Bali United'Kami tidak punya tim pencari bakat. Pemilik klub mendapat video YouTube dari agen' – Pelatih Bali United Heran Dengan Sistem Belanja Pemain Di Indonesia
Bali UnitedKlub Indonesia tak mempunyai pencari bakat untuk memantau pemain
Bursa transfer paruh musim Super League baru dibuka pada 10 Januari. Klub memanfaatkan jendela transfer ini untuk mendatangkan pemain baru untuk meningkatkan performa mereka di paruh kedua musim, sehingga bisa mendapatkan posisi lebih baik di klasemen. Pelatih Bali United Johnny Jansen mengaku menikmati musim pertamanya bersama tim, namun dia merasa heran dengan cara belanja pemain di klub. Menurutnya klub di Indonesia tidak mempunyai pencari bakat yang bisa memantau pemain bidikan, baik lokal maupun di luar negeri.
Pemilik klub hanya menyodorkan pemain dari agen
Bali United mendapatkan paruh pertama musim 2025/26 dengan tidak baik, karena mereka hanya mendapatkan lima kemenangan, enam hasil imbang, dan empat kekalahan, sehingga berada di peringkat delapan klasemen sementara. Serdadu Tridatu pun ingin merekrut pemain baru untuk penyegaran tim. Jansen mengaku pemilik klub hanya menyodorkan pemain yang dibutuhkan berdasarkan masukan agen, dan terkadang tidak sesuai dengan posisi yang diinginkan.
Bali United'Yang penting bisa bermain sepakbola'
“Saya beri tahu Anda: kami tidak memiliki tim pencari bakat. Pemilik kami mendapatkan video YouTube dari agen, bersama dengan detail Transfermarkt. Kemudian dia menghubungi saya dan berkata: 'kita sedang mencari striker, kan? Apakah ini sesuatu? Begitulah kira-kira prosesnya', ungkap Jansen kepada Leeuwarder Courant, sebagaimana dilansir FeanOnline.
“Tidak ada klub di sini yang mencapai itu (mempunyai pencari bakat). Tetapi akan sangat bagus jika memiliki pencari bakat yang dapat mencari bakat di dalam negeri, dan juga di luar negeri. Terkadang kami mencari striker, dan kemudian pemilik kami yang sangat kaya muncul dengan pemain sayap kiri setinggi 1,65 meter. Dia sama sekali tidak bisa bermain sebagai striker.”
“Lalu pemilik klub menjawab orang seperti itu pasti bisa bermain sepakbola. Lalu saya berkata: 'itu benar, tetapi kami menginginkan seorang striker'. Kemudian dia berkata oke, batalkan kontrak, dan pemain baru datang. Begitulah cara kami beroperasi. Tetapi bukan itu cara yang saya inginkan untuk bekerja, dan bukan itu cara yang biasa saya lakukan.”
Jansen berharap bisa mengubah pola pengelolaan klub
Pria berusia 50 tahun ini mengaku sangat kerasan menjalani karirnya di Indonesia. Dia berharap bisa berkarir di negeri ini hingga dua atau tiga tahun ke depan, dan bisa meninggalkan warisan di negeri ini.
“Saya ingin sekali tinggal di sini selama dua atau tiga tahun lagi dan meninggalkan warisan saya, bagi klub untuk membangunnya, itu akan fantastis,” ucap mantan asisten pelatih klub Belanda PEC Zwolle tersebut.
Iklan

