Article continues below
Article continues below
Article continues belo
Getty Images SportArticle continues below
Article continues below
Article continues belo
Rivalitas abadi antara Real Madrid dan Barcelona kini menemukan medan tempur baru di luar lapangan hijau. Berdasarkan data terbaru UEFA mengenai pendapatan partisipan Liga Champions, Los Blancos resmi menobatkan diri sebagai raja komersial dunia dengan torehan pendapatan sebesar €568 juta. Angka fantastis ini mempertegas status Madrid sebagai institusi olahraga paling bernilai yang mampu menyaingi kekuatan finansial klub-klub Inggris.
Barcelona membuntuti tepat di posisi kedua, membuktikan bahwa daya tarik global mereka tetap resilien di tengah laporan kesulitan finansial beberapa tahun terakhir. Blaugrana mencatatkan pendapatan komersial sebesar €499 juta, sebuah angka yang menempatkan mereka jauh di atas mayoritas klub elite Eropa lainnya. Dominasi ini menunjukkan bahwa prestise logo di dada jersey masih menjadi aset terkuat bagi dua penguasa Spanyol tersebut.
Namun, terdapat jurang pemisah yang lebar di internal La Liga sendiri. Atletico Madrid, sebagai wakil Spanyol lainnya, hanya mampu menempati peringkat ke-18 dengan pendapatan €123 juta, bahkan berada di bawah klub Jerman seperti Bayer Leverkusen. Hal ini menyoroti kesenjangan ekonomi yang mencolok di dalam strata atas sepakbola Spanyol meskipun dua klub teratasnya memimpin dunia.
AFPDalam kategori spesifik penjualan jersey dan merchandising, Barcelona justru berhasil menyalip rival abadinya untuk mengklaim posisi puncak. Kesuksesan ini sangat dipengaruhi oleh pembaruan kemitraan dengan Nike yang terbukti sangat menguntungkan bagi aktivitas ritel mereka di seluruh dunia. Barcelona meraup €277 juta dari sektor ini, melonjak tajam sebesar €106 juta dibandingkan periode sebelumnya.
Madrid menempati posisi kedua dalam urusan merchandising dengan pendapatan €231 juta, mencatatkan pertumbuhan sehat sebesar €35 juta. Kemampuan kedua klub untuk menjual jutaan jersey dan produk berlisensi menciptakan fondasi pendapatan "organik" yang stabil. Hal ini sangat krusial karena pendapatan dari sektor ini tidak terlalu fluktuatif dibandingkan dengan hadiah uang berbasis performa atau keuntungan dari bursa transfer.
Dominasi komersial ini menjadi benteng pertahanan bagi model kepemilikan klub yang dikelola oleh anggota (fan-owned) di tengah gempuran klub-klub yang dimiliki oleh negara atau ekuitas swasta. Dengan mengubah sejarah dan prestise menjadi mesin pemasaran yang mandiri, Madrid dan Barcelona membuktikan bahwa nilai merek tradisional tetap menjadi standar emas dalam industri olahraga global.
Kesehatan finansial La Liga telah lama menjadi bahan perdebatan panas, terutama terkait aturan pembatasan gaji pemain yang sangat ketat. Presiden La Liga Javier Tebas sering kali membela regulasi ini sebagai alasan mengapa pengeluaran bersih klub-klub Spanyol terlihat lebih rendah dibandingkan dengan belanja besar-besaran di Inggris.
Data komersial UEFA tampaknya mendukung klaim tersebut, menunjukkan bahwa klub-klub Spanyol mampu memaksimalkan aliran pendapatan tradisional mereka meskipun kalah dalam nilai kontrak televisi domestik. Meskipun duo El Clasico berkuasa, laporan UEFA juga memberikan peringatan mengenai pergerakan klub-klub di bawah mereka. Sementara Atletico naik lima peringkat dalam grafik merchandising, klub-klub Liga Primer seperti Newcastle United dan Aston Villa mencatatkan lonjakan drastis, masing-masing naik 21 dan 37 peringkat sejak tahun 2024.
Pertumbuhan pesat klub-klub Inggris kelas menengah ini menyiratkan bahwa kedalaman kekuatan finansial di Inggris terus meluas pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika tren ini berlanjut, posisi dominan raksasa Spanyol di masa depan mungkin akan terancam oleh kolektifitas kekuatan ekonomi yang lebih merata di tanah Britania.
AFPMemasuki kalender kompetisi menuju tahun 2027, tantangan terbesar bagi sepakbola Spanyol adalah memperkecil kesenjangan antara duo ikonik mereka dengan sisa peserta liga lainnya. Madrid dan Barca mungkin sudah berlari jauh di depan, namun rendahnya angka komersial klub lain bisa melemahkan daya tawar kolektif La Liga dalam jangka panjang di pasar internasional.