Seiring dibunyikannya peluit pembuka Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, pembicaraan tidak lagi hanya berkisar pada pertandingan sepak bola dan para bintang ternama, melainkan muncul sebuah fenomena yang mencolok dan menarik: kembalinya rasa rindu yang kuat terhadap pengalaman Qatar 2022. Turnamen yang sempat mendapat kritik tajam empat tahun lalu kini berubah menjadi standar emas untuk mengukur kesuksesan penyelenggaraan dan pengalaman penonton.
Bagaimana transformasi dramatis ini terjadi? Dan mengapa para penggemar dan jurnalis mendapati diri mereka mengenang kenangan Doha dan stadion-stadion yang berkilauan, sementara mereka menghadapi realitas yang rumit dan penuh tantangan di Amerika Utara?
Di balik kerinduan ini tersembunyi sebuah paradoks sejarah: Piala Dunia Qatar, yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai eksperimen berisiko karena ukurannya yang kecil dan lokasinya di Teluk, terbukti menjadi model unik dalam hal kenyamanan, efisiensi, dan harmoni.
Sedangkan Piala Dunia 2026, yang digambarkan sebagai "yang terbesar dan paling komprehensif", menghadapi kritik bertubi-tubi di semua tingkatan, mulai dari logistik hingga keamanan, serta politik dan biaya. Perbedaan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari perbedaan mendasar dalam visi dan pelaksanaannya.





