Klub-Klub Sepakat PSMS Jalan Di Dua Jalur

Ketegasan PSSI dinilai tidak ada hingga memunculkan dualisme klub...
Pertemuan 40 klub pemilik PSMS dengan pengurus di Hotel Garuda Medan, Selasa malam (29/11) berakhir di luar dugaan.

Pasalnya, rapat yang dipimpin, Idris  Sekum Pengurus Harian PSMS ini, yang beragendakan pembahasan mengapa terjadi dualisme PSMS (PSMS ke ISL dan IPL), awalnya diprediksi hujan interupsi dan perdebatan panjang, malah berakhir damai dan memutuskan bahwa PSMS dibiarkan menjalani kedua kompetisi ISL dan IPL. Dan menuding biangkeroknya dualisme ini adalah PSSI.

Namun begitu, kritik tetap dilontarkan pihak 36 klub yang hadir di rapat yang dimulai pukul 20.00 WIB itu. Diantaranya, mengapa pertemuan klub dilaksanakan, usai PSMS memilih ISL, sehingga harus terbentuk PSMS IP dan ketidakhadiran Rahudman Harahap, selaku ketua umum PSMS.

Idris yang juga CE0 PSMS ISL di hadapan pemilik klub memaparkan, sejak awal PSMS memang ingin di bawah naungan PSSI resmi.  Tetapi kerjasama oleh konsorsium dengan mengambil 85 persen saham PSMS memicu perdebatan yang alot, meski kemudian konsorsium menurunkan persentase sahamnya jadi 70 persen dan PSMS 30 persen.

"Dengan tidak secara langsung PSMS terjual. Kami memaksakan diri, tidak mau PSMS dikuasai kelompok lain. Kemudian  konsorsium menjanjikan akan mmbantu PSMS dari awal namun tidak ada. Konsorsium hanya memberikan surat. Apakah surat itu apa bisa menjamin pemain digaji, ketika kompetisi berakhir, dan sampai mau kompetisi dana itu tidak ada dan kami akhirnya memilih ISL," tuturnya.

Beberapa klub menanggapi paparan Idris dengan beragam, namun intinya tak menolak PSMS di ISL dan IPL.

Julius Raja, dari klub Perisai Pajak, mengatakan, "Biarkan Psms di IPL dan ISL jalan. Kalau berpolemik, maunya sebelumnya melangkah, klub ditanya maunya apa. Karena ini sudah berjalan (IPL dan ISL). Kita tak mungkin berubah. Nampaknya ini yang diciptakan PSSI,  ada dualisme. Ketegasan dari PSSI tidak ada, kalau ada tak perlu berdebat lagi kayak gini," ungkapnya.

Sedangkan, Ketua klub Kesawan Putra, Bintang Utara, Bintang Selatan Fauzi Hasbalah, memberikan pendapatnya, sepakat bahwa semua konflik bersumber dari PSSI.

"Sumber masalah di PSSI dan ketuanya PSMS. Orang PSMS sendiri yang mengobrak abrik PSMS saat ini.  Enggak ada guna bertengkar. Dua gajah (Bakrie dan Arifin Panigoro) berkelahi. Kita telan mampus. Salah satu akan keluar. Yang diakui PSSI  itu IPl.  Kalau kita mau bicara yang lebih baik. Kalau mau digabung IPL dan ISL digabung dengan kongres luar biasa," ungkapnya.

Dia juga menantang pengurus PSMS Medan apakah berani mempertanggungjawabkan ketika pilihan PSMS ke liga super bermasalah di kemudian hari. "Berani enggak pengurus PSMS bertanggungjawab ketika nanti pilihan ke ISL itu salah  bagaimana kedudukan PSMS. Kalau FIFA itu tidak mengakui ISL, PSMS ke laut. Tapi kalau berani ya silahkan jalan dua-dua," ungkapnya.

"Yang penting PSMS eksis. Ke depannya duduk satu meja IPL-ISL untuk membicarakannya," tandas  Ketua Umum Mantan PSMS Ismail Ruslan.

Rapat ini sendiri juga membahas dua  agenda lain, yakni lanjutan kompetisi Piala Rahudman, serta keberlangsungan PT PSMS. Klub peserta turnamen PSMS mendapatkan lima bola kaki, uang bantuan transport per klub sebesar Rp2.5 juta. Idris sempat meminta RUPS PT PSMS dilaksanakan, karena tiga tahun enggak hidup.  Komisaris PT PSMS Dolly Sinomba Siregar menegaskan soal ini tidak sebaiknya dibahas di lokasi yang sama. (gk-38)