Infantino

Diterjemahkan oleh

Bayang-bayang "FIFA Gate" Kembali: Perang Arsip Digital Membuka Jalan bagi Penggulingan Infantino

Gianni Infantino, presiden Federasi Sepakbola Internasional, berada dalam posisi yang tidak menyenangkan, setelah manuver terbaru dari UEFA dan sejumlah federasi lokal yang menentangnya untuk menghentikan proyeknya terkait penjualan sebagian dari turnamen Piala Dunia.

Situs "Foot Mercato" hari ini memublikasikan laporan panjang, yang membahas posisi Infantino serta kemungkinan kepergiannya dari jabatannya dalam beberapa bulan mendatang, akibat skandal "proyek FIFA Forward".

Setelah Federasi Sepakbola Eropa memaksa Gianni Infantino meninggalkan rencananya untuk membangun struktur komersial guna menarik para investor dari sektor swasta ke kompetisi-kompetisi FIFA di masa depan, UEFA membuka front baru dengan menuntut penyimpanan segera seluruh dokumen yang berkaitan dengan kasus ini.

Ancaman ini dianggap serius, karena federasi Eropa tidak lagi berbicara tentang perbedaan strategis atau perbedaan dalam tata kelola, melainkan kini mengisyaratkan kemungkinan menempuh jalur peradilan, arbitrase, dan pengaduan regulasi.

 Dalam pemberitahuan resminya kepada FIFA, federasi Eropa meminta penyimpanan surat elektronik, dokumen elektronik, komunikasi internal, penawaran finansial, dokumen yang berkaitan dengan para investor, serta seluruh informasi yang tersimpan secara digital yang dapat memberikan gambaran mengenai awal mula proyek "FIFA Forward" dan persiapannya.

  • Kemiripan dengan Skandal "FIFA Gate"


    Di balik permintaan ini tersimpan satu pertanyaan sentral yang bisa berujung pada berakhirnya masa jabatan Infantino: siapa yang sebenarnya mengetahui apa, kapan, dan dengan tingkat keterlibatan seperti apa? Persoalan sebenarnya tidak lagi sekadar memahami alasan FIFA ingin membuka sebagian aset komersialnya kepada modal swasta, melainkan menentukan bagaimana gagasan ini dikembangkan, diverifikasi, dan dipaparkan kepada 211 asosiasi anggota.

    Dengan demikian, kasus ini mengambil dimensi yang menyerupai investigasi institusional, di mana setiap berkas digital bisa menjadi bukti potensial. Kemiripan dengan skandal "FIFA Gate" pada 2015 pun tak terhindarkan, sekalipun kedua krisis itu tidak mengikuti mekanisme yang sama. Kala itu, investigasi Amerika terhadap jaringan korupsi dan pembayaran tersembunyi menjadi penyebab tumbangnya Sepp Blatter dan menimbulkan kerusakan berat pada citra FIFA.

     Adapun kali ini, bahayanya terletak pada tata kelola, pemusatan kekuasaan, serta cara yang diduga dipakai untuk menyusun reformasi bernilai miliaran dolar. Pertanyaan yang diajukan para penentang Infantino pun sederhana: apakah badan-badan pengelola FIFA terlibat sepenuhnya dalam proses tersebut, ataukah sebagian pembahasan berlangsung di balik pintu tertutup?

     Kemungkinan masuknya investor dari sektor swasta, pembahasan dengan pihak-pihak finansial, di samping proyeksi ekonomi yang mengelilingi Federasi Sepak Bola Internasional, dapat menjadi faktor penentu apabila proses hukum dimulai.

     Dalam konflik jenis ini, pertempuran tidak hanya berlangsung di ruang-ruang pengadilan atau ruang rapat dewan. Pertempuran juga terjadi di server, dalam catatan surel, metadata, serta dokumen-dokumen internal yang memungkinkan penyusunan ulang kronologi keputusan secara akurat.

  • Iklan
  • Serangan Siber: Mimpi Buruk FIFA


    Obsesi terhadap bukti digital ini datang di saat dunia olahraga menjadi sasaran utama serangan siber dan operasi pengaruh. Sepak bola modern kini berfokus pada data komersial, finansial, personal, dan politik, sesuatu yang menarik para pelaku kejahatan siber dan pihak-pihak yang berupaya mengguncang stabilitas institusi.

    Kompetisi internasional besar merupakan yang paling rentan terhadap risiko, mengingat besarnya uang, popularitas global, dan bobot diplomatik yang terkumpul di dalamnya. Sebelum dimulainya Piala Dunia 2026, sejumlah otoritas keamanan siber telah memperingatkan bahaya situs FIFA palsu, kampanye phishing, pencurian data, serta operasi manipulasi yang terkait dengan acara tersebut.

     Dan sepak bola tidak terlepas dari realitas ini. Pada 2025, Federasi Sepak Bola Prancis mengalami serangan siber yang membocorkan data para anggotanya, sementara sejumlah studi terbaru menunjukkan bahwa mayoritas organisasi olahraga telah menjadi target serangan siber.

     Dalam kasus Infantino, tidak ada bukti adanya peretasan atau kebocoran besar pada tahap ini, tetapi sekadar kemungkinan munculnya dokumen internal saja dapat mengubah keseimbangan kekuatan sepenuhnya. Bocornya korespondensi pribadi, proyeksi finansial, atau komunikasi dengan para mitra dapat mengubah krisis politik menjadi krisis institusional besar.

    Skenario yang paling ditakuti oleh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) di atas yang lainnya adalah "skandal data", yaitu sebuah krisis yang tidak dipicu oleh skandal hukum konvensional, melainkan oleh kemunculan bertahap dokumen-dokumen internal yang dapat mengungkap seluk-beluk proyeknya yang kontroversial.

    Dalam kasus-kasus besar kontemporer, informasi yang paling sensitif kerap berasal dari jejak yang tersisa di dalam sistem digital. Kontrak awal, korespondensi dengan bank, memorandum strategis, simulasi pendapatan, presentasi kepada para investor, atau diskusi internal, semuanya cukup untuk menjawab berbagai pertanyaan Uni Sepak Bola Eropa.

    Pemberitahuan resmi yang dikirimkan kepada Infantino memperoleh dimensi simbolis khusus di sini, karena Uni Eropa secara tegas memperingatkan bahwa segala bentuk perusakan, penghapusan, pengubahan, atau hilangnya dokumen yang relevan dapat dianggap sebagai pencurian bukti.

  • Lalu bagaimana dengan hukum dalam semua ini?


    Dalam organisasi berpengaruh seperti FIFA, data internal terkadang menjadi kontrol terakhir atas keputusan-keputusan yang diambil di level tertinggi. Karena itu, perseteruan mengenai bukti ini melampaui persoalan program "FIFA Forward Enterprise", sebab ia menyentuh inti model pengelolaan sepakbola dunia, serta cara menuntut pertanggungjawaban sebuah organisasi swasta yang memiliki pengaruh ekonomi global.

    Seandainya Uni Sepakbola Eropa atau pihak-pihak lain memutuskan untuk melanjutkan, terdapat sejumlah kerangka hukum Eropa yang bisa dijadikan landasan.

     Pasal 101 dan 102 Traktat tentang Fungsi Uni Eropa, secara khusus, merupakan dua senjata potensial dalam hal ini.

     Pasal pertama melarang kesepakatan dan praktik yang berpotensi mendistorsi persaingan, sementara pasal kedua menghukum penyalahgunaan posisi dominan. FIFA menempati posisi yang unik, sebab ia menggabungkan peran sebagai penyelenggara kompetisi internasional, badan pengawas sepakbola dunia, dan pengelola aset komersial yang bernilai miliaran euro.

    Pemusatan kekuasaan ini dapat dikaji dalam kerangka hukum Eropa, sejak dikeluarkannya putusan bersejarah oleh Mahkamah Peradilan Uni Eropa dalam kasus Super League pada Desember 2023.

    Mahkamah Peradilan Eropa sebelumnya telah menegaskan keharusan bagi badan-badan olahraga yang terlibat dalam aktivitas ekonomi untuk mematuhi aturan transparansi, kriteria objektif, dan mekanisme pengawasan saat mengambil keputusan yang memengaruhi pasar.

     Pasal 165 Traktat tentang Fungsi Uni Eropa bisa menjadi argumen utama bagi para penentang proyek FIFA, sebab pasal ini mengukuhkan kedudukan khusus olahraga di dalam Uni Eropa dan membela sebuah model yang berlandaskan pada fungsi-fungsi sosial, edukatif, dan kulturalnya.

     Dengan demikian, di balik perseteruan ini terdapat benturan antara dua visi sepakbola. Para pengkritik FIFA dapat berpijak pada prinsip-prinsip tata kelola yang baik yang dirumuskan oleh Dewan Eropa melalui Konvensi Macolin tahun 2014 tentang integritas olahraga, yang menekankan perlunya mekanisme yang transparan untuk melindungi kompetisi.

     Terakhir, regulasi Eropa mengenai subsidi asing, yang diadopsi pada tahun 2023, bisa menjadi sorotan seandainya para investor yang memperoleh dukungan pemerintah mengambil alih saham dalam struktur komersial yang terkait dengan sepakbola dunia. Pada tahun 2015, para penyelidik mencari uang, sedangkan pada tahun 2026, para penentang mencari jejak digital.

  • SUKA CERITA INI?

    Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

    Ikuti GOAL di Google