Pertandingan antara Jerman dan Curaçao, yang berakhir dengan kemenangan Die Mannschaft 7-1 di Piala Dunia, pada Minggu kemarin, diwarnai oleh insiden rasisme yang tak terduga.
Menurut situs "The Athletic", wasit asal Australia, Sean Evans, yang bertugas sebagai pengawas teknologi video dalam pertandingan Jerman melawan Curaçao, terlibat dalam gestur tangan yang dikenal sebagai "White Power".
Tanda ini dilakukan dengan menyentuhkan ibu jari ke jari telunjuk, sementara jari-jari lainnya tetap terentang. Secara historis, tanda ini berarti "baik-baik saja", namun dalam beberapa tahun terakhir juga digunakan sebagai simbol keunggulan ras kulit putih.
Tiga jari yang tersisa membentuk huruf W yang melambangkan kata "White" (putih), sementara posisi ibu jari dan jari telunjuk memungkinkan pembentukan huruf P yang melambangkan kata "Power" (kekuatan).
Ekstremis Australia yang mendukung supremasi kulit putih, Brenton Tarrant, menggunakan isyarat ini saat tampil di pengadilan pada tahun 2019 setelah ditangkap atas tuduhan membunuh 50 orang dalam serangan bersenjata di dua masjid di Selandia Baru.





