hanya sedikit merasakan kegembiraan di pentas Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Marsic menyaksikan klub papan atas itu tersingkir pada putaran ketiga kualifikasi Conference League musim lalu. "Dalam beberapa tahun terakhir, Hajduk mengalami banyak kegagalan tak terduga di Eropa dan sejumlah kemunduran. Klub ini tersingkir oleh lawan-lawan yang lebih lemah, tetapi musim ini akhirnya berhasil lolos ke Conference League, memastikan diri tampil di kompetisi Eropa pada musim gugur untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun, dan berhasil menghapus banyak cap negatif yang melekat pada klub."

Bikin kejutan melawan Ajax?

Nama besar Ajax akan bertandang pada Kamis ke Split, kota yang begitu menggilai sepakbola. "Pertandingan melawan Ajax mungkin merupakan laga terpenting dalam sejarah modern klub. Sebuah pertunjukan besar diperkirakan tersaji di Poljud. Semua orang menyadari Ajax lebih kuat di atas kertas, tetapi ada keyakinan kuat bahwa Hajduk bisa meraih hasil bagus di Poljud, di hadapan 35.000 penonton dalam stadion yang tiketnya terjual habis. Itu berarti meraih setidaknya satu poin, atau lebih baik lagi ketiga poin. Jika ada kesempatan, Hajduk akan mengerahkan segalanya untuk membuat kejutan," ujar Marsic sebagai peringatan bagi para pemain Ajax.

Livaja Imago

Poljud yang ikonis, dibuka pada 1979, juga menjadi tempat berlangsungnya laga Hajduk Split melawan Ajax pada musim semi 1995, yakni leg pertama perempat-final Liga Champions. Penonton yang hadir malam itu tidak menyaksikan gol. Pada leg kedua, Ajax menang 3-0 dan melaju ke semifinal kompetisi tersebut dengan cukup mudah. "Generasi pendukung Hajduk yang lebih tua mengenang pertemuan dengan Ajax pada 1995, sementara generasi yang lebih muda ingin pertandingan ini menjadi bagian dari babak baru dalam sejarah klub," jelas jurnalis yang mengikuti Hajduk tersebut. "Di Split, laga ini dipandang sebagai kesempatan ideal untuk membalas kekalahan dari Ajax."

Lebih dari tiga dekade kemudian, situasinya sangat berbeda. Kali ini bukan laga besar di Liga Champions, melainkan pertemuan di kompetisi kasta ketiga Eropa. Meski demikian, kedatangan Ajax ramai dibicarakan di kalangan sepakbola Kroasia. "Semua orang tahu betapa besarnya Ajax. Ini mungkin sudah menjadi pertandingan terpenting Hajduk musim ini. Namun, semua orang juga tahu bahwa dalam beberapa tahun terakhir Ajax memiliki skuad yang lebih kuat dan lebih berbakat. Ajax masih menjadi favorit, tetapi Hajduk tentu mengincar kejutan di kandang. Lagi pula, mereka belum pernah kalah dalam satu pertandingan pun di stadion sendiri musim ini," kata Marsic, yang menyaksikan Hajduk menang 2-1 atas rival perebutan gelar Dinamo Zagreb pada Sabtu lalu.

Dolberg absen di Split

Pertahanan Hajduk tidak perlu mewaspadai Kasper Dolberg pada Kamis. Cedera lutut parah tampaknya membuat musim penyerang asal Denmark itu berakhir lebih cepat. Dalam situasi normal, Tolu Arokodare akan memimpin lini serang di Split. "Absennya Dolberg tidak banyak mengubah penilaian Hajduk terhadap kekuatan Ajax karena tim asal Amsterdam itu masih memiliki pemain seperti Adingra, Arokodare, dan Amrabat," kata Marsic mengenai ketidakhadiran penyerang Denmark tersebut. "Dinamo Zagreb juga memiliki skuad yang lebih kuat di atas kertas, tetapi Hajduk tetap mampu mengejutkan mereka pada Sabtu. Mereka akan melakukan segala upaya untuk mengulangi hasil itu melawan Ajax di Poljud."

Hajduk Imago

Ajax dan Hajduk sebenarnya tidak memiliki banyak sejarah pertemuan di kompetisi Eropa. Pada musim legendaris 1994/95, ketika klub asal Amsterdam itu meraih gelar liga tanpa terkalahkan, lawan asal Kroasia tersebut disingkirkan di perempat-final Liga Champions. Semusim sebelumnya, pada 1993/94, Ajax kalah 1-0 di Split pada putaran pertama Piala Winners. Hasil itu ternyata hanya kemunduran sesaat karena tim asuhan Louis van Gaal menang telak 6-0 di Stadion Olimpiade. 

Bagaimanapun, ini adalah pekan yang bisa disebut sebagai ujian sesungguhnya bagi para pemain dan pendukung Hajduk. Tiga hari setelah kunjungan Ajax ke Split, mereka akan menghadapi NK Varazdin, yang saat ini menempati peringkat kedua liga Kroasia. Hasrat untuk meraih kesuksesan di kompetisi domestik sangat besar karena Hajduk terakhir kali menjuarai liga pada 2005, atau 21 tahun lalu. Sebagai perbandingan, rival bebuyutan mereka, Dinamo Zagreb, telah meraih gelar liga sebanyak sembilan belas kali sejak saat itu. García pun bisa mengukir namanya dalam sejarah Si Putih musim ini. 

SUKA CERITA INI?

Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

Ikuti GOAL di Google