Erick menambahkan, dia tidak ingin mengulang pergantian ketua umum PSSI yang beberapa kali terjadi sejak tahun 2015 hingga 2022. Menurut Erick, setiap kepengurusan memiliki cetak biru tersendiri dalam membangun sepakbola nasional.
“(Kalau kepengurusan diganti di tengah jalan) Yang rugi siapa? ya semua. Jadi itu bukan berarti saya mempertahankan legitimasi, tidak,” tegas Erick.
“Berarti kan saya menghormati, bukan kepala batu memegang kekuasaan, ada loh aturannya tiga kali. Ini baru sekali jadi, saya lagi persiapan macam-macam.”