Inggris telah membicarakan slogan 'Football Coming Home' sejak tahun 1996, ketika band indie The Lightning Seeds berkolaborasi dengan komedian Frank Skinner dan David Baddiel untuk merilis singel ‘Three Lions’ menjelang penyelenggaraan Euro ‘96. Bagi orang Inggris, lagu tersebut merupakan perayaan atas selera humor mereka yang jenaka serta makna dari tetap bersikap optimis setelah puluhan tahun mengalami kekecewaan. Bagi orang lain, lagu ini merupakan tanda arogansi dan rasa berhak Inggris, perasaan bahwa mereka entah bagaimana memiliki hak atas olahraga paling populer di dunia hanya karena mereka yang menciptakannya.
Ketika Inggris berhasil mencapai semifinal Piala Dunia 2018 dan seruan ‘It’s Coming Home’ tak terelakkan, Kroasia memanfaatkannya untuk keuntungan mereka. "Kami melihat 'Football’s Coming Home' dan berpikir: ‘Ya, tapi kalian masih harus bermain melawan kami’," kenang Ivan Rakitic. Tiga tahun kemudian, saat Inggris kalah di final Kejuaraan Eropa melawan Italia di Wembley melalui adu penalti, bek veteran Azzurri Leonardo Bonucci berteriak ke kamera: "It’s coming to Rome!"
Inggris kalah di final Kejuaraan Eropa untuk kedua kalinya berturut-turut dari Spanyol pada 2024, sehingga mereka hanya memiliki satu trofi besar dalam sejarah mereka: Piala Dunia yang dimenangkan di kandang sendiri pada 1966. Inilah kisah momen terbaik Inggris, sebuah kemenangan yang terwujud justru karena mereka melepaskan rasa arogan yang terkenal itu dan menyadari apa yang diperlukan untuk menang...










