JapanVoetbalzone

Diterjemahkan oleh

Timnas Belanda menghadapi tugas yang sangat berat: inilah yang bisa Anda harapkan dari mesin tempur Jepang

Pada Minggu, 14 Juni pukul 22.00, pertandingan pembuka Tim Oranje akan digelar: Belanda akan berhadapan dengan Jepang di babak penyisihan grup, dengan Arlington, Texas sebagai tuan rumah. Tim asuhan Ronald Koeman ingin segera menghilangkan rasa gugup setelah persiapan yang kurang memuaskan, namun kemungkinan besar akan langsung berhadapan dengan lawan terberat di grup tersebut.

Dalam analisis ini, kita akan melihat perjalanan Jepang menuju Piala Dunia, para pemain yang harus kita perhatikan dengan saksama, serta taktik pelatih kepala Hajime Moriyasu, yang dengan permainan terorganisir dan disiplin berhasil lolos ke Piala Dunia dengan relatif mudah.

  • Kualifikasi mandiri

    Bagi yang masih meragukan kualitas Jepang, sebenarnya cukup melihat catatan kualifikasi fase ketiga. Grup tersebut dimenangkan dengan sangat meyakinkan: dalam sepuluh pertandingan, Jepang hanya menelan satu kekalahan, yaitu kekalahan 1-0 dari Australia pada awal Juni 2025. Selain itu, ada dua hasil imbang, tujuh kemenangan, dan 23 poin, empat poin lebih banyak dari Australia yang berada di peringkat kedua.

    Jumlah poinnya memang mengesankan, tetapi jumlah gol dan kebobolanlah yang benar-benar memperjelas siapa lawan yang akan dihadapi Belanda. Jepang mencetak 30 gol dan hanya kebobolan tiga gol selama kualifikasi. Indonesia dikalahkan 4-0 pada pertandingan leg pertama dan leg kedua berakhir dengan skor telak 6-0. Tiongkok menderita kekalahan telak 7-0, dan kiper Bahrain pun kebobolan lima kali. Jepang bukan hanya mesin pencetak gol, tetapi juga tampil gemilang di lini belakang.

    Ketangguhan pertahanan itu berlanjut menjelang turnamen. Dalam enam pertandingan persahabatan terakhir, hanya satu lawan yang berhasil mencetak gol: Brasil, yang mencetak dua gol. Ghana, Bolivia, Skotlandia, Inggris, dan Islandia sama sekali tidak mencetak gol dan kalah satu per satu. Bahkan Brasil pun akhirnya harus menyerah. Kekalahan terakhir Jepang terjadi pada September 2025, saat Amerika Serikat menang 2-0.

    Belanda pun telah diberi peringatan.

  • Iklan
  • Tim yang berpengalaman

    Persiapan matang yang dilakukan Jepang bukanlah kebetulan, terutama jika melihat susunan pemain yang dipilih Moriyasu. Ia memiliki skuad yang berpengalaman, di mana banyak pemainnya juga telah berkarier di level tertinggi.

    Nama yang paling menonjol mungkin adalah Kaishu Sano, kakak dari gelandang NEC, Kodai Sano. Gelandang bertahan Eintracht Frankfurt ini absen di babak kualifikasi, tetapi menjadi kekuatan utama dalam pertandingan persahabatan baru-baru ini. Perkembangannya sangat pesat. Pada musim panas 2024, ia masih dibeli seharga 2,4 juta euro dari Kashima Antlers, sementara nilai pasarnya kini diperkirakan mencapai empat puluh juta euro. Sano adalah gelandang nomor enam modern. Ia bukan hanya pemain yang merebut bola atau mengalihkan permainan, tetapi gelandang serba bisa dengan daya lari, energi, dan dasar teknis yang solid.

    Pemain lain yang patut diperhatikan adalah penyerang Real Sociedad, Takefusa Kubo, yang absen dalam banyak pertandingan musim ini akibat cedera otot, serta nama-nama mapan seperti Hiroki Ito dan Ritsu Doan. Namun, salah satu bintang terbesar absen: Kaoru Mitoma mengalami cedera pada awal Mei dan harus melewatkan Piala Dunia.

    Nama yang kurang dikenal namun layak mendapat perhatian adalah bek sayap kiri Keito Nakamura. Pemain yang awalnya berposisi sebagai sayap kiri di Stade Reims ini telah diubah menjadi bek sayap di timnas Jepang. Dengan kecepatan, semangat kerja yang tak kenal lelah, dan aksi-aksi menyerangnya, ia menjadi mimpi buruk bagi setiap sayap kanan atau bek kanan, seperti yang baru-baru ini dialami Inggris. Namun, kita akan membahasnya lebih lanjut nanti.

    Nakamura berhasil tampil meyakinkan sebagai bek sayap kiri dalam beberapa pertandingan terakhir, namun masih menjadi pertanyaan apakah ia akan diturunkan sejak awal. Pasalnya, Daizen Maeda juga sering ditempatkan di posisi ini. Penyerang Celtic ini harus menonton dari bangku cadangan pada pertandingan terakhir melawan Islandia, namun ia berada dalam performa terbaiknya pada fase akhir musim. Dalam tujuh pertandingan terakhir untuk klub papan atas Skotlandia tersebut, ia mencetak sembilan gol dan dua assist.

    Terakhir, wajah-wajah familiar dari Eredivisie juga turut serta: pencetak gol terbanyak Ayase Ueda, rekan setimnya di Feyenoord Tsuyoshi Watanabe, serta pemain Ajax Takehiro Tomiyasu dan Ko Itakura.

  • Organisasi pertahanan

    Fakta bahwa Jepang jarang kebobolan bukanlah kebetulan: hal ini berawal dari organisasi pertahanan yang kokoh. Jepang bermain kompak dan disiplin, serta menggabungkan periode tekanan tinggi dengan fase-fase di mana mereka secara kolektif bertahan di belakang bola.

    Secara defensif, Moriyasu biasanya menempatkan timnya dalam formasi 5-2-3, di mana bek sayap ikut menutup ruang jika bek lawan naik ke depan dan terancam menerima bola, seperti yang ditunjukkan pada contoh di bawah ini.

    Penyerang ditugaskan untuk menutup jalur umpan ke gelandang pengatur permainan, sementara dua penyerang di sampingnya bergerak ke dalam dan—jika memungkinkan—menjaga tekanan pada bek tengah. Dengan formasi 5-2-3 yang kompak ini, Jepang berusaha menutup poros tengah untuk menghalangi rute paling berbahaya menuju gawang. Dengan demikian, lawan harus bermain sabar untuk melewati blok tersebut.

    Jika lawan mengoper bola ke bek sayap yang bebas, salah satu bek sendiri akan maju untuk menghalangi dan memaksa bola keluar. Dengan cara ini, mereka berusaha memaksa bola kembali ke belakang, setelah itu tim dapat maju untuk memberikan tekanan lebih tinggi di lapangan.

    Engeland - Japan Analyse 1Youtube: British Elite ScoutJapan Analyse 2Youtube: British Elite Scout

    Dalam contoh di atas terlihat bagaimana Jepang menjaga organisasi yang kompak dan memaksa Inggris ke sisi luar, sehingga mereka dapat memberikan tekanan. Inggris bermain dengan tempo yang cukup lambat dalam pertandingan ini, sehingga Jepang hampir tidak mengalami kesulitan. Terutama lini tengah, dengan pemain kreatif seperti Anthony Gordon, Phil Foden, dan Cole Palmer, hampir tidak menyentuh bola. Hal ini juga harus diwaspadai oleh Oranje.

    Terutama pada gambar terakhir, terlihat bahwa Foden dibiarkan bebas, tetapi jalur umpan ditutup. Akibatnya, Foden hampir tidak pernah dijangkau sepanjang pertandingan. Namun, jika pemain Manchester City itu memutuskan untuk naik lebih tinggi di lapangan, ia dapat dengan mudah dijaga oleh seorang bek tengah dalam formasi pertahanan lima orang. Ini adalah masalah yang sama yang sering dihadapi Oranje saat menghadapi lawan yang bermain dengan lima bek. Karena Oranje secara ofensif juga bermain dengan lima penyerang, pertahanan man-to-man dapat diterapkan dengan mudah.

    Di bawah ini terlihat apa tujuan tim Jepang. Jepang berharap dapat memotong semua jalur umpan ke depan, sehingga bola akan mencapai bek sayap yang bebas—dan tekanan dapat diberikan—atau bola harus dikembalikan ke belakang. Itu adalah sinyal bagi tim untuk maju bersama-sama dan memberikan tekanan lebih tinggi di lapangan.

    Japan Analyse 3Youtube: Britsh Elite Scout
  • SUKA CERITA INI?

    Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

    Ikuti GOAL di Google
  • Niat menyerang

    Saat menguasai bola, kedua bek tengah sayap membuka formasi sangat lebar, sehingga bek sayap dapat mengambil posisi lebih ke depan. Dengan demikian, mereka membentuk formasi semacam 3-2-5. Sebaliknya, kedua gelandang pengatur permainan berusaha membuka ruang di lini tengah dengan menempatkan diri keduanya—atau hanya satu pemain—di posisi yang lebih rendah di lapangan, sehingga menciptakan ruang dengan secara aktif terlibat dalam proses pembangunan serangan. Terutama Sano memainkan peran penting dalam hal ini.

    Melalui pergerakan para gelandang pengatur ini, ruang langsung tercipta bagi penyerang. Jika lawan melakukan tekanan tinggi yang efektif dan gelandang tidak dapat dijangkau akibatnya, bola yang jatuh ke arah penyerang juga menjadi opsi. Hal ini sering terjadi dalam pertandingan melawan Inggris, saat Ueda bertindak sebagai penyerang. Tim asuhan Moriyasu bermaksud untuk membangun serangan, tetapi juga tidak ragu untuk bermain dalam ketika lawan melakukan tekanan tinggi. Hal ini terlihat jelas dalam contoh di bawah ini. Melalui pergerakan lini tengah, barisan pertahanan Skotlandia terpisah, sehingga Ueda dapat menerima bola dengan lebih mudah dan Jepang dapat menjadi berbahaya dalam situasi lima lawan lima.

    Japan Analyse 6Youtube: Scotland National Team

    Dalam hal itu, Jepang adalah tim yang cukup modern dan fleksibel, dengan banyak dinamika dan pergerakan. Mereka bermain tinggi di lapangan, sama seperti banyak tim lain saat ini, dalam formasi 3-2-5 yang jelas, di mana dua pemain bergerak di ruang-ruang kosong di sekitar penyerang untuk mencari ruang di antara barisan pertahanan. Namun, Oranje sendiri bermain dengan empat bek, sehingga mungkin lebih bijaksana untuk menarik kembali seorang gelandang, misalnya, agar pertahanan man-to-man dapat diterapkan.

    Bek sayap, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, biasanya bertindak sebagai pemain sayap terselubung. Namun, hal ini membawa risiko bagi Jepang, yang meninggalkan ruang yang sangat luas di sisi-sisi lapangan saat melakukan transisi. Oranje dapat memanfaatkan hal ini.

    Japan Analyse 4Youtube: SIAN SPORTS

    Bagi Oranje, yang terpenting adalah mengawasi bek sayap kiri Nakamura, terutama saat bola hilang. Bek sayap tersebut terus-menerus mengancam saat melawan Inggris, terutama ketika ia memiliki banyak ruang di depannya. Belanda, yang meninggalkan banyak ruang di sisi Dumfries, tampaknya harus waspada terhadap hal ini. Statistik Nakamura musim ini juga sangat jelas: ia mencetak tidak kurang dari 14 gol di Ligue 2 musim ini dan menciptakan banyak peluang.

    Japan analyse 5Youtube: British Elite Scout


  • Apa saja yang perlu diperhatikan oleh Belanda dan di mana letak peluangnya?

    Analisis terhadap Jepang menunjukkan bahwa Moriyasu telah membentuk tim yang terorganisir dengan baik, yang bermain bertahan secara kompak dan disiplin serta menunjukkan dinamika yang tinggi saat menguasai bola. Namun, ada beberapa hal yang bisa dijadikan acuan bagi timnas Belanda, meskipun Oranje jelas tidak akan menghadapi tugas yang mudah.

    Hal itu terlihat jelas dari hasil-hasil terbaru. Inggris bermain dengan formasi 'kotak' serupa di lini tengah, menguasai bola 70%, namun tidak mampu menciptakan satu pun peluang besar: xG hanya 0,89 sudah cukup menjelaskan segalanya. Brasil mengalami hal serupa pada Oktober, dengan penguasaan bola 67% dan hanya dua peluang besar, menghasilkan xG 1,27. Jepang umumnya membiarkan lawan yang 'lebih baik' menguasai bola dan menutup semua opsi ke poros tengah, seringkali dengan sukses.

    Tim Oranje harus bersabar, tetapi pada saat yang sama tidak boleh terjebak dalam penguasaan bola yang membosankan tanpa kedalaman. Jepang memaksa lawan ke luar dengan blok 5-2-3 yang kompak, di mana area tengah secara konsisten ditutup rapat. Meskipun bek sayap sering menjadi pemain bebas, justru di situlah Jepang langsung memberikan tekanan. Belanda harus memaksa organisasi Jepang untuk membuat pilihan dengan tempo bola yang tinggi, pergantian sisi yang cepat, banyak dinamika, dan gerakan lari yang cerdas, serta harus mencegah agar tidak terjebak dalam permainan bola yang sabar yang merugikan Inggris.

    Peluang terbesar bagi Oranje terletak pada transisi serangan. Jepang sengaja meninggalkan banyak ruang di sayap di belakang bek sayapnya saat menguasai bola, yang bermain tinggi seperti penyerang sayap terselubung. Saat merebut bola, Belanda harus segera beralih secara vertikal untuk memanfaatkan ruang-ruang tersebut, sebelum Jepang dapat mengatur ulang formasi 5-2-3-nya.

    Di sisi lain, risiko tersebut juga berlaku sebaliknya, dan itulah mungkin bahaya terbesar bagi Oranje. Jepang kemungkinan besar akan membiarkan Oranje menguasai bola dan berharap pada serangan balik cepat, terutama melalui kecepatan Nakamura atau Maeda di sayap kiri. Terutama saat Dumfries berada lebih tinggi di lapangan, hal ini dapat menimbulkan situasi yang genting. Angka-angka dari kedua bek sayap kiri tersebut berbicara banyak.

    Secara keseluruhan, Jepang menawarkan pola permainan yang jelas dan mudah dikenali, namun juga memiliki kelemahan yang mencolok. Oranje yang mampu beralih serangan dengan cepat dan langsung, serta mampu memecah blok pertahanan Jepang melalui pergerakan dan kecepatan bola, dapat menyakiti Jepang, asalkan mereka sendiri tidak terkejut oleh serangan balik berbahaya dari Jepang.