Masa depan Mohamed Salah masih menjadi bahan spekulasi yang hangat seiring berakhirnya masa baktinya di Liverpool, namun kemungkinan kembalinya sang pemain ke ibu kota Italia tampaknya sudah tidak lagi menjadi opsi. Meskipun memiliki ikatan emosional dengan Giallorossi, realitas finansial Serie A saat ini telah mengubah potensi reuni tersebut menjadi sekadar angan-angan, sementara "Raja Mesir" itu kini diburu oleh klub-klub kaya dari Timur Tengah dan daya tarik Amerika Utara.
Sebuah ikatan nostalgia dengan Giallorossi
Ikatan antara Salah dan Roma tetap sangat kuat, hampir satu dekade setelah ia pindah dari ibu kota Italia ke Merseyside. Selama dua tahun membela Giallorossi dari 2015 hingga 2017, penyerang ini menjadi idola para penggemar dan membuktikan dirinya sebagai salah satu talenta penyerang terbaik di Eropa. Dengan kepergiannya dari Anfield yang kini menjadi kenyataan, laporan-laporan di Inggris menyebutkan bahwa Roma termasuk di antara opsi-opsi yang sedang dipertimbangkan oleh pemain berusia 33 tahun tersebut. Gagasan tentang kembalinya Salah ke tempat di mana karier globalnya dimulai merupakan impian bagi banyak penggemar Roma, namun transisi dari keinginan sentimental ke kontrak resmi penuh dengan komplikasi.
Iklan
Getty Images
Formasi taktis di bawah asuhan Gasperini
Dari sudut pandang murni olahraga, Salah akan menjadi rekrutan impian bagi skema taktis Gian Piero Gasperini. Meskipun ada Matias Soule dan masa depan Paulo Dybala yang masih belum pasti, kecerdasan dan kecepatan eksplosif Salah akan memberikan keunggulan yang mematikan bagi lini serang Roma. Gasperini sebelumnya pernah menyoroti "bahasa sepak bola yang sama" yang dimiliki para pemain kreatifnya, dan Salah pasti akan bersinar dalam lingkungan seperti itu.
Hambatan finansial di Stadion Olimpico
Meskipun laporan di media Inggris telah memicu antusiasme di kalangan pendukung Roma, angka-angka ekonomi yang terlibat menunjukkan bahwa transfer tersebut mustahil terwujud. Menurut La Gazzetta dello Sport, grup pemilik Friedkin telah menerapkan kerangka kerja keuangan baru yang ketat yang dirancang untuk memastikan keberlanjutan klub dalam jangka panjang. Inti dari strategi baru ini adalah batasan gaji internal yang ketat sebesar €4 juta per musim bagi setiap pemain baru. Jika dibandingkan dengan penghasilan Salah saat ini di Liverpool, yang mencapai sekitar €20 juta bruto per tahun, "kesenjangan yang sangat besar" ini menjadi mustahil untuk dijembatani, dengan Gazzetta akhirnya menyebut setiap upaya untuk mendatangkan pemain Mesir itu sebagai "ide gila".
SUKA CERITA INI?
Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami
Sementara Roma kesulitan memenuhi tuntutan finansial, para pesaing global sudah siap untuk bergerak. Klub-klub Liga Pro Arab Saudi, Al-Ittihad dan Al-Nassr, dilaporkan siap menyamai atau bahkan melampaui gaji Salah saat ini di Liverpool. Tim-tim dari Major League Soccer juga bisa ikut dalam perhitungan, dengan tim ekspansi San Diego FC menunjukkan minat yang sangat besar untuk menjadikan Salah sebagai rekrutan andalan mereka. Meskipun gaya hidup di Amerika Serikat menarik, jarak dari tanah kelahirannya di Mesir dilaporkan tetap menjadi kendala bagi seorang pemain yang masih sangat terikat dengan akar budayanya.