Analisis terhadap Jepang menunjukkan bahwa Moriyasu telah membentuk tim yang terorganisir dengan baik, yang bermain bertahan secara kompak dan disiplin serta menunjukkan dinamika yang tinggi saat menguasai bola. Namun, ada beberapa hal yang bisa dijadikan acuan bagi timnas Belanda, meskipun Oranje jelas tidak akan menghadapi tugas yang mudah.
Hal itu terlihat jelas dari hasil-hasil terbaru. Inggris bermain dengan formasi 'kotak' serupa di lini tengah, menguasai bola 70%, namun tidak mampu menciptakan satu pun peluang besar: xG hanya 0,89 sudah cukup menjelaskan segalanya. Brasil mengalami hal serupa pada Oktober, dengan penguasaan bola 67% dan hanya dua peluang besar, menghasilkan xG 1,27. Jepang umumnya membiarkan lawan yang 'lebih baik' menguasai bola dan menutup semua opsi ke poros tengah, seringkali dengan sukses.
Tim Oranje harus bersabar, tetapi pada saat yang sama tidak boleh terjebak dalam penguasaan bola yang membosankan tanpa kedalaman. Jepang memaksa lawan ke luar dengan blok 5-2-3 yang kompak, di mana area tengah secara konsisten ditutup rapat. Meskipun bek sayap sering menjadi pemain bebas, justru di situlah Jepang langsung memberikan tekanan. Belanda harus memaksa organisasi Jepang untuk membuat pilihan dengan tempo bola yang tinggi, pergantian sisi yang cepat, banyak dinamika, dan gerakan lari yang cerdas, serta harus mencegah agar tidak terjebak dalam permainan bola yang sabar yang merugikan Inggris.
Peluang terbesar bagi Oranje terletak pada transisi serangan. Jepang sengaja meninggalkan banyak ruang di sayap di belakang bek sayapnya saat menguasai bola, yang bermain tinggi seperti penyerang sayap terselubung. Saat merebut bola, Belanda harus segera beralih secara vertikal untuk memanfaatkan ruang-ruang tersebut, sebelum Jepang dapat mengatur ulang formasi 5-2-3-nya.
Di sisi lain, risiko tersebut juga berlaku sebaliknya, dan itulah mungkin bahaya terbesar bagi Oranje. Jepang kemungkinan besar akan membiarkan Oranje menguasai bola dan berharap pada serangan balik cepat, terutama melalui kecepatan Nakamura atau Maeda di sayap kiri. Terutama saat Dumfries berada lebih tinggi di lapangan, hal ini dapat menimbulkan situasi yang genting. Angka-angka dari kedua bek sayap kiri tersebut berbicara banyak.
Secara keseluruhan, Jepang menawarkan pola permainan yang jelas dan mudah dikenali, namun juga memiliki kelemahan yang mencolok. Oranje yang mampu beralih serangan dengan cepat dan langsung, serta mampu memecah blok pertahanan Jepang melalui pergerakan dan kecepatan bola, dapat menyakiti Jepang, asalkan mereka sendiri tidak terkejut oleh serangan balik berbahaya dari Jepang.