Ada dua tempat yang bikin David Silva merasa paling bahagia - di pulau asalnya, Gran Canaria, dan di lapangan sepakbola.
Suporter Manchester City merasa beruntung karena selama satu dekade terakhir dia rela menukar ‘surga’ sinar matahari dengan hujan dan kesuraman di barat laut Inggris.
Tapi, setelah sepuluh tahun yang gemilang, El Mago telah mempertontonkan trik terakhirnya dengan seragam City.
Silva meninggalkan klub sebagai pemain tersukses dalam sejarah setelah memenangkan empat gelar Liga Primer, dua Piala FA, lima Piala Liga, dan tiga Community Shield. Bagi banyak orang, dia pergi sebagai pemain terhebat yang pernah mewakili City.
Proyek ambisius City memiliki tujuan akhir yakni menjadi klub terbaik di dunia, dan selama periode kesuksesan besar mereka, Silva tetap konsisten - menjadi pemimpin misi itu dari depan dengan kecemerlangan yang ia peragakan.
Tidak ada sikap kurang ajar atau basa-basi dari sosok mungil asal Spanyol itu. Silva muncul di Etihad Stadium, menjalankan pertandingan hampir setiap minggu, dan kemudian pulang dengan hampir tidak ada keributan.
"Saya telah mencoba melakukan yang terbaik," kata Silva kepada DAZN dengan kerendahan hatinya yang khas. “Saya memiliki statistik yang bagus, tetapi ada juga semangat yang kami miliki di tim. Terima kasih kepada Tuhan untuk spirit bagusnya karena jika tidak, saya tidak akan berada di sini selama sepuluh tahun.
“Mengingat ini adalah proyek yang sangat melelahkan, jika Anda tidak melakukannya dengan baik, mereka akan membawa orang baru dan Anda akan keluar.
"Berada di sini selama sepuluh tahun tidak mudah. Saya bangga. Berada di negara lain, dan di liga kompetitif, menjadi pemain yang paling banyak bermain di sini, saya bangga."
Bagi yang rutin menonton Silva, kemampuannya terlihat jelas. Dia memiliki keseimbangan seperti balet, sentuhan halus, visi luar biasa dan kemampuan untuk membaca apa yang terjadi dalam pertandingan dan mendikte ritme.
Dia juga seorang pejuang dengan keberanian untuk mengambil tanggung jawab dan memimpin dari depan, baik itu dalam pertandingan besar atau pertandingan ketat melawan klub yang bermain bertahan.
“Dia tidak diragukan lagi salah satu pemain terbaik dalam sejarah Manchester City, jika bukan yang terbaik, dan salah satu gelandang terbaik yang pernah ada di Liga Primer,” kata legenda City Paul Dickov kepada Goal .
“Bagaimana dia menempatkan dirinya sendiri di dalam dan di luar lapangan, dia adalah profesional di tingkat tertinggi dan tidak memiliki kekurangan kualitas dalam apa yang dia lakukan.”
Kualitas Silva tidak selalu dapat diukur meskipun ada statistik yang mendukung pengaruhnya.
Dia telah memberikan 94 assist dan menciptakan 797 peluang selama waktunya di Liga Primer - lebih banyak dari pemain lain sejak 2010.
Namun, agak aneh, dia hanya masuk dua kali di PFA Team of the Season dan hanya sekali memenangkan penghargaan Player of the Month.
Jika ada kritik yang bisa ditujukan padanya, itu adalah soal dia yang belum memiliki momen menentukan yang sering dikaitkan dengan pemain hebat.
Semua legenda City dalam beberapa tahun terakhir memiliki milik momen menentukan mereka sendiri.
Yaya Toure mencetak sejumlah gol mengesankan di final piala domestik. Sergio Aguero mencetak gol kemenangan pada menit ke-94 yang tak terlupakan pada 2012. Vincent Kompany berdiri untuk mencetak gol kemenangan penting melawan Manchester United dan Leicester City untuk memastikan kesuksesan gelar pada 2012 dan 2019. Bahkan penjaga gawang Joe Hart memiliki penampilan yang luar biasa, terutama dengan kepahlawanannya saat kalah dari Barcelona pada 2015.
Dia sama briliannya seperti semua pemain itu, namun sosok berusia 34 tahun itu membuat penampilan lebih banyak daripada pemain City mana pun dalam 40 tahun terakhir.
"Ini adalah keberlangsungan kariernya yang panjang dan dia melakukannya selama bertahun-tahun," tambah Dickov. "Ada beberapa pemain asing kelas dunia yang fantastis, tetapi melakukannya secara konsisten seperti dia berada di klub adalah hal spesial. Ketika dia bermain, dia biasanya adalah pemain terbaik, atau tidak jauh dari itu.
“Saya suka menonton dia dan berbicara dengan para pemain yang pernah bermain dengannya atau bersamanya, kualitas yang mereka miliki dan mereka sangat memuji dia. Itu tidak hanya soal apa yang dia lakukan di hari pertandingan, tapi dalam latihan dan bagaimana dirinya sebagai manusia menerangkan semuanya.”
Kecemerlangan Silva dibangun di atas kemampuannya untuk memberikan pengaruh yang berkelanjutan di setiap 436 penampilannya untuk City.
"Kami telah memenangkan banyak gelar dalam sepuluh tahun ini, dan cara kami bermain, sebenarnya waktu saya sangat positif," kata Silva. "Bagi saya, kami sempurna.
Getty Images"Ketika saya tiba, saya tidak berpikir saya akan berada di sini untuk waktu yang lama. Selain sepakbola, trofi, semuanya, saya akan mengingat cinta orang-orang, dan itu merupakan hal terpenting.”
Kisahnya Menuju Etihad
Adalah di musim panas 2010 City akhirnya mendapatkan tanda tangan Silva.
Dia tiba di Bandara Manchester dengan kondisi mabuk setelah menghabiskan 24 jam sebelumnya merayakan kemenangan pertama dan satu-satunya negaranya di Piala Dunia Afrika Selatan.
City waktu itu baru saja lolos ke Eropa untuk pertama kalinya dalam 32 tahun dan siap untuk memulai gebrakan di bawah investasi pemilik baru Sheikh Mansour.
Klub itu telah berubah dari tim papan tengah bawah berkinerja buruk menjadi penantang empat teratas dalam waktu yang relatif singkat. Misi berikutnya adalah memenangkan trofi dan melawan dominasi Manchester United, yang membuat Sir Alex Ferguson kesal dengan “si tetangga berisik".
Ferguson sendiri pernah mempertimbangkan untuk membawa Silva ke Old Trafford, tetapi memutuskan dia adalah pemain mahal - tipikal No.10 yang tidak akan menjalankan tugas defensifnya.
Itu adalah kesalahan penilaian yang mengerikan.
Silva itu punya kualitas spesifik. Terlepas dari kemungilannya, dia adalah seorang pejuang, dengan mantan pelatih Spanyol Luis Aragones pernah mengatakan bahwa Silva memiliki “biji terbesar" dari siapa pun di skuadnya.
Setelah bermain sepakbola di masa-masa awal sekolahnya, dia mengalami pengalaman menyakitkan meninggalkan desa nelayan Canariannya, Arguineguin, dengan air mata saat berusia 14 tahun untuk melanjutkan kariernya di Valencia.
Ibunya akhirnya bergabung dengannya di daratan Spanyol, tetapi itu adalah pengalaman yang sulit secara mental.
Meski begitu Silva membuat kemajuan yang baik dengan Los Che dan tim junior Spanyol, ia kemudian dipinjamkan ke klub Divisi Segunda Eibar, yang memiliki reputasi gaya bermain yang lebih brutal dan sederhana. Silva tidak mengabaikan tantangan itu.
“Dia belajar untuk terjebak selama sesi latihan,” kenang mantan pelatihnya, Jose Luis Mendilibar. "Dan menuru saya dia salah satu yang paling keras, atau sedikit b*jingan, saat dia berlatih."
Setelah peminjaman satu musim yang sukses bersama Celta Vigo dan membuktikan dirinya di Mestalla, banyak klub besar yang tertarik.
Selain United, Real Madrid hampir menyelesaikan kepindahannya tetapi, ketika Jose Mourinho mengambil alih, pelatih asal Portugal itu mencabut transfer tersebut.
Pelatih Valencia saat itu, Unai Emery, bahkan memberi tahu Pep Guardiola di Barcelona bahwa Silva akan pergi, tetapi juru taktik Barca itu bersikeras bahwa Blaugrana tidak mampu membelinya.
Tetap saja, membawanya ke Etihad tidaklah mudah. City hampir mengontrak Silva dan Toure, tetapi tidak ada yang akan menyelesaikan kepindahan itu sampai ada yang mengawali. Akhirnya, klub mendapat kedua kesepakatan itu, dan Silva tidak pernah menoleh ke belakang.
Jauh dari pengawasan ketat jika dia bergabung ke salah satu raksasa Spanyol, Silva menemukan rumahnya yang sempurna dan mampu menjadi superstar untuk negaranya, membuat 125 penampilan - keenam dalam daftar sepanjang masa Spanyol - mencetak 35 gol dan mencatatkan 28 assists, dengan ia hanya kalah jumlah assist dari Cesc Fabregas dalam sejarah La Roja.
"Ini adalah salah satu keputusan terbaik dalam karier saya karena saya benar-benar menikmatinya," kata Silva. "Baik saya dan keluarga saya sangat menikmatinya."
Agueroooooo!!!!!
Ada beberapa tanda mengkhawatirkan bahwa prediksi Ferguson mungkin terbukti benar pada masa-masa awal Silva di Inggris.
Pengatur serangan mungil mungkin tidak akan pernah benar-benar berhasil di Inggris, dengan kesuksesan United dan Arsenal di awal abad ke-21 dibangun atas dasar kecepatan dan kekuatan, bukannya umpan pendek nan tajam yang sebelumnya membawa Barcelona asuhan Guardiiola ke level yang lebih tinggi di Spanyol dan di benua itu.
Pada debutnya di White Hart Lane, Silva dengan mudah disingkirkan oleh fisik pemain Tottenham Hotspur, dan ada ketakutan prematur bahwa dia terlalu kecil untuk sepakbola Inggris.
Dengan para pakar yang secara reguler salah memanggilnya David Villa, mantan rekan setimnya di Valencia yang pergi ke Barca di musim panas yang sama, ada kekhawatiran dia bisa menjadi kegagalan mahal.
Waktu itu sore yang dingin dan membekukan di bulan ketiga memasuki musim, dan kejadian itu mengubah segalanya.
Dengan City kesulitan melawan Blackpool yang baru saja promosi, Silva masuk dari bangku cadangan untuk memberi umpan kepada Carlos Tevez untuk gol pembuka sebelum mencetak gol telat yang indah - melakukan dua dummy yang keterlaluan sebelum melakukan tendangan melengkung ke sudut bawah.
Keyakinan dan pengaruhnya tumbuh, dan pada Mei berikutnya City mengakhiri penantian 35 tahun mereka untuk trofi ketika mengangkat Piala FA.
Namun, ada sesuatu yang hilang ketika City hendak menantang gelar Liga Primer.
Pada Agustus 2011, itu terjawab ketika Sergio Aguero bergabung dari Atletico Madrid. Silva dan Aguero melakukan telepati instan, meskipun anehnya pemain Argentina itulah yang mengatur rekan setim barunya untuk mencetak gol pada debutnya dalam kemenangan 4-0 atas Swansea City.

Sembilan tahun kemudian, keduanya menempati peringkat kedua untuk kombinasi gol-assist terbanyak dalam sejarah Liga Primer dengan 21 gol, hanya kalah tiga gol di belakang duo Chelsea Frank Lampard dan Didier Drogba.
“Kami telah bermain bersama untuk waktu yang lama,” kata Silva. “Bahwa ada hubungan yang bagus karena itu artinya kami telah mencetak banyak gol, yang pada akhirnya bagus untuk tim.”
Musim itu juga mungkin menjadi momen paling ikonik Silva daam balutan seragam biru: kontrol yang halus dan tendangan volinya ke jalur Edin Dzeko sebagaimana City mengalahkan United di Old Trafford lewat skor 6-1.
Tentu saja, City membutuhkan momen Aguero yang terkenal di detik-detik terakhir musim itu untuk mengamankan gelar pertama. Silva hanya berjarak dua meter dari Aguero saat dia melepaskan tembakan melewati kiper QPR Paddy Kenny dan menjadi orang pertama yang mengejarnya saat dia meluncur berselebrasi dengan gila.
"Ya, itu adalah pertandingan yang gila," kenangnya. "Kami mulai menang, kemudian mereka bangkit dan pada akhirnya kami mencetak dua gol di menit-menit terakhir.
“Itu akan menjadi sejarah. Terkadang sepakbola melakukan keadilan. Kami melakukan musim yang baik saat itu dan kami memenangkannya di menit-menit terakhir.
“Saat Anda berada dalam permainan, Anda begitu terlibat sehingga Anda tidak berpikir. Orang-orang berpikir bahwa kami memikirkan segalanya tetapi tidak. Kami sangat fokus sehingga kami bahkan tidak melihat suporter.
“Anda lihat bola, pergerakan rekan satu tim Anda, dan saya memikirkan saat itu bahwa kami harus melakukan yang terbaik.”
Silva ikut dalam pesta yang berlangsung hingga dini hari, dan di sana terdapat para penggemar City yang berstatus selebriti termasuk petinju Ricky Hatton dan bintang rock Liam Gallagher yang turut meramaikan bersama para pemain.
Setelah melakukan parade di bus dengan mata sayu melintasi kota, Silva menuju ke Euro di Polandia dan Ukraina. Musim panasnya menjadi lebih baik ketika dia mencetak gol pembuka di final, yakni kemenangan 4-0 atas Italia.
Pemimpin Pendiam
Final Piala Liga 2016 menandai titik tertinggi dari musim yang sebagian besar mengecewakan. Guardiola telah diumumkan sebagai penerus Manuel Pellegrini pada awal Februari dan City waktu itu kesulitan untuk mengejar gelar liga.
Bagaiamana pun, pelatih Chile itu sanggup meraih trofi ketiganya dalam tiga tahun ketika City mengalahkan Liverpool di Wembley lewat adu penalti.
Saat para pemain City merayakan kemenangan di ruang ganti di bagian dalam stadion, Silva bertanya kepada rekan setimnya dari Spanyol, Manu Garcia, apakah dia telah diberi medali pemenang.
Pemain muda akademi itu telah bermain dalam dua pertandingan dalam perjalanan ke final tetapi tidak masuk dalam skuad yang terdiri dari 18 pemain untuk final.
“Saya berkata 'tidak' dan dia segera melepasnya dan memberikannya kepada saya. Jadi itu luar biasa,” ungkap Garcia.
Silva selalu berusaha untuk membuat pemain bertalenta merasa nyaman di lingkungan tim utama yang mengesankan di City, dengan sejumlah pemain muda klub tumbuh mengidolakan superstar lini tengah tersebut.
Baik itu Garcia, sesama pemain Spanyol Brahim Diaz atau duo kelahiran Manchester Phil Foden dan Tommy Doyle, Silva menyambut mereka sebagai orang yang sederajat selagi menetapkan standar yang diperlukan untuk sukses di sepakbola profesional.
Pelatihnya mengakui bahwa dia tidak pernah terlambat untuk latihan dan menjaga tubuhnya dengan sesi yoga tambahan sambil berhati-hati dengan masalah pergelangan kaki yang telah ia alami selama bertahun-tahun.
Itu juga menjadi hal paling menonjol bagi para pemain senior di skuad dan itulah sebabnya, ketika Guardiola melakukan polling kepada para pemain tentang siapa yang harus menjadi kapten klub setelah kepergian Kompany, Silva dipilih.
Dia mungkin bukan yang paling keras atau paling blak-blakan di depan umum, tetapi secara pribadi dan di ruang ganti Silva efektif untuk menyampaikan pesannya, memimpin dengan memberi contoh lewat kerja keras dan keyakinan.
“Beberapa orang adalah pemimpin yang banyak berteriak dan berbicara dan yang lainnya punya cara sendiri, memberi contoh,” kata Guardiola.
Kevin De Bruyne, yang besar kemungkinan akan menggantikannya sebagai kapten, berkata: "David sangat rendah hati tetapi ketika dia berbicara, semua orang mendengarkan. Saya pikir setiap orang memiliki tipe kepemimpinannya sendiri dan saya pikir dia adalah seseorang yang mencoba mengendalikannya dan mungkin melakukannya dengan cara yang lebih senyap.”
Tentu saja, salah satu kelemahan seorang introvert yang dijadikan kapten adalah Anda dipaksa menjadi pusat perhatian untuk meraih momen-momen kejayaan. Kompany senang menjadi pemimpin klub, tetapi Silva jauh kurang nyaman.
Setelah kemenangan Piala Liga 2020, ia harus dibujuk untuk menerima trofi, dengan beberapa rekan satu timnya menikmati kegelisahannya itu.
“Dia memiliki satu hal, yang merupakan impian terbesar setiap pesepakbola, yaitu rasa hormat dari rekan-rekannya, dari rekan satu timnya, dari para pesaingnya, dari mantan manajer dan manajer saingannya juga. Dia telah mendapatkannya,” kata Guardiola.
“Menurut saya ini adalah impian terbesar setiap olahragawan, mendapatkan pengakuan dari orang-orang seperti Anda, bukan dari orang lain yang tidak terlalu mengerti.
“Ada banyak orang yang mendapat pengakuan besar di luar sana, tapi di dalam ruang ganti tidak ada pengakuan dari rekan satu tim mereka. David justru sebaliknya. Saya pikir ini adalah warisan terbaik.”
Era Guardiola
Meski Silva bersinar di bawah Roberto Mancini dan Pellegrini, Guardiola-lah yang membawa City dan maestro kecil itu ke level yang lebih tinggi.
Guardioa mengubah City menjadi tim unggulan di Inggris dengan jenis sepakbola dominan yang belum pernah disaksikan Liga Primer sebelumnya. City meraih gelar dengan rekor 100 poin pada musim 2017/18, dan Silva berada di barisan terdepan.
Guardiola mengambil risiko dengan garis tinggi dan hanya satu gelandang bertahan di belakang Silva dan Kevin De Bruyne, yang pada gilirannya beroperasi dalam peran bebas tepat di belakang tiga penyerang tetapi dengan tugas memenangkan bola kembali.
Orang-orang yang dekat dengannya mengatakan bahwa Silva diberi energi baru dengan peran menyerang yang lebih maju sementara urgensi untuk memenangkan bola kembali berperan dalam keuletannya yang kurang teramati.
"Sekarang saya lebih banyak melakukan kontak dengan bola daripada saat saya bermain sebagai pemain sayap," katanya. “Saya merasa sangat nyaman, sungguh.
“[Guardiola] meningkatkan tim dalam segala hal, dari penjaga gawang hingga penyerang, yang membuat tim ini berkembang.”
Jauh di luar lapangan, kompatriot asal Spanyol itu berbagi ikatan khusus setelah melewati situasi putus asa terkait sisi kemanusiaan.
Musim 'Centurions' Silva hancur pada awal Desember ketika putranya Matteo lahir sangat prematur di Valencia dan harus berjuang untuk hidupnya sendiri.

Respons cepat Guardiola adalah membiarkan pemainnya itu memilih apa yang ingin dia lakukan, pulang dan pergi antara Manchester dan Spanyol sebanyak yang dia inginkan.
Dia melewatkan pertandingan melawan Spurs, dan ketika De Bruyne mencetak gol kedua, pemain Belgia itu mencari kamera TV dan membuat nomor dua dan satu dengan jari-jarinya untuk menunjukkan cinta ruang ganti kepada rekan satu tim mereka yang absen.
Sebelum kick-off, Guardiola telah menyampaikan pesan yang menggema sementara keseriusan situasinya dirahasiakan dari publik.
“Hari ini Anda harus menang karena satu alasan. Kita harus menang demi David Silva dan pacarnya Jessica. Dia sangat menderita,, kata Guardiola kepada para pemainnya.
“Ketika Anda pergi ke lapangan, Anda harus menikmati, menikmatinya untuk dia. Dan jika Anda pergi ke sana dan kita menderita, menderita untuknya. Dan ingat situasinya. Hari ini saya ingin menang untuk David Silva dan pacarnya serta keluarganya. Apakah itu jelas?"
Manajer City itu tahu bahwa Silva bisa melepaskan diri dari rasa sakit dan kecemasan di lapangan, dan luar biasanya dia bermain 18 kali antara tanggal kelahiran Matteo dan hari ketika dia diizinkan pulang dari rumah sakit pada Mei.
Sepanjang waktu dia terus bolak-balik antarnegara, melarikan diri ke lapangan dan memeriksa teleponnya untuk mengetahui situasi terkini setelah kembali ke ruang ganti.
Dengan gelar yang sudah di tangan, dia melewatkan pertandingan terakhir musim tersebut dan perayaan parade pada Mei yang gemilang di Manchester.
Selagi lebih dari 100.000 suporter turun ke jalan untuk berterima kasih kepada pahlawan mereka atas kampanye yang tak terlupakan, Silva-lah yang kembali menjadi bintang dengan video pendek yang difilmkan di ponselnya dan ditampilkan di layar raksasa.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada fans, rekan satu tim, staf, klub dan terutama kepada manajer karena telah memahami situasi saya,” ucapnya sambil menggendong putranya. “Anda adalah pribadi top.”
Getty ImagesPerpisahan Terakhir
Antara Spanyol dan City, Silva telah memenangkan semua medali yang tersedia. Semua kecuali satu - Liga Champions.
Tendangan terakhir Silva untuk klub adalah mengejar bagian yang hilang dalam teka-teki tersebut, yang tentu akan menjadi penyelesaian sempurna jika dia mengangkat trofi di Lisbon.
Namun itu tidak terjadi. Karier City-nya berakhir dalam enam menit cameo saat kalah telak 3-1 dari klub Prancis Lyon.
Dia pernah mengakui bahwa dia bermimpi untuk memenangkan kompetisi Eropa, tetapi selain semi-final 2016 ketika taktik pertahanan Pellegrini gagal secara serius mengancam Real Madrid, dia tidak pernah mendekati seperti yang dia atau klub inginkan.
Mimpi itu tetap tidak terpenuhi, dan sekarang dia memulai petualangan baru dengan Real Sociedad. Ini adalah penghargaannya bahwa dia telah memilih liga top Eropa, dengan keinginannya untuk memenangkan trofi masih membara.
Namun, wabah Covid-19 telah merampas emosi yang dia dapatkan dalam penampilan terakhirnya di Stadion Etihad.
Penggemar City bahkan mencoba mengadakan ‘guard of honour’ untuk bus tim City menjelang pertandingan Liga Champions melawan Real Madrid pada Agustus, tetapi itu digagalkan oleh polisi karena alasan keamanan.
"Sungguh disayangkan bahwa David tidak akan bisa mengucapkan selamat tinggal, juga bagi para penggemar untuk menunjukkan penghargaan mereka padanya dan mengucapkan terima kasih atas waktu yang dihabiskan di sini karena dia fenomenal dan juga orang yang fenomenal," kata Dickov.
"Mereka tidak pernah lupa dan mereka ingin memberikan sang pemain perpisahan terbaik yang mereka bisa. Sayang sekali bahwa itu tidak akan terjadi setelah dia memainkan pertandingan terakhirnya."
Dalam hal ini, itu adalah pelepasan yang ideal bagi Silva yang punya sifat pemalu dan pendiam sebagaimana dia pergi dengan sedikit keributan.
Untuk penampilan terakhirnya di Liga Primer, Silva diganti pada menit ke-85 dalam kemenangan 5-0 atas Norwich City dan dipeluk oleh rekan setimnya sebelum meninggalkan lapangan, bertepuk tangan di empat sudut lapangan kosong dalam prosesnya.
Kembali ke ruang ganti, Silva menerima telepon dari pimpinan klub Khaldoon Al-Mubarak, yang mengucapkan terima kasih atas jasanya.
Seperti Kompany sebelumnya, telah dipastikan bahwa sebuah patung untuk Silva akan dibangun di luar Etihad guna mengingat prestasinya bersama City, sementara dia akan kembali ke stadion untuk mengucapkan selamat tinggal setelah fans diizinkan masuk kembali.
Ketika dia kembali, itu akan menjadi klub yang sangat berbeda dengan yang pertama kali dia datangi sepuluh tahun lalu.
"Anda tidak bisa menunjukkan cacat dalam kariernya di Inggris, dan saya pikir dia adalah salah satu pemain terbaik di Liga Primer yang berasal dari luar [Inggris]. Itu menegaskan semuanya," kata rekan satu tim, De Bruyne.
"Ketika seseorang dapat menembus garis klub dan mendapatkan pengakuan dari pendukung tim lain di tingkat global, saat itulah seorang legenda lahir dan itulah Anda, David," tulis Aguero dalam sebuah buku tentang waktu Silva di klub.
"Mendatangkan pemain dengan cara bermain dan kualitas seperti dia sangat sulit, terutama menggantikan daya saingnya, bukan hanya kualitasnya," kata Guardiola kepada DAZN .
Sederhananya, Silva tidak akan tergantikan.


