FBL-WC-2026-MATCH98-ESP-BELAFP

Diterjemahkan oleh

Dari 18 bulan menganggur hingga final Piala Dunia... Bagaimana De la Fuente berhasil mengubah nasibnya?

Tak ada yang menyangka bahwa pria yang meninggalkan Stadion Mendizorroza dengan kepala tertunduk pada musim gugur 2011, setelah dipecat dari jabatannya sebagai pelatih Deportivo Alavés, akan kembali beberapa tahun kemudian untuk berdiri di panggung sepak bola terbesar di dunia sebagai pelatih tim nasional Spanyol di final Piala Dunia.

Di antara kedua momen tersebut, Luis de la Fuente menjalani salah satu masa tersulit dalam hidupnya; delapan belas bulan tanpa pekerjaan, tanpa kepastian, dan dipenuhi pertanyaan tak berujung mengenai masa depannya di dunia kepelatihan.

Namun, fase yang bagi banyak orang tampak sebagai akhir perjalanan itu, baginya justru berubah menjadi awal yang sesungguhnya. Ia memanfaatkannya untuk belajar, berkembang, dan membangun kembali dirinya, hingga kini menjadi salah satu pelatih yang paling dihormati di dunia sepak bola, setelah membawa Spanyol meraih serangkaian prestasi dan membentuk kembali identitas “La Roja” dengan gayanya yang tenang dan kepribadiannya yang seimbang.

  • Pemecatan yang kejam itu membuka pintu menuju ketidakpastian

    Pada 16 Oktober 2011, klub Deportivo Alavés memutuskan untuk memecat De la Fuente setelah awal musim yang tidak stabil di Divisi Kedua Spanyol “Segunda B”. Keputusan tersebut diambil setelah hanya sebelas pertandingan, di mana tim tersebut meraih empat kemenangan, tiga hasil imbang, dan empat kekalahan.

    Meskipun hasilnya tidak terlalu buruk, manajemen klub telah menargetkan posisi puncak sejak awal, dan tidak memberikan waktu yang cukup kepada pelatihnya untuk menerapkan filosofi permainannya, yang mengandalkan penguasaan bola dan membangun serangan dari belakang—gaya permainan yang kemudian membuatnya terkenal saat melatih tim nasional Spanyol.

    Ketua klub saat itu, Avilino Fernández de Quencosís, mengakui bertahun-tahun kemudian bahwa keputusan pemecatan tersebut tidaklah mudah, sambil menegaskan bahwa De la Fuente menerima kabar tersebut dengan tenang dan penuh wibawa, tanpa menunjukkan keberatan atau emosi apa pun, yang meninggalkan kesan tak terlupakan bagi para pejabat klub, demikian dilaporkan surat kabar Spanyol “AS”.

  • Iklan
  • Italy U19 v Spain U19 - International FriendlyGetty Images Sport

    Alavés di Masa Krisis

    Pengalaman De la Fuente bersama Alavés terjadi pada salah satu periode paling bergejolak dalam sejarah klub tersebut, yang saat itu dilanda krisis keuangan yang parah dan tumpukan utang yang nyaris menghancurkan masa depannya, setelah melalui masa-masa kepemimpinan yang tidak stabil.

    Meskipun dalam kondisi yang sulit tersebut, pelatih asal Spanyol ini meninggalkan kesan yang luar biasa bagi semua orang di dalam klub, baik dari segi kemanusiaan maupun profesional. Pejabat Alavés menggambarkannya sebagai sosok yang berakhlak mulia, yang tidak pernah kehilangan senyum maupun ketenangannya bahkan di saat-saat tersulit sekalipun.

    Mantan presiden klub tersebut mengingat pertemuan yang ia jalani bersama De La Fuente saat makan malam yang disiapkan oleh ibunya, dan menegaskan bahwa hal yang paling melekat dalam ingatannya bukanlah hasil pertandingan, melainkan keanggunan pria tersebut serta rasa hormatnya kepada semua orang.

  • Kejutan yang tak terlupakan bagi para pemain

    Penyerang asal Katalonia, Jeto, adalah salah satu pemain terakhir yang mencetak gol di bawah asuhan De la Fuente; ia bahkan mencetak gol penyama kedudukan dalam pertandingan terakhir sebelum pelatih tersebut dipecat.

    Pemain tersebut menegaskan bahwa tim tidak pantas mengalami pergantian staf pelatih, sambil menyoroti bahwa De la Fuente merupakan sosok yang lebih maju dari zamannya dalam hal gaya bermain, karena ia mengutamakan penguasaan bola dan serangan terorganisir, ide-ide yang tidak mendapat kesabaran yang cukup di dalam klub.

    Ia menambahkan bahwa sang pelatih sangat disukai para pemain, dan sering menghabiskan waktu berjam-jam di ruang kebugaran, hingga terkadang tampak lebih berkomitmen pada latihan fisik daripada para pemainnya sendiri.

    Jeto mengenang momen perpisahan pada pagi hari setelah pemecatan itu, ketika De la Fuente memasuki ruang ganti untuk berpamitan kepada para pemainnya dalam keadaan sedih dan patah hati, setelah merasa bahwa proyeknya telah berakhir sebelum sempat dimulai.

    Di antara mereka yang hadir malam itu adalah keponakannya, Luis de la Fuente, yang mengikuti perjalanan karier pamannya dari dekat. Ia mengatakan tidak akan melupakan sorakan yang menuntut pelatih itu mundur selama pertandingan, namun ia yakin bahwa pamannya diciptakan untuk mencapai hal-hal yang lebih besar daripada sekadar melatih Alavés.

    Ia menambahkan bahwa anggota keluarga terus-menerus mengulang satu kalimat kepadanya setelah pemecatan itu: “Yang terbaik belum datang,” kata-kata yang kemudian menjadi kenyataan dalam segala detailnya.

  • SUKA CERITA INI?

    Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

    Ikuti GOAL di Google
  • Delapan belas bulan penuh penderitaan

    Bagi De la Fuente, pengangguran bukan sekadar tidak berada di bangku kepelatihan, melainkan sebuah fase yang penuh dengan tekanan psikologis dan finansial. Pada usia sekitar 50 tahun, ia mendapati dirinya tanpa tim, sementara ia menyadari bahwa kembali ke dunia kepelatihan pada usia tersebut bukanlah hal yang mudah, terutama mengingat persaingan yang ketat di antara para pelatih.

    Keluarganya pun menjadi tempat berlindung sejati yang membantunya melewati masa-masa sulit tersebut. Ia pun kembali tinggal di dekat ketiga putranya, menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarganya di Bilbao, serta terus mengunjungi kampung halamannya di Haro, tempat ia menemukan ketenangan di tengah-tengah anggota keluarganya.

    Meskipun menganggur, De la Fuente tidak membiarkan dirinya menjauh dari sepak bola. Ia berkeliling Spanyol, berpindah-pindah antara berbagai klub untuk menyaksikan sesi latihan, berdiskusi dengan para pelatih, dan bertukar pengalaman dengan mereka.

    Ia juga mendalami pemikiran pelatih asal Argentina, Marcelo Bielsa, yang dianggapnya sebagai salah satu tokoh kepelatihan terkemuka di dunia, serta berupaya mengembangkan diri secara teoritis, bahkan mulai belajar bahasa Inggris, sebagai persiapan untuk peluang apa pun di masa depan.

    Ia menyadari bahwa hal paling berbahaya yang mungkin dihadapi seorang pelatih adalah menghilang dari sorotan, sehingga ia selalu memastikan untuk terus tampil di lapangan, konferensi pers, dan acara-acara olahraga, agar tidak terlepas dari perhatian publik.

  • Spain Training Session - FIFA World Cup 2026Getty Images Sport

    Hobi-hobi yang membantunya tetap tegar

    Bukan hanya sepak bola yang mengisi kehidupan De la Fuente pada masa itu. Ia terus berolahraga setiap hari, menghabiskan dua sesi latihan di pusat kebugaran, serta menyisihkan waktu untuk membaca, terutama tentang sejarah Romawi, filsafat, dan kisah-kisah gladiator.

    Ia juga menemukan pelepas penat saat bertemu teman-temannya, baik di Bilbao, Vitoria, maupun Sevilla, selain sering mengunjungi restoran “Elcano” di Getaria, yang dimiliki oleh mantan rekan setimnya, Aitor Arregi, pemegang bintang Michelin.

    Arregi menegaskan bahwa De la Fuente tidak pernah berubah, baik saat masih menjadi pemain, pelatih, maupun selama masa penganggurannya; ia tetap rendah hati, sopan dalam bersikap, dan berpegang teguh pada nilai-nilai kemanusiaannya.

  • Kesempatan yang mengubah segalanya

    Pada Mei 2013, Federasi Sepak Bola Spanyol mulai mencari pelatih baru untuk tim nasional U-19. Koordinator tim nasional usia muda, Genis Meléndez, awalnya mempertimbangkan untuk merekrut Fernando Morentis, namun yang bersangkutan lebih memilih untuk tetap di akademi Real Madrid.

    Saat itulah pelatih berpengalaman Iñaki Saiz, sahabat dekat De la Fuente, turun tangan dan sangat merekomendasikannya, dengan menegaskan bahwa De la Fuente adalah orang yang paling tepat untuk tugas tersebut. Benar saja, De la Fuente pun mendapatkan kesempatan wawancara, dan dari situlah perjalanan barunya dimulai.

    Awalnya, Federasi Sepak Bola Spanyol hanya memberinya kontrak selama tiga bulan. Namun, de la Fuente yakin bahwa kesempatan ini akan menjadi awal dari proyek jangka panjang, sehingga ia menyewa sebuah apartemen di Madrid sejak hari-hari pertamanya, dengan keyakinan bahwa ia akan tetap bertahan di federasi tersebut. Keyakinannya itu tidak sia-sia.

    Federasi memperpanjang kontraknya meskipun ada beberapa kegagalan di awal, lalu ia mulai meraih kesuksesan bersama berbagai kelompok usia, membawa Spanyol meraih gelar-gelar Eropa dan dunia di level junior, sebelum akhirnya ditunjuk sebagai pelatih tim nasional senior. Kini, kontraknya berlaku hingga tahun 2028, setelah ia menjadi salah satu pelatih terkemuka dalam sejarah sepak bola Spanyol modern.

  • Sebuah pesan yang melampaui sepak bola

    Terlepas dari semua kesuksesan yang telah diraihnya, orang-orang terdekat De la Fuente menegaskan bahwa ia tetap mempertahankan ketenangan yang sama seperti yang menjadi ciri khasnya di masa-masa tersulit. Ia juga selalu memastikan keluarganya tetap berada di dekatnya selama pemusatan latihan tim nasional, sebuah langkah yang mencerminkan keyakinannya akan peran besar yang dimainkan keluarganya dalam membantunya melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya.

    Anggota keluarganya berpendapat bahwa menyaksikan Luis memimpin Spanyol di final Piala Dunia merupakan imbalan terbesar atas tahun-tahun kesabaran dan penderitaan, setelah perjalanan yang dimulai dengan pemecatan dan pengangguran, dan berakhir dengan persaingan memperebutkan gelar tertinggi.

    Kisah Luis de la Fuente tidak hanya sekadar kisah kesuksesan seorang pelatih di dunia sepak bola, tetapi juga memberikan pelajaran kemanusiaan bagi siapa pun yang sedang mengalami masa kehilangan pekerjaan, kekecewaan, atau perasaan bahwa semua pintu tertutup di hadapannya.

    Selama delapan belas bulan, pria ini mengalami kecemasan, kesulitan finansial, dan ketakutan akan dilupakan, namun ia menolak menyerah. Ia memanfaatkan waktunya untuk belajar, mengasah kemampuannya, dan tetap percaya bahwa kesempatan akan datang, seberapa pun terlambatnya. Dan ketika kesempatan itu tiba, ia sudah sepenuhnya siap.

    Oleh karena itu, perjalanan De La Fuente dari pengangguran hingga final Piala Dunia bukan sekadar kisah sukses olahraga, melainkan bukti nyata bahwa kegagalan bisa menjadi awal yang baru, dan bahwa masa-masa tersulit pun dapat berubah, dengan kesabaran, kerja keras, dan keyakinan, menjadi kisah kemenangan yang paling agung.