Zinedine Zidane Real Madrid 2019-20Getty

Diracik Zinedine Zidane, Real Madrid Menuju Kesempurnaan - Kokoh Di Semua Lini

Perubahan itu terjadi di Son Moix. 

Real Madrid memulai musim dengan gontai, kekalahan 7-3 di pramusim dari Atletico Madrid masih terasa dan catatan itu diikuti oleh hasil imbang di hadapan Real Valladolid dan Villarreal. 

Kemudian Paris Saint-Germain menjadi tes keras berikutnya. Pasukan Zinedine Zidane tumbang dengan skor telak 3-0 bahkan mungkin bisa lebih buruk dari itu. 

Benteng pertahanan Los Vikingos hanur berantakan di hadapan kekuatan lini serang raksasa Prancis. Jangan lupa, ketika itu Neymar terkena sanksi, Edinson Cavani dan Kylian Mbappe cedera tetapi PSG sanggup mengoyak gawang Thibaut Courtois. 

Pada titik itu, clean sheet terakhir yang sanggup dicatatkan oleh bintang asal Belgia tersebut tercipta pada Februari. Ya, Courtois tidak lagi terlihat sosok perkasa yang pernah tampak ketika berkostum Atleti dan Chelsea. 

Berikutnya Club Brugge menikmati kesempatan membobol gawang di Santiago Bernabeu saat kedua tim bermain sama kuat 2-2. Lalu krisis dianggap melanda El Real saat tumbang 1-0 di Son Moix kandang Real Mallorca. Musim si perkasa Real Madrid dinilai di ambang kehancuran. 

Masa depan Zidane bahkan dipertanyakan, gosip kembalinya Jose Mourinho berkembang deras. Seperti itulah situasi buruk yang dihadapi Madrid. 

"Duel di Mallorca jadi titik balik," ujar Luas Vazquez tidak lama setelah Madrid menghancurkan Real Zaragoza 4-0 di Copa del Rey. "Episode itu diikuti oleh sederet performa dan hasil bagus."

Sang winger tidak sedang berbohong. Akhir pekan ini Los Merengues akan meladeni tantangan Los Rojiblancos dengan status penguasa sementara klasemen LaLiga Spanyol. Setelah kemenangan di Son Moix, kembali ke habitat aslinya sebagai tim dengan kekuatan mengerikan dengan melalui 20 pertandingan tanpa menelan kekalahan. 

Sebagai pemanis, caatan itu juga diiringi dengan koleksi 45 gol, hanya sembilan kebobolan dan menikmati kesuksesan merajai Piala Super Spanyol. 

Zinedine Zidane, Real MadridGoal

Pasukan Zidane berubah total. Mereka tidak lagi berleha-leha. Lini belakang memperlihatkan peningkatan mencolok dengan permainan di atas lapangan yang sulit ditebak. Untuk pertama kali sejak Zidane menikmati gelar ganda pada 2016/17, El Real kembali ditakuti. 

Kebangkitan ini bermula dari kinerja lini pertahanan yang luar biasa. Sebelumnya Madrid menyandang status tim elit dengan lini belakang berpori. Musim lalu mereka ada di urutan keenam tim paling sering kebobolan, bahkan lebih buruk dari Leganes yang menempati peringkat 13 liga. Semusim sebelumnya, mereka ada di urutan kelima, kebobolan 44 gol, berbanding 22 milik Atletico. Setiap satu gol yang diderita pasukan Diego Simeone, EL Real dihajar dua. 

Tetapi situasinya sekarang berbeda, benteng pertahanan Madrid adalah yang terbaik. Mereka hanya kebobolan 13 dari 21 pertandingan yang berarti menyamai catatan terbaik yang pernah mereka raih pada musim 1964/65 dan 1987/88.

Madrid tentunya mengetahui catatan itu dan mereka secara gamblang menuliskan keunggulannya dengan menyebut Atletico, PSG dan Stade Reims punya jumlah kebobolan 14, sementara jawara Eropa Liverpool 15. 

Kegemilangan pertahanan Madrid ini memang sudah menjadi keharusan. Kepergian Cristiano Ronaldo yang selalu jadi andalan membuat mereka menyadari tidak lagi bisa berharap pada kemampuan mencetak gol yang lebih banyak dari lawan untuk memastikan kemenangan. 

Ferland Mendy yang sekarang lebih sering dimainkan menjadi isyarat kuat perubahan strategi Zidane. Marcelo adalah senjata menyerang yang brilian tetapi sering dinilai lupa pada tugas utama untuk bertahan. Mendy punya kemampuan menyerbu layaknya truk tetapi dia tahu betul tanggung jawab sejati yang diembannya. Tanpa Ronaldo, sekarang semua anggota tim Madrid tidak lagi punya kebebasan secara sempurna di tengah lapangan. Mereka punya tugas khusus dan El Real sekarang lebih terlihat sebagai sebuah unit yang solid. 

Zaragoza Real Madrid Copa del Rey

Cedera Gareth Bale dan Eden Hazard mungkin ambil bagian dari terciptanya situasi seperti sekarang. Ketika Hazard pulih, akan menarik untuk disimak apakah Zidane akan membenani para pemainnya untuk tetap memperhatikan sektor pertahanan. Jika tidak, maka besar kemungkinan lubang-lubang yang tercipta bisa dieksploitasi lagi oleh lawan. 

Musim ini lini tengah Real Madrid juga punya peran yang lebih penting. Performa Toni Kroos lebih meyakinkan jika dibandingkan dengan musim sebelumnya, aksi Casemiro terus memperlihatkan peningkatan dan Fede Valverde adalah tambahan tenaga yang menggiurkan. 

Bersama dengan sentuhan terbaik yang ditemukan lagi oleh Luka Modric, Zidane bisa menurunkan formasi lima gelandang. Ya, lini tengah Madrid sekarang tidak hanya lebih sering menguasai bola tetapi juga punya senjata yang lebih lengkap untuk menghentikan serangan lawan.

Dari situasi tersebut menjadi tidak mengherankan jika Courtois tidak terlalu sering memeras keringat di bawah misar gawang. Musim ini, El Real telah melewatkan tiga laga di mana tidak satupun tendangan lawan terarah ke gawang. Terkini terjadi ketika Madrid menang 1-0 di markas Real Valladolid pada pekan lallu. Pertandingan ini seakan mengukuhkan superioritas lini pertahanan El Real. 

Thibaut Courtois Real Madrid GFXGetty Images

Ketika benteng pertahanan Madrid bisa ditembus, lawan harus berhadapan dengan kebangkitan Courtois. Kepercayaan diri sang penjaga gawang memang sudah kembali. 

Courtois sudah menemukan lagi sentuhan terbaiknya dan dia berpeluang menjadi kiper pertama Real Madrid yang mengangkat trofi Zamora - penghargaan untuk kiper dengan jumlah kebobolan paling sedikit - sejak Iker Casillas melakukannya pada 2008.

Coirtois diejek pada awal musim hingga sempat mencicipi bangku cadangan untuk memberi ruang pada Alphonse Areola tetapi sekarang ceritanya lain. Dia bisa mengamakan penghargaan indivu bergengsi yang pernah didapatkannya bersama Atleti pada 2013 dan 2014. 

Sergio Ramos juga tidak terlalu membabi-buta seperti dahulu. Pada musim ini dia baru mengoleksi lima kartu kuning di semua kompetisi - Bek Barcelona Gerard Pique punya 13. Bermain bersama Mendy, Tekel Ramos tidak lagi seceroboh dahulu. 

Raphael Varane yang tidak banyak berbicara secara konsisten memperlihatkan performa berkualitas dan di sektor kanan Dani Carvajal terus menyuguhkan performa impresif. 

Tes berat berikutnya adalah Manchester City di babak 16 besar Liga Champions. Jika Madrid mampu menghentikan daya dobrak salah satu tim dengan kekuatan hebat di lini depan, maka progres mereka dari tim yang ceroboh menjadi solid akan menjadi lengkap.

Sebagai caatan akhir, harus juga disebutkan jika serangan Madrid masih harus diperbaiki namun Zidane masih punya banyak waktu di paruh kedua kompetisi untuk menciptakan sebuah pasukan yang lengkap, perkasa di semua sektor. 

Iklan
0