Selain cedera dan menurunnya perannya, Araujo mendapat reputasi sebagai pemain yang terkadang ceroboh, setelah menerima dua kartu merah melawan Paris Saint-Germain dan Chelsea di Liga Champions Eropa.
Pada November 2025, bek berusia 27 tahun itu menjauh untuk sementara waktu karena alasan yang berkaitan dengan kesehatan mental, dan bepergian ke Betlehem serta Yerusalem, kemudian menghabiskan waktu bersama keluarganya di Uruguay.
Setelah kembali ke lapangan, Araujo berbicara tentang penderitaannya akibat kecemasan selama 18 bulan sebelum berubah menjadi depresi, menegaskan bahwa apa yang dialaminya tidak hanya berkaitan dengan sepak bola saja, tetapi juga mencakup aspek keluarga dan pribadi, dan bahwa kartu merah melawan Chelsea mendorongnya untuk menyadari kebutuhannya akan bantuan. Gaya permainan Barcelona juga turut berperan dalam menurunnya posisinya.
Flick menjelaskan bahwa Araujo adalah "sosok yang luar biasa dan pemain yang menakjubkan", tetapi ia menunjukkan bahwa gaya Barcelona yang ingin ia terapkan sedikit berbeda, meskipun sang pemain memiliki kecepatan tinggi, kekuatan fisik, dan kemampuan yang baik dalam mengolah bola.
Flick mengatakan bahwa ia tidak mampu memainkannya dengan cara yang ia inginkan, dan bahwa Araujo sendiri ingin menjalani pengalaman baru, sebelum ia melepasnya dengan harapan sukses bersama Liverpool, serta menegaskan bahwa ia adalah kapten yang hebat, pemain, dan sosok yang luar biasa.