"Bermimpilah dalam hidup, jangan hidup dalam mimpi." - Andrea Hirata.
Kemenangan AC Milan atas Atletico Madrid terasa mendebar-debar. Emosional, haru, bak memainkan sebuah laga pamungkas yang akan sangat menentukan nilai prestise klub.
Bermain di salah satu stadio paling intimidatif di kancah sepakbola Eropa, pasukan Stefano Pioli justru sukses menundukkan sang raksasa Spanyol dengan skor hemat, 1-0, di mana gol tercipta beberapa saat sebelum wasit membubarkan laga.
Praktis, Milan pun masih membuka kans untuk lolos ke babak 16 besar. Tersisa satu laga, mereka kini menempati posisi ketiga, berselisih satu poin dengan Porto selaku runner-up.
Bagaimanapun, kemenangan tetaplah kemenangan, yang hanya akan dikenang sebagai angka-angka di atas lapangan. Namun, selalu ada cerita di balik angka-angka itu, sebagaimana yang baru saja diukir Milan.
Adalah sang pencetak gol tunggal, Junior Messias. Mendengar namanya saja, mungkin asing di telinga penikmat sepakbola. Namun, hanya dalam semalam, keterasingan itu terkikis. Publik sepakbola dunia tiba-tiba membicarakan namanya!
Gol yang dicetaknya memang biasa, hanya sebuah tandukan yang lantas menentukan kemenangan Milan. Akan tetapi, tahukah Anda? Messias yang saat ini berumur 30 tahun, rupanya baru melakoni debut profesional saat menginjak 27 tahun -- sesuatu yang langka ditemukan dalam lingkungan sepakbola profesional.
Kita tidak sedang membicarakan umumnya para pemain yang di usia sangat muda telah mendapatkan debut, kontrak profesional dan bahkan sudah digilai para fans macam Kylian Mbappe atau Erling Haaland.
Ya, Messias benar-benar baru menikmati debut profesional di usia terlambat. Kisah petualangan Messias merajut mimpi sepakbolanya pun sungguh epik.
Tiga tahun lalu, dia malang melintang di ajang Serie D Italia -- level tertinggi sepakbola non-profesional di Italia. Namun, sebelum memasuki lingkup sepakbola dengan bergabung Casale pada 2015, Messias hanya menjadikan olahraga sebagai hobi setelah bermigrasi dari Brasil.
Dia harus mendapatkan uang dengan menjalani bermacam-macam pekerjaan, mulai dari pengrajin batu bata, buruh bangunan, hingga kurir mesin cuci.
Pemain berdarah Amerika Latin ini kemudian menjajal peruntungannya dengan bergabung klub Serie D Gozzano pada 2017. Dia sukses mengantar klub ini naik kasta ke Serie C di periode 2018/19.
Messias selalu memegang prinsip: bermimpi dalam hidup akan selalu membuka peluang dia untuk berada pada titik kenyataan, ketimbang hidup dalam mimpi yang hanya akan membuat dia larut dalam angan-angan.
Tepat 23 September 2018, Messias mewujudkan mimpinya untuk bermain di level sepakbola profesional. Dia memainkan laga kompetitif perdananya bersama Gozzano menghadapi Cueno. Tiga hari berselang, dia mencetak gol profesional pertamanya melawan Piacenza.
GettyJanuari 2019, pria asli Belo Horizonte ini dijual ke klub yang lebih tinggi stratanya, Crotone [yang bermain di Serie B]. Dia tampil pertama kalinya di liga kasta kedua pada Agustus di tahun yang sama.
Dewi fortuna cukup bersahabat dengan Messias. Bersama Crotone, dia cukup bersinar, membantu klub kembali promosi ke kasta tertinggi, Serie A, untuk musim 2020/21.
Messias sukses mengakhiri musim lalu dengan torehan sembilan gol dari 36 penampilan, catatan impresif yang membuat Milan bergerak untuk meminjamnya senilai €2,6 juta berikut opsi pembelian permanen €5,4 juta di pengujung musim nanti.
Malam tadi, Messias membuat sejarah. Baginya, itu adalah memori indah yang tak akan pernah habis ditelan masa. Merasakan atmosfer kompetisi terbesar dan bergengsi bernama Liga Champions untuk pertama kali dalam hidupnya, dia langsung mempersembahkan kemenangan vital bagi Milan berkat gol semata wayangnya, dan itu dilakukan di stadion keramat milik Atletico.
Mungkin heroisme Messias hanya akan jadi kisah satu malam. Namun, kepercayaan diri yang kini tengah menyelimutinya bisa jadi sesuatu yang menguntungkan buat Pioli kelak.
Pelajaran berharganya: jangan pernah berhenti bermimpi!




