Andrea Pirlo Marcelo Gallardo Xavi Roberto Martinez GFXGetty Images

Xavi, Andrea Pirlo & Para Pesaing Untuk Gantikan Ronald Koeman Di Barcelona

Presiden Barcelona Joan Laporta dan jajarannya sedang mempertimbangkan siapa yang harus menggantikan Ronald Koeman setelah klub menjalani awal musim yang mengecewakan.

Posisi Koeman sedang di ujung tanduk. Pelatih asal Belanda itu terlihat putus asa di pinggir lapangan ketika Benfica "membelah timnya berkeping-keping" dalam kekalahan memalukan 3-0 di Liga Champions, Kamis (30/9) dini hari WIB.

Azulgrana kembali menelan kekalahan yang menyakitkan. Tim asal Catalan itu mengakui keperkasaan Ateltico Madrid 2-0 di ajang La Liga di Wanda Metropolitano, Minggu (3/10) dini hari WIB. Padahal, jelang pertandingan ini, Laporta sempat menyampaikan kepercayaannya kalau Koeman akan tetap menjadi pelatih klub.

Koeman melihat kekalahan timnya tidak dari pinggir lapangan karena ia menjalani skors. 

Fans berharap bisa melihat Koeman ada di pinggir lapangan untuk terakhir kalinya, dengan mungkin posisinya yang legendaris sebagai mantan pemain yang mencegah pemecatannya.

Di sini, Goal menampilkan kartu-kartu yang bisa digunakan untuk Laporta dan jajarannya dalam mencari pengganti Koeman.

Xavi Hernandez

Xavi pasti akan melatih Barcelona di sejumlah titik dalam kariernya. Ia telah menjelaskan bahwa itu adalah keinginan utamanya dan itu akan melambangkan keinginan klub untuk membawa kembali talenta-talenta lokal, di semua level.

Sang mantan gelandang dan pelatih Al-Sadd saat ini adalah jantung dari Barcelona asuhan Pep Guardiola, seorang legenda klub yang paling menunjukkan nilai-nilai yang ingin dikembalikan Laporta.

Sama seperti sejarah Koeman yang mendapat waktu bahkan ketika hasil tidak berjalan sesuai keinginannya musim lalu, Xavi akan diberi lebih banyak waktu dan kesabaran daripada kemungkinan kedatangan pelatih lain. Skuad akan memandang dia dan para fans akan berada di telapak tangannya.

Xavi Al-Sadd Barcelona GFXGetty Images

Pekerjaan Xavi di Qatar sangat mengesankan dan, sebagai lulusan La Masia, ia mengenal klub luar dalam. Dan, segala sesuatu di sekitarnya, yang merupakan masalah besar di Barcelona, di mana tekanannya sangat besar.

Namun, Laporta meragukan Xavi karena tiga alasan. Ia sangat terkait dengan kampanye saingan pemilihan presiden, Victor Font, dan tidak akan dilihat sebagai pilihan Laporta. Dalam permainan ego, itu penting.

Lebih jauh lagi, pelatih berusia 41 tahun itu akan menjadi pemain kekuatan di klub dan, jika dia berselisih dengan Laporta, seperti yang dialami Koeman, segalanya bisa berubah menjadi buruk.

Lebih masuk akal, tidak seperti Guardiola, Xavi belum melatih Barca B dan tidak dikatakan tertarik melakukannya, yang merupakan sesuatu yang lebih disukai Laporta. Ia tidak memiliki pengalaman sebagai pelatih di luar Qatar.

Xavi adalah akhir dari momen Barcelona. Jika dia tidak berhasil, ke mana Barcelona pergi dari sana tanpa memulai dari awal?

Roberto Martinez

Pelatih Belgia itu disebut-sebut tertarik menangani Barcelona dan merupakan salah satu kandidat terdepan untuk posisi tersebut. "Dalam sepakbola, Anda tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok," ujarnya jelang empat final Nations League.

Baik Martinez maupun sumber dekat dengan Barcelona menyangkal telah ada kontak antarkedua belah pihak, tapi mantan pelatih Everton itu memiliki hubungan yang dekat dengan asisten direktur olahraga Jordi Cruyff, yang bisa menguntungkan dirinya.

Sepakbola menyerang berbasis penguasaan bola ala Martinez akan lebih menyenangkan buat fans Barcelona daripada permainan Koeman, dan Belgia telah melakukannya dengan baik di bawah asuhannya. Namun, ia juga cenderung lebih memilih sistem tiga bek bersama The Red Devils dan dianggap tidak memiliki rencana B.

Roberto Martinez Belgium GFXGetty Images

Lahir di Catalonia, Martinez dipandang di wilayah itu sebagai salah satu dari mereka sendiri, dan namanya sering dikait-kaitkan selama bertahun-tahun dengan Barcelona. Keraguan utama atas dirinya adalah apakah dia akan membuktikan tiruan gaya Guardiola daripada perlakuan yang nyata.

Meski tidak ada kandidat yang memiliki CV manajerial yang cemerlang di level klub, Martinez telah melatih selama 14 tahun dan satu-satunya penghargaan nyata atas namanya adalah memenangkan League One bersama Swansea pada 2008 dan Piala FA bersama Wigan pada 2013.

Setelah tidak menangani klub sejak dipecat Everton pada 2016, itu adalah permintaan besar baginya untuk masuk dan menemukan kembali raksasa yang jatuh.

Andrea Pirlo

Mantan gelandang Italia itu dikatakan sebagai kandidat favorit pribadi Laporta untuk posisi tersebut. Ia pastinya sudah diberitahu.

"Saya tidak akan mengubah (gaya saya) karena beberapa hasil tidak bagus," ujarnya kepada The Athletic. "Itulah yang saya pikirkan tentang permainan, bermain dari belakang, berusaha menjaga bola, mendapatkan kembali penguasaan bola secepat mungkin."

Salah satu frustrasi utama Laporta dengan Koeman adalah taktik defensif sang pelatih lawan tim-tim yang lebih besar, termasuk kembali ke formasi 3-5-2 lawan Benfica.

Pirlo berjuang di Juventus, termasuk menderita kekalahan 2-0 di kandang di tangan Barcelona asuhan Koeman, meski dia kemudian membalaskan dendam di Camp Nou. Timnya juga tersingkir di Liga Champions lawan Porto di babak 16 besar, dalam jenis hasil yang terlalu banyak didapat Barcelona baru-baru ini di Eropa.

Namun, fakta bahwa Juventus mengalami lebih penurunan pada musim ini, dengan saat ini terlempar di urutan kesepuluh, menunjukkan bahwa banyak masalah mereka lebih dalam daripada soal pelatih.

Andrea Pirlo GFXGetty Images

Marcelo Gallardo

Pelatih River Plate adalah orang lain yang sering dikait-kaitkan dengan peran Barcelona dan kontraknya di klub Argentina itu akan berakhir pada Desember.

Ia bisa dibilang sebagai pelatih paling sukses di River dan suka memainkan sepakbola menyerang nan cepat. Pelatih berusia 45 tahun itu juga mampu beradaptasi dan memecahkan masalah dalam permainan, area di mana Koeman kesulitan. Gallardo mendapat dukungan dari Guardiola, yang menyebut karyanya "luar biasa" dan menyebut dia di antara tiga manajer teratas di dunia.

Sementara gaya Gallardo bukanlah stereotip tiki-taka murno, itu mungkin hal yang bagus sekarang ini. Sepakbola telah berkembang dan dia mungkin bisa menawarkan solusi untuk masalah yang dihadapi tim-tim seperti Bayern Munich yang lamban dan Barcelona yang bertahan.

Kepergian Lionel Messi mungkin menjadi pukulan bagi harapan Gallardo karena menunjuk pelatih Argentina juga akan menjadi anggukan preferensi sang mantan kapten. Belum pernah bekerja di Eropa juga akan dipandang secara negatif.

Mantan presiden, Josep Maria Bartomeu, mempertimbangkan Gallardo sebelum menunjuk Quique Setien untuk menggantikan Ernesto Valverde.

Jembatan Menuju Ten Hag

Nama-nama lain telah dikait-kaitkan dengan pekerjaan di Barcelona - dari pelatih Spanyol Luis Enrique, yang mengatakan Laporta bahkan tidak memiliki nomor teleponnya, hingga mantan pelatih Chelsea dan Inter Milan, Antonio Conte. Salah satu alasan Koeman masih memenang jabatannya adalah karena tidak ada satu pun kandidat yang menonjol.

Erik Ten Hag dari Ajax mungkin menjadi taruhan terbaik, tapi dia dikatakan tidak ingin tiba di pertengahan musim. Opsi lain untuk Barcelona adalah menunjuk pelatih muda untuk sementara, untuk membantu terus mengembangkan pemain-pemain muda di dalam skuad, sebelum pindah ke Ten Hag pada musim panas tahun depan.

Albert Capellas, yang bekerja sebagai asisten Jordi Cruyff di Chongqing Lifan, dianggap sebagai orang yang tepat untuk pekerjaan itu. Mantan pelatih tim B, Garcia Pimienta, akan cocok secara sempurna, tapi dia dipecat pada musim panas, sedangkan penggantinya, Sergi Barjuan, harus berjuang.

Jika Laporta memutuskan klub lebih baik tanpa Koeman di posisi pelatih, tapi tidak bisa menentukan penggantinya, maka ini bisa menjadi solusi terbaik dan termurah. 

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0