Atletico Madrid dikenal sebagai tim yang defensif, tapi pasukan Diego Simeone membawanya ke level baru dalam kekalahan 1-0 melawan Manchester City di Liga Champions pada Rabu (6/4) dini hari WIB tadi.
Seperti yang diharapkan, Atletico memang sukses membuat frustrasi City arahan Pep Guardiola yang mendominasi bola di leg pertama babak delapan besar yang digelar di Etihad Stadium semalam.
Atleti awalnya efektif dalam menetralisir City, dengan mencegah mereka mendapatkan banyak peluang, tetapi klub Spanyol itu juga gagal mencatatkan satu tembakan pun di babak pertama.
Itu menjadi kali pertama mereka merasakan itu sejak data mulai dikumpulkan pada 2003/04.
Minim Tembakan
Atletico pada awalnya membatasi ruang tembak City, dengan kedua belah pihak memiliki gabungan expected goals (xG) di angka 0,18 pada babak pertama.
City adalah tim yang menyumbang angka itu, namun tidak satu pun dari enam tembakan mereka yang tepat sasaran.
Wakil Inggris itu memang menikmati 73 persen penguasaan bola, tetapi kesulitan untuk menembus blok pertahanan rendah yang diterapkan Atleti.
Di babak kedua, City menemukan terobosan setelah Kevin de Bruyne mengalahkan Jan Oblak dari jarak dekat pada menit ke-70 seturut umpan bagus Phil Foden.
Momen ajaib itu adalah yang dibutuhkan City, sebagaimana mereka memastikan kemenangan 1-0 di kandang yang penting jelang leg kedua minggu depan.
Sementara itu, Atleti harus menunggu hingga leg kedua untuk mencatatkan tembakan pertamanya dan mereka merupakan tim keempat yang gagal mencatatkan tendangan di pertandingan Liga Champions sejak pengumpulan data dimulai.
Mereka juga yang pertama sejak APOEL menghadapi Real Madrid pada 2012 dan, yang menarik, tiga tim lainnya mengalami itu kala melawan tim yang dikelola Guardiola, mengingat sistem dominasi bola sang manajer terus terbukti efektif.
Dua contoh lain yang melibatkan Guardiola terjadi pada 2011 selama waktunya bersama Barca saat melawan Viktoria Plzen pada Oktober dan Arsenal pada Maret sebelumnya.
