Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Spain v Saudi Arabia: Group H - FIFA World Cup 2026Getty Images Sport

Diterjemahkan oleh

Analisis... Bagaimana Spanyol menghancurkan peluang Donis di hadapan mata dunia?

Kekalahan tim nasional Arab Saudi dari Spanyol bukan sekadar kegagalan biasa saat menghadapi salah satu kandidat terkuat untuk menjuarai Piala Dunia 2026, melainkan sebuah pertandingan yang mengungkap banyak masalah teknis dan taktis yang dialami “Al-Akhdar” sepanjang 90 menit.

Sejak peluit kick-off dibunyikan, terlihat jelas bahwa tim nasional Spanyol datang dengan strategi serangan yang agresif dan keinginan yang kuat untuk menyelesaikan pertandingan lebih awal, sementara “Al-Akhdar” tampil sangat jauh dari penampilan yang mereka tunjukkan saat melawan Uruguay di babak pertama, baik dalam hal organisasi pertahanan, kemampuan menguasai bola, maupun dalam melaksanakan transisi serangan.

  • Spain v Saudi Arabia: Group H - FIFA World Cup 2026Getty Images Sport

    Donis sudah kalah sebelum pertempuran dimulai

    Pelatih asal Yunani, Georgios Donis, mengejutkan semua orang dengan menerapkan formasi pertahanan yang terdiri dari lima bek, dalam upaya menutup ruang di hadapan lini serang Spanyol, terutama dengan kehadiran Lamine Yamal dan Mikel Oyarzabal di sayap.

    Namun, apa yang terjadi di lapangan justru sangat berbeda. Strategi tersebut tidak memberikan ketangguhan pertahanan tambahan; sebaliknya, justru muncul ruang-ruang kosong yang luas di antara para bek dan di belakang mereka. Selain itu, para gelandang juga mengalami kelemahan yang jelas dalam menutup ruang, sehingga tim nasional Spanyol dapat dengan mudah menemukan berbagai cara untuk mencapai gawang Mohammed Al-Owais.

    Yang lebih berbahaya lagi, Arab Saudi sepenuhnya kehilangan identitas serangannya; mereka tidak mampu menguasai bola atau melancarkan serangan balik yang sebelumnya menjadi salah satu senjata andalan mereka saat melawan Uruguay, sehingga pertandingan berubah menjadi serangan Spanyol yang terus-menerus dan pertahanan Arab Saudi yang terus berada di bawah tekanan.

  • Iklan
  • Spain v Saudi Arabia: Group H - FIFA World Cup 2026Getty Images Sport

    Lamine Yamal... Mimpi Buruk Tim Saudi

    Meskipun sebelum pertandingan banyak dibicarakan tentang perlunya menghentikan Lamine Yamal dan membatasi ruang geraknya, kenyataannya justru sangat berbeda.

    Bintang asal Spanyol itu berhasil memanfaatkan ruang kosong sejak menit-menit awal, dan membuka skor setelah terjadi kelengahan yang jelas di dalam kotak penalti, ketika umpan silang sampai kepadanya tanpa ada tekanan berarti dari para bek Saudi.

    Gol Yamal bukan sekadar aksi individu, melainkan cerminan langsung dari kekacauan yang menguasai barisan belakang, serta ketidakjelasan peran pertahanan antara pemain sayap dan dua bek tengah.

    Seiring berjalannya waktu, ancaman yang ditimbulkan Yamal terus berlanjut, baik melalui pergerakannya ke dalam maupun di sayap, sehingga ia menjadi titik awal utama serangan Spanyol.

  • Spain v Saudi Arabia: Group H - FIFA World Cup 2026Getty Images Sport

    Tiga menit mengungkap segalanya

    Jika gol pertama tercipta akibat kesalahan pertahanan, maka menit-menit saat Mikel Oyarzabal mencetak dua golnya sudah cukup untuk menggambarkan semua masalah yang dihadapi tim nasional Arab Saudi.

    Hanya dalam waktu tiga menit, Spanyol berhasil menembus lini pertahanan lebih dari sekali, memanfaatkan jarak yang terlalu jauh antar lini serta posisi yang kurang tepat di dalam kotak penalti.

    Para bek terus-menerus mundur, sementara para gelandang gagal memberikan dukungan yang dibutuhkan, sehingga area di depan gawang Saudi berubah menjadi ruang terbuka bagi para pemain La Roja.

    Akibatnya, tim tuan rumah kebobolan dua gol berturut-turut yang secara praktis mengakhiri pertandingan sebelum genap setengah jam berlalu.

  • SUKA CERITA INI?

    Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

    Ikuti GOAL di Google
  • Spain v Saudi Arabia: Group H - FIFA World Cup 2026Getty Images Sport

    Penghancuran tanpa ampun

    Angka-angka tersebut mencerminkan dominasi Spanyol sepanjang pertandingan; Spanyol menguasai bola hingga 65%, sementara tim nasional Saudi hanya 35%. Mereka juga unggul telak dalam hal jumlah tembakan, peluang yang diciptakan, serta duel-duel di darat dan udara.

    Tim Hijau tidak hanya kehilangan bola, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk mengatur barisan atau mengatur napas, karena tim Spanyol selalu merebut kembali penguasaan bola dalam hitungan detik setelah bola hilang.

    Tekanan yang terus-menerus ini membuat tim Saudi menghabiskan sebagian besar waktu pertandingan di wilayah pertahanannya sendiri, yang menguras tenaga para pemain baik secara fisik maupun mental.

    Jumlah tembakan Spanyol mencapai 20 kali, sedangkan tim nasional Saudi hanya 3 kali, yang menunjukkan betapa beratnya perjuangan yang mereka alami.

  • Gol bunuh diri menjadi ringkasan malam pertahanan tim Saudi

    Di awal babak kedua, tim nasional Arab Saudi kembali mendapat pukulan setelah Hassan Tambakti mencetak gol bunuh diri ke gawangnya sendiri.

    Meskipun gol tersebut tercipta akibat kesalahan rekan setim, adegan tersebut memperlihatkan berlanjutnya masalah pertahanan yang sama, di mana Mark Kokoria dibiarkan tanpa pengawalan saat tendangan sudut dieksekusi, sehingga ia dapat menyambut bola dengan leluasa sebelum bola memantul dari Al-Owais lalu ke Tambakti dan masuk ke gawang.

    Gol ini menjadi ringkasan sempurna dari apa yang terjadi sepanjang pertandingan: posisi yang buruk, kurangnya pengawasan, dan kesalahan berulang dalam menangani umpan silang serta tendangan bebas.

  • FBL-WC-2026-MATCH38-ESP-KSAAFP

    Pelajaran yang berat menjelang babak penentuan

    Kekalahan dari tim sekelas Spanyol bukanlah bencana itu sendiri, namun cara terjadinya menimbulkan banyak tanda tanya.

    Tim nasional Saudi tidak kalah hanya karena perbedaan kualitas individu, melainkan karena keunggulan Spanyol yang jelas dalam hal taktik, organisasi, dan fisik.

    Tim pelatih yang dipimpin Donis masih memiliki banyak pekerjaan rumah menjelang laga berikutnya melawan El Salvador, terutama terkait pengaturan lini, meminimalkan ruang kosong, dan meningkatkan kemampuan mengolah bola di bawah tekanan.

    Jika hasil imbang melawan Uruguay memberi harapan kepada suporter Saudi untuk lolos, maka pertandingan melawan Spanyol menjadi pengingat yang keras tentang seberapa besar usaha yang dibutuhkan untuk bersaing dengan tim-tim besar dunia, serta bahwa organisasi dan disiplin taktis tetap menjadi kunci kesuksesan dalam turnamen besar semacam ini.