مصر- النموذج النرويجيchatgpt

Diterjemahkan oleh

Dari kekalahan Argentina hingga impian masa depan... Akankah Mesir berhasil meniru model Norwegia?

Meskipun harus tersingkir secara mengecewakan dari Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 2026, tim nasional Mesir meninggalkan turnamen dengan kepala tegak setelah menampilkan salah satu penampilan terbaiknya di ajang internasional dalam beberapa tahun terakhir, berhasil melaju melewati babak penyisihan grup, dan membuktikan diri sebagai lawan yang tangguh bagi salah satu kandidat terkuat juara. Namun terlepas dari hasil pertandingan tersebut, turnamen ini memunculkan pertanyaan yang lebih besar bagi sepak bola Mesir: bagaimana cara mempertahankan perkembangan ini, dan mengubahnya menjadi proyek berkelanjutan yang mampu melahirkan generasi-generasi yang mampu bersaing dengan tim-tim besar dunia?

Jawabannya mungkin tidak terletak di Amerika Selatan atau Eropa Barat, melainkan di bagian utara benua Eropa, di mana Norwegia berhasil menulis salah satu kisah paling menginspirasi dalam sepak bola modern.

Negara dengan populasi tidak lebih dari lima setengah juta jiwa ini, yang absen dari Piala Dunia sejak edisi Prancis 1998, dalam beberapa tahun terakhir telah berubah menjadi salah satu tim terkemuka di turnamen tersebut, setelah mengalahkan Brasil dan mencapai perempat final, berkat proyek jangka panjang yang tidak dimulai dengan Erling Haaland atau Martin Ødegaard, melainkan bertahun-tahun sebelum keduanya muncul.

Sementara banyak negara sibuk mencari “bintang masa depan”, Norwegia justru telah membangun sistem yang komprehensif yang mampu menghasilkan bintang-bintang secara berkelanjutan. Hal ini menjadikan pengalaman mereka sebagai model yang patut dipelajari bagi Mesir, yang memiliki basis penggemar yang sangat besar dan bakat-bakat yang tidak kalah dengan banyak negara Eropa, namun masih mencari proyek jangka panjang yang dapat mengubah potensi tersebut menjadi prestasi yang konsisten.

  • Iraq v Norway: Group I - FIFA World Cup 2026Getty Images Sport

    Norwegia tidak hanya melahirkan Haaland... tetapi juga menciptakan sebuah sistem yang lengkap

    Ketika para penggemar membicarakan tim nasional Norwegia, hal pertama yang terlintas di benak mereka adalah Erling Haaland, salah satu penyerang terbaik di dunia, atau Martin Ødegaard, kapten Arsenal dan otak di lini tengah. Namun kenyataannya, kesuksesan Norwegia tidak bisa hanya dikaitkan dengan dua pemain luar biasa tersebut.

    Tim nasional yang berlaga di Piala Dunia ini terdiri dari 17 pemain dari total 26 pemain yang berkarier di empat liga terkuat Eropa, sebuah angka yang mencerminkan besarnya upaya yang telah dilakukan sepak bola Norwegia selama dua dekade terakhir.

    Yang lebih penting lagi, sebagian besar pemain ini berasal dari sistem yang sama, dan telah dilatih berdasarkan filosofi yang sama sejak tahun-tahun awal mereka, yang memberikan tim nasional karakter yang jelas dan identitas sepak bola yang konsisten, demikian dilaporkan oleh Badan Penyiaran Inggris “BBC” .

    Sistem ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan hasil dari rencana strategis yang dimulai pada awal milenium baru, ketika Asosiasi Sepak Bola Norwegia menyadari bahwa ketidakhadiran yang berkepanjangan dari turnamen-turnamen besar hanya akan berubah dengan membangun kembali permainan ini secara menyeluruh, mulai dari anak-anak yang menendang bola untuk pertama kalinya, hingga tim nasional senior.

    Nama Norwegia telah lama dikaitkan dengan olahraga musim dingin, baik itu seluncur es, biathlon, maupun lompat ski, sementara sepak bola tetap berada di urutan kedua selama bertahun-tahun. Namun, pada awal milenium, Federasi Sepak Bola Norwegia mengambil keputusan strategis untuk mengubah keadaan ini.

    Tujuannya bukan sekadar lolos ke turnamen besar, melainkan menjadikan sepak bola sebagai olahraga yang paling populer di kalangan anak-anak, serta menghilangkan semua hambatan yang menghalangi mereka untuk memainkannya sepanjang tahun.

    Hambatan pertama sangat jelas bagi semua orang: cuaca. Musim dingin yang panjang dan salju yang lebat berarti aktivitas sepak bola terhenti selama beberapa bulan setiap tahun, yang menghambat perkembangan para pemain dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di negara-negara Eropa lainnya. Dari sinilah langkah pertama revolusi sepak bola dimulai.

  • Iklan
  • FBL-WC-2026-TRAINING-NORAFP

    Rumput sintetis... Keputusan yang mengubah masa depan sepak bola Norwegia

    Hal ini mungkin tampak sederhana, tetapi investasi pada lapangan olahraga merupakan titik balik yang sesungguhnya. Antara tahun 2000 dan 2010, Norwegia mulai melaksanakan rencana besar-besaran untuk membangun lapangan dengan rumput sintetis di berbagai kota dan desa, kemudian proyek tersebut semakin dipercepat pada tahun-tahun berikutnya.

    Dan hanya dalam periode antara tahun 2016 dan 2025 saja, telah dibangun 539 lapangan baru, serta direnovasi 586 lapangan lainnya. Angka-angka ini bukan sekadar investasi dalam infrastruktur, melainkan investasi langsung dalam masa depan para pemain.

    Alih-alih berhenti berlatih sepanjang musim dingin, anak-anak kini dapat bermain setiap hari dalam kondisi yang ideal, terlepas dari hujan, salju, atau suhu yang rendah.

    Håkon Grot Land, Kepala Bagian Pengembangan Pemain di Asosiasi Sepak Bola Norwegia, berpendapat bahwa keputusan ini telah mengubah segalanya. Ia mengatakan: “Sepak bola telah berubah dari olahraga musim panas menjadi olahraga yang dimainkan sepanjang tahun. Dulu kami berlatih di atas es dan di lapangan yang sangat buruk, namun kini setiap anak dapat berlatih dalam kondisi terbaik sepanjang tahun.”

  • FBL-WC-2026-PRESSER-NORAFP

    Sebuah pelajaran yang harus menjadi perenungan bagi sepak bola Mesir

    Perbandingan ini mungkin tampak aneh pada pandangan pertama. Mesir memang tidak mengalami salju atau cuaca ekstrem, tetapi negara ini menghadapi masalah lain yang dampaknya tidak kalah besar. Meskipun terdapat ribuan pusat pemuda dan klub, kualitas lapangan masih sangat bervariasi, terutama di luar kota-kota besar. Selain itu, banyak talenta di daerah-daerah yang tidak menemukan lingkungan latihan yang sebanding dengan yang ada di akademi-akademi besar.

    Dari sinilah pengalaman Norwegia tampak menginspirasi. Kesuksesan tidak dimulai dengan mencari pelatih asing atau pemain profesional, melainkan dimulai dengan menyediakan lapangan yang baik di mana anak-anak dapat berlatih setiap hari.

    Mungkin inilah pelajaran pertama yang dapat dipetik oleh sepak bola Mesir setelah Piala Dunia 2026: investasi pada lapangan bukanlah sekadar proyek pembangunan, melainkan proyek untuk membentuk para pemain.

    Pengaruh rumput sintetis tidak hanya terbatas pada peningkatan jam latihan, tetapi juga meluas hingga mengubah filosofi sepak bola Norwegia secara keseluruhan. Pada tahun 1990-an, Norwegia terkenal dengan gaya permainan defensif langsung yang mengandalkan umpan-umpan panjang dan kontak fisik.

    Namun, bermain secara konsisten di lapangan modern dengan kualitas yang konsisten membantu para pemain mengembangkan keterampilan teknis mereka, dan penguasaan bola, umpan cepat, serta permainan di permukaan tanah menjadi bagian dari identitas tim nasional.

    Munculnya pemain seperti Martin Ødegaard bukanlah kebetulan belaka, melainkan hasil alami dari lingkungan latihan yang mendorong kreativitas, serta memberikan kebebasan kepada pemain untuk mengembangkan keterampilannya sejak usia dini.

    Di sisi lain, sepak bola Mesir masih memiliki salah satu sekolah keterampilan terbaik di Afrika, namun membutuhkan lingkungan yang lebih maju untuk mempertahankan dan mengasah bakat ini, terutama pada tahap usia dini.

  • SUKA CERITA INI?

    Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

    Ikuti GOAL di Google
  • Brazil v Norway: Round of 16 - FIFA World Cup 2026Getty Images Sport

    Uang saja tidak menjamin kesuksesan... namun pemanfaatan yang tepatlah yang membuat perbedaan

    Norwegia memiliki salah satu ekonomi terkuat di dunia berkat kekayaan minyaknya, namun negara ini tidak hanya mengandalkan dana negara semata untuk mengembangkan olahraga. Sebaliknya, Norwegia menciptakan model yang berbeda dengan mengalokasikan sebagian besar pendapatan dari perusahaan taruhan milik negara “Norsk Tipping” untuk mendukung fasilitas olahraga.

    Perusahaan tersebut mengalokasikan sekitar 64% dari keuntungannya ke sektor olahraga, di mana sebagian besar dialokasikan untuk pembangunan stadion dan pendanaan proyek-proyek klub lokal. Pada tahun 2026 saja, nilai dana yang disalurkan ke fasilitas olahraga telah melampaui dua miliar krone Norwegia.

    Di sini muncul pelajaran lain yang dapat dipetik oleh Mesir, yaitu pentingnya menemukan sumber pendanaan yang berkelanjutan untuk pengembangan sepak bola, sehingga proyek-proyek tersebut tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah atau dukungan klub, melainkan pada sistem ekonomi yang menjamin kelangsungan investasi pada tingkat akar rumput, karena hal itulah yang merupakan fondasi sejati bagi kebangkitan sepak bola.

    Meskipun rumput sintetis telah menyediakan lingkungan yang sesuai untuk bermain sepak bola sepanjang tahun, Federasi Sepak Bola Norwegia menyadari bahwa lapangan saja tidak akan menghasilkan pemain kelas dunia, dan bahwa investasi yang sesungguhnya harus dimulai dari orang yang berdiri di lapangan bersama anak-anak setiap hari: pelatih.

    Oleh karena itu, periode antara tahun 2010 dan 2020 menyaksikan apa yang digambarkan oleh pejabat Federasi Sepak Bola Norwegia sebagai “revolusi pelatihan”. Yang dimaksud bukanlah mendatangkan nama-nama besar dunia atau pelatih dengan riwayat karier yang gemilang, melainkan membangun sistem pendidikan terpadu untuk melatih para pelatih yang bekerja di berbagai penjuru negeri.

    Seorang anak yang mulai bermain di desa kecil di utara Norwegia menerima prinsip-prinsip yang sama dengan yang diperoleh seorang pemain di ibu kota Oslo, karena semua pelatih bekerja berdasarkan filosofi pelatihan yang sama, yang mengutamakan pengembangan pemain daripada kemenangan dalam pertandingan.

    Di sinilah letak salah satu perbedaan paling mencolok dengan banyak negara lain, karena masa depan seorang pemain tidak bergantung pada nama pelatih atau klub, melainkan pada kurikulum yang jelas dan diterapkan oleh semua pihak.

    Bagi Mesir, pelajaran ini tidak kalah pentingnya dengan pengembangan lapangan. Memiliki ribuan pelatih tidak selalu berarti memiliki sistem yang sukses, sementara penyatuan filosofi pembinaan pelatih dapat mempersempit kesenjangan antara klub, akademi, dan pusat pemuda, sehingga memastikan para pemain lulus dengan dasar teknis dan taktis yang serupa.

  • Brazil v Norway: Round of 16 - FIFA World Cup 2026Getty Images Sport

    "Sekolah Tim Nasional"... Proyek yang Mengubah Segalanya

    Setelah gagal lolos ke Kejuaraan Eropa 2012, Asosiasi Sepak Bola Norwegia tidak hanya mengganti pelatih atau mencari solusi sementara, melainkan memutuskan untuk membangun kembali sistem pengembangan bakat secara menyeluruh. Dari sinilah program “Sekolah Tim Nasional” (NTS) lahir pada tahun 2013.

    Meskipun namanya demikian, program ini bukanlah akademi terpusat, dan tidak mengumpulkan semua talenta di satu tempat, melainkan merupakan jaringan nasional yang menghubungkan klub-klub basis dengan klub-klub besar dan federasi, sehingga semua pihak bekerja sesuai dengan tujuan dan standar yang seragam.

    Sistem ini memastikan pemantauan pemain sejak tahun-tahun awalnya, disertai evaluasi berkelanjutan terhadap perkembangannya, tanpa membuatnya merasa berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lain atau terpaksa mengubah gaya permainannya di setiap tahap.

    Angka-angka tersebut menunjukkan besarnya dampak proyek ini; dari para pemain yang turut serta dalam kemenangan bersejarah atas Brasil di babak 16 besar, 14 di antaranya sebelumnya pernah membela tim nasional junior, sementara 11 di antaranya telah bergabung dengan program NTS sejak tahap U-15 atau U-16. Dengan kata lain, tulang punggung tim nasional senior berasal dari proyek yang sama.

    Salah satu gagasan paling unik dalam pengalaman Norwegia adalah mereka tidak percaya pada apa yang disebut “pemain ajaib” pada usia delapan atau sembilan tahun. Sementara akademi klub-klub besar di banyak negara berlomba-lomba merekrut anak-anak sejak usia dini, pemain Norwegia tetap berada di klub lokalnya hingga berusia sekitar dua belas tahun.

    Alasannya sederhana. Seorang anak yang tampak biasa-biasa saja pada usia sepuluh tahun bisa saja menjadi yang terbaik pada usia lima belas tahun, dan sebaliknya. Oleh karena itu, Asosiasi Sepak Bola Norwegia tidak menutup pintu bagi pemain mana pun di usia dini, melainkan memberi mereka waktu yang cukup untuk berkembang secara fisik, teknis, dan psikologis. Filosofi ini mengurangi tekanan pada anak-anak, menjaga gairah mereka terhadap permainan, serta mencegah hilangnya bakat-bakat yang mungkin terlambat matang dibandingkan teman sebayanya.

    Sedangkan di Mesir, seringkali pemain dikeluarkan dari perhitungan klub pada usia yang masih sangat muda, sebelum tahun-tahun berikutnya membuktikan bahwa mereka sebenarnya layak mendapatkan kesempatan yang lebih besar. Oleh karena itu, meninjau kembali mekanisme pencarian bakat mungkin merupakan langkah yang diperlukan jika sepak bola Mesir ingin memaksimalkan manfaat dari basis pemain yang besar yang dimilikinya.

  • FBL-WC-2026-EUR-QUALIFIER-NOR-MDAAFP

    Klub-klub basis... Pahlawan sejati dalam kisah ini

    Sebelum Piala Dunia dimulai, para pemain tim nasional Norwegia berfoto bersama yang menarik perhatian media. Para pemain tidak mengenakan seragam klub mereka saat ini, melainkan masing-masing mengenakan seragam klub tempat mereka memulai karier sepak bola.

    Foto tersebut bukan sekadar foto promosi, melainkan sebuah pesan yang jelas. Kesuksesan bermula dari klub-klub akar rumput. Oleh karena itu, Federasi Sepak Bola Norwegia berkomitmen untuk mendukung klub-klub tersebut secara finansial dan teknis, karena mereka dianggap sebagai tahap awal dalam pembinaan pemain.

    Klub-klub besar tidak memandang klub-klub akar rumput sebagai pesaing, melainkan sebagai mitra dalam proses pengembangan, yang menciptakan sistem terintegrasi di mana semua pihak bekerja menuju tujuan yang sama.

    Di Mesir, pusat-pusat pemuda dan klub-klub rakyat memiliki potensi besar untuk menemukan bakat-bakat, namun mereka membutuhkan dukungan teknis dan organisasi yang lebih besar, serta keterkaitan yang lebih efektif dengan federasi dan klub-klub profesional.

    Odegaard Mengubah Seluruh Filosofi Federasi

    Håkon Grot Land menceritakan kisah menarik tentang Martin Odegaard. Ketika pertama kali melihatnya pada usia sebelas tahun, ia menyadari bahwa di hadapannya ada bakat luar biasa yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

    Namun, yang menarik perhatiannya bukan hanya kemampuannya, melainkan cara anak itu berinteraksi dengan sepak bola. Ia berlatih berjam-jam ekstra, terus-menerus mencari cara untuk berkembang, dan menghadapi permainan dengan semangat serta rasa tanggung jawab yang melebihi usianya.

    Pengalaman ini mendorong Asosiasi Sepak Bola Norwegia untuk mendefinisikan ulang konsep “bakat”. Alih-alih berfokus pada kecepatan, kekuatan fisik, atau keterampilan individu, pertanyaan utamanya kini adalah: Apakah pemain ini cukup mencintai sepak bola untuk terus mengembangkan dirinya setiap hari? Dari sinilah karakter, disiplin, dan keinginan untuk belajar menjadi elemen utama dalam mengevaluasi para pemain.

    Bahkan Haaland pun tidak pernah menjadi yang terbaik di masa kecilnya

    Fakta ini mungkin terdengar mengejutkan. Erling Haaland, salah satu penyerang terbaik di dunia, tidak dianggap sebagai pemain terbaik di kelompok usianya saat bergabung dengan pemusatan latihan tim nasional pada usia 14 tahun.

    Oleh karena itu, Asosiasi Sepak Bola Norwegia menolak untuk memberikan penilaian dini terhadap para pemain. Tujuannya bukanlah memilih anak terbaik pada usia 13 tahun, melainkan menghasilkan pemain terbaik saat berusia 22 atau 23 tahun.

    Pola pikir jangka panjang ini telah memberi banyak pemain kesempatan untuk berkembang tanpa tekanan, sebelum akhirnya bergabung dengan tim nasional senior.

    Ini merupakan pelajaran penting bagi sepak bola Mesir, yang perlu bersabar dalam menangani talenta-talenta muda, serta memberi mereka waktu yang cukup untuk matang, alih-alih terus-menerus mengejar hasil instan.

  • Australia v Egypt: Round of 32 - FIFA World Cup 2026Getty Images Sport

    Tim lebih penting daripada bintang mana pun

    Meskipun Norwegia memiliki bintang kelas dunia seperti Haaland dan kapten sekelas Odegaard, filosofi yang ditanamkan oleh program NTS didasarkan pada prinsip bahwa tidak ada seorang pun yang lebih besar dari tim. Karena itu, sejak tingkat usia muda, para pelatih menekankan kerja sama, komitmen, disiplin, dan tanggung jawab bersama.

    Seorang pemain tidak memandang dirinya sebagai calon bintang, melainkan sebagai bagian dari sistem yang terintegrasi, dan hal ini tercermin dengan jelas dalam penampilan tim nasional di Piala Dunia. Ketika Brasil tersingkir di babak 16 besar, kemenangan tersebut bukanlah hasil dari penampilan gemilang seorang pemain, melainkan buah dari kerja sama tim yang terorganisir, yang berhasil menetralisir perbedaan kemampuan individu.

    Apa yang dapat dipelajari Mesir?

    Setelah mencapai babak 16 besar di Piala Dunia, sepak bola Mesir kini memiliki kesempatan langka untuk membangun atas apa yang telah dicapai, alih-alih hanya puas merayakan partisipasi. Kesuksesan sejati tidak diukur dari lolos ke satu turnamen saja, melainkan dari kemampuan untuk terus berada di antara tim-tim terbaik.

    Di sini, pengalaman Norwegia memberikan serangkaian pelajaran yang jelas: “Investasi pada pelatih tidak kalah pentingnya dengan investasi pada pemain, menyatukan filosofi kerja antara federasi, klub, dan klub-klub akar rumput, serta mengembangkan infrastruktur di semua provinsi, bukan hanya di kota-kota besar.”

    Selain itu, “memberikan waktu yang lebih lama kepada anak-anak untuk berkembang, tanpa menyingkirkan mereka terlalu dini; memperhatikan karakter, disiplin, dan semangat, di samping keterampilan teknis; serta menganggap klub-klub pemuda sebagai mitra utama dalam pembinaan bakat, bukan sekadar tahap sementara.”

  • Australia v Egypt: Round of 32 - FIFA World Cup 2026Getty Images Sport

    Apakah Mesir dapat meniru pengalaman Norwegia?

    Mungkin mudah untuk memandang pengalaman Norwegia sebagai model Eropa yang sulit diterapkan di Mesir karena perbedaan kondisi ekonomi, sosial, dan geografis, tetapi jika kita mencermati detail proyek tersebut, akan terlihat bahwa rahasia kesuksesannya bukanlah terletak pada jumlah penduduk atau besarnya kekayaan minyak, melainkan pada kejelasan visi dan konsistensi dalam bekerja.

    Norwegia tidak memulai proyeknya dengan memiliki Haaland atau Ødegaard, dan tidak tiba-tiba bangun untuk mendapati dirinya berada di antara tim-tim terbaik dunia, melainkan menyusun rencana jangka panjang yang bertujuan mengembangkan infrastruktur, meningkatkan kualitas pelatih, menyatukan filosofi kerja, serta memberikan waktu yang cukup bagi anak-anak untuk berkembang, lalu berkomitmen untuk melaksanakannya tahun demi tahun, jauh dari tekanan untuk meraih hasil instan atau mengubah rencana setiap kali mengalami kegagalan.

    Selama beberapa dekade terakhir, sepak bola Mesir telah membuktikan kemampuannya dalam menghasilkan pemain-pemain kelas atas, baik di level domestik maupun di liga-liga Eropa. Namun, masalahnya bukanlah kelangkaan bakat, melainkan tidak adanya sistem yang menjamin kelangsungan produksi bakat dengan kualitas yang sama.

    Seringkali, kesuksesan tim nasional Mesir dikaitkan dengan munculnya generasi luar biasa atau pemain kelas dunia, sebelum pertanyaan yang sama muncul kembali beberapa tahun kemudian: Siapa yang akan menjadi penerusnya? Dan bagaimana cara menggantikan para bintang setelah mereka pensiun?

    Sebaliknya, Norwegia tidak membangun proyeknya berdasarkan satu pemain tertentu, melainkan pada sistem yang mampu menghasilkan pemain baru setiap kali ada pemain lain yang hengkang. Inilah perbedaan antara membangun tim nasional yang sukses, dan membangun sepak bola yang sukses.

    Tidak ada yang meragukan bahwa Mohamed Salah adalah pemain terhebat dalam sejarah sepak bola Mesir modern, dan pengaruhnya melampaui batas lapangan untuk menjadi sumber inspirasi bagi seluruh generasi pemain. Namun, pengalaman Norwegia mengajukan pertanyaan penting: apa yang terjadi setelah sang bintang?

    Federasi Sepak Bola Norwegia tidak mengaitkan masa depannya dengan Haaland atau Ødegaard, melainkan berupaya membangun basis pemain yang luas yang mampu menggantikan siapa pun yang absen, yang menjelaskan banyaknya pemain profesional di liga-liga Eropa terkuat.

    Sedangkan di Mesir, tantangan sesungguhnya terletak pada memanfaatkan kehadiran Salah untuk membangun generasi baru yang mengikuti jejaknya, bukan sekadar mengandalkan bakatnya hingga akhir kariernya. Sebab, kekuatan sepak bola suatu negara tidak diukur dari jumlah bintang yang dimilikinya, melainkan dari kemampuannya untuk terus-menerus menghasilkan bintang-bintang baru.

  • Argentina v Egypt: Round of 16 - FIFA World Cup 2026Getty Images Sport

    Peta Jalan Menuju Masa Depan

    Jika Federasi Sepak Bola Mesir ingin mengambil pelajaran dari pengalaman Norwegia, langkah awalnya harus berupa proyek yang berlangsung setidaknya selama sepuluh tahun, yang tidak bergantung pada pergantian dewan direksi atau staf teknis.

    Garis besar utama proyek ini dapat dirangkum dalam beberapa poin utama:

    Pertama: Pengembangan stadion dan pusat pelatihan di berbagai provinsi, guna memastikan tersedianya lingkungan yang sesuai bagi anak-anak di seluruh wilayah Republik, bukan hanya di klub-klub besar saja.

    Kedua: Pembentukan program nasional terpadu untuk pembinaan pelatih, sehingga semua yang bekerja dengan kelompok usia muda mendapatkan kurikulum pelatihan modern, sekaligus menyatukan filosofi permainan antara tim nasional dan klub.

    Ketiga: Menata ulang kompetisi pemuda, sehingga tujuan utamanya adalah pengembangan pemain, bukan sekadar memenangkan kejuaraan kelompok usia.

    Keempat: Memperluas basis pencarian bakat melalui dukungan terhadap pusat-pusat pemuda, klub-klub akar rumput, dan sekolah-sekolah, serta menghubungkannya secara langsung dengan Federasi.

    Kelima: Menetapkan kriteria yang jelas untuk mengevaluasi pemain, yang tidak hanya bergantung pada kemampuan fisik dan keterampilan, tetapi juga mencakup disiplin, kepribadian, kemampuan belajar, serta komitmen di dalam dan di luar lapangan.

    Keenam: Menyusun rencana yang jelas untuk meningkatkan jumlah pemain profesional di liga-liga Eropa, melalui pengembangan akademi, serta memfasilitasi transfer pemain pada usia yang tepat, sehingga meningkatkan kualitas kompetisi dan memberikan manfaat bagi tim nasional.

  • FBL-WC-2026-MATCH95-ARG-EGYAFP

    Kesuksesan tidak dimulai dari tim utama... dan kesempatan yang tidak boleh disia-siakan

    Salah satu kesalahan umum di banyak negara adalah berfokus pada tim nasional senior sebagai wajah utama sepak bola, padahal pengalaman Norwegia menegaskan bahwa tim nasional hanyalah tahap terakhir dalam perjalanan panjang yang dimulai dari seorang anak yang berlari mengejar bola di klub kecilnya.

    Pemain yang mencetak gol di Piala Dunia adalah orang yang sama yang telah menemukan lapangan yang baik, pelatih yang kompeten, dan lingkungan yang mendukung saat ia berusia delapan atau sembilan tahun. Oleh karena itu, investasi yang sesungguhnya bukanlah hanya pada pemusatan latihan tim nasional senior atau merekrut pelatih kelas dunia, melainkan pada tahun-tahun sebelum pemain tersebut mencapai tahap tersebut.

    Oleh karena itu, meskipun kalah dari Argentina di babak 16 besar, partisipasi timnas Mesir di Piala Dunia 2026 membawa banyak tanda-tanda positif. Tim Firaun menunjukkan performa yang kompetitif melawan tim-tim besar, dan membuktikan bahwa mereka memiliki fondasi yang dapat dikembangkan. Namun, sejarah sepak bola mengajarkan kita bahwa momen-momen seperti ini bisa menjadi titik tolak, namun juga bisa menjadi peluang yang terbuang jika tidak diikuti dengan langkah-langkah konkret.

    Pasca setiap turnamen besar, negara-negara yang sukses mulai mengevaluasi pengalamannya, menganalisis kekuatan dan kelemahan, serta menetapkan target baru untuk edisi berikutnya—hal yang dilakukan Norwegia setelah gagal lolos ke Euro 2012, ketika mereka memilih untuk membangun kembali sistem secara menyeluruh alih-alih sekadar mengganti pelatih atau mencari solusi sementara.

    Mungkin Mesir tidak dapat meniru pengalaman Norwegia secara persis, karena setiap negara memiliki kondisi, potensi, dan tantangannya masing-masing, namun prinsip-prinsip yang mendasari pengalaman tersebut tetap dapat diterapkan di mana saja.

    Gagasan untuk berinvestasi pada fondasi, menyatukan filosofi pelatihan, meningkatkan kompetensi pelatih, mengutamakan karakter daripada hasil, serta bekerja sesuai rencana jangka panjang, bukanlah gagasan yang hanya terkait dengan Norwegia saja, melainkan merupakan landasan kesuksesan sebagian besar kekuatan sepak bola modern.

    Oleh karena itu, manfaat sesungguhnya tidak terletak pada meniru detail-detailnya, melainkan pada mengadopsi pola pikir perencanaan jangka panjang, jauh dari reaksi sesaat.