Sepak bola Senegal kini berada dalam situasi yang genting, setelah Timnas Senegal tersingkir lebih awal dari putaran final Piala Dunia.
Timnas Senegal memulai perjalanannya di Piala Dunia dengan kekalahan dalam dua pertandingan pertama melawan Prancis dan Norwegia, sebelum kembali ke jalur kemenangan dengan mengalahkan Irak dan lolos ke babak 32 besar sebagai salah satu dari tiga tim terbaik.
Dalam laga melawan Belgia di babak 32 besar, rekan-rekan Sadio Mané sempat unggul 2-0 hingga menit ke-86, sebelum tim Eropa itu bangkit dan meraih kemenangan dramatis 3-2 setelah perpanjangan waktu.
Kegagalan dini ini memicu kemarahan masyarakat Senegal, yang mendorong Asosiasi Sepak Bola Senegal untuk memecat pelatih Babi Thiaw beserta staf teknisnya.
Krisis ini tidak berhenti sampai di situ, melainkan kemarahan semakin memuncak seiring terungkapnya beberapa hal kontroversial ke publik, yang bahkan mencapai tingkat “skandal”.
Para pendukung Senegal sempat berharap tim mereka bisa melaju jauh di Piala Dunia, setelah penampilan gemilang “Singa Teranga” di Piala Afrika, namun tampaknya “kutukan Maroko” kembali menghantui sepak bola Senegal, menyusul krisis terkenal di final Piala Afrika tersebut.
Senegal memang memenangkan pertandingan final Piala Afrika dengan skor 1-0 setelah perpanjangan waktu, namun CAF kemudian mengeluarkan keputusan untuk mencabut gelar tersebut dari “Singa Teranga” dan memberikannya kepada Maroko, menyusul kekacauan yang terjadi akibat penarikan diri.



