Article continues below
Article continues below
Article continues belo
(C)Getty imagesArticle continues below
Article continues below
Article continues belo
Juventus saat ini berada di titik nadir setelah menelan kekalahan memalukan 5-2 dari Galatasaray pada leg pertama babak play-off fase gugur Liga Champions. Hasil tersebut meninggalkan lubang besar yang harus ditutupi oleh pasukan Luciano Spalletti saat berganti menjamu wakil Istanbul tersebut di Allianz Stadium. Marchisio melihat bahwa dalam situasi krisis ini, kreativitas tim seolah hanya bertumpu pada satu nama saja, yakni bintang muda internasional Turki Yildiz.
Mantan gelandang elegan tersebut merasa bahwa ketergantungan ini adalah sinyal bahaya bagi klub sebesar Juventus. Performa tim yang tidak konsisten di bawah asuhan Spalletti semakin diperparah dengan kekalahan mengejutkan 2-0 dari Como di Serie A pekan lalu, yang merupakan kekalahan kandang pertama mereka dalam setahun terakhir. Krisis hasil ini menempatkan Si Nyonya Tua dalam posisi terpojok menjelang pekan paling krusial dalam musim mereka.
Marchisio menegaskan bahwa bakat individu saja tidak akan cukup untuk membalikkan keadaan di kompetisi kasta tertinggi Eropa tersebut. "Akan sangat sulit untuk bangkit dari defisit tiga gol tanpa kebobolan, terutama melihat momen yang sedang dilalui tim Spalletti saat ini, tetapi Juventus harus tetap percaya. Ini adalah Liga Champions," ungkapnya kepada Gazzetta dello Sport.
Getty Images SportMasalah utama yang disoroti Marchisio bukan sekadar taktik di atas lapangan, melainkan hilangnya jiwa dan kepribadian yang selama ini menjadi DNA Juventus. Ia mencatat adanya kekosongan kepemimpinan di ruang ganti yang membuat para pemain tampak kebingungan saat menghadapi tekanan besar. Atmosfer di stadion saat kekalahan melawan Como menjadi bukti sahih bahwa skuad saat ini kekurangan sosok yang mampu membakar semangat rekan setimnya.
Kepergian para pemain veteran yang memahami arti mengenakan seragam Bianconeri meninggalkan celah yang belum mampu diisi oleh rekrutan baru maupun pemain senior yang ada.
"Di malam Liga Champions ini, hal terpenting adalah menunjukkan jiwa dan kepribadian Juventus," jelas Marchisio yang hadir langsung di tribun saat kekalahan kontra Como. "Saya tidak mendengar siapa pun berteriak: 'Bangun, musim kita sedang dipertaruhkan.' Keruntuhan di Istanbul pada babak kedua dan kekalahan melawan Como sangat mengkhawatirkan saya. Ini semua tentang mentalitas."
"Yildiz adalah satu-satunya yang bisa membalikkan keadaan melawan Galatasaray. Kenan bernilai 50 persen dari kekuatan Juventus saat ini, dan sayangnya, lawan-lawan mereka sudah menyadari hal itu. Pergerakan tanpa bola dari McKennie juga akan sangat penting untuk memecah konsentrasi pertahanan lawan," ucap Marchisio.
"Sepakbola memang berubah, tetapi DNA klub tidak boleh hilang. Juventus selalu memiliki inti pemain Italia yang kuat, dan mereka harus membangunnya kembali. Donnarumma tampaknya sulit dijangkau karena baru saja bergabung dengan Manchester City, namun Sandro Tonali terlihat lebih masuk akal; dia akan menjadi titik awal yang sangat baik, meski kesabaran tetap dibutuhkan."
"Giorgio Chiellini sangat menderita karena dia mencintai Juventus, tetapi dia pernah mengalami momen yang lebih buruk sebagai pemain. Kami pernah finis di posisi ketujuh selama dua musim berturut-turut. Chiellini adalah figur fundamental di lapangan saat itu, dan hal yang sama berlaku sekarang dalam perannya di manajemen untuk menularkan kepribadian dan mentalitas kepada tim."
"Untuk malam seperti ini, pria yang ideal adalah Tevez. Spalletti akan membutuhkan energi dan guncangan seperti yang ia berikan. Juventus harus menemukan kembali gairah mereka jika ingin menciptakan keajaiban di Turin dan menyelamatkan musim yang tampak mulai menjauh dari genggaman."
Getty ImagesFokus utama Juventus saat ini adalah melakoni laga leg kedua babak play-off fase gugur Liga Champions melawan Galatasaray, Kamis (26/2) dini hari WIB. Skuad asuhan Spalletti wajib menang dengan selisih minimal tiga gol untuk memaksakan babak tambahan, sebuah tugas yang terlihat mustahil mengingat pertahanan mereka baru saja dibobol lima kali di pertemuan pertama.