Buat memahami dampak besar yang diberikan penyerang muda Wilfried Gnonto terhadap bagian tertentu dari basis penggemar FC Zurich, maka saluran YouTube Marco Schonbi adalah tempat yang baik untuk memulai.
Memang saluran tersebut kurang populer karna cuma segelintir pelanggan dan satu video lagu Willy Gnonto. Namun, tetap saja bisa menggambarkan keistimewaan pemain itu.
Dinyanyikan dan dikarang oleh Albis Ryder, lagu tersebut disertai dengan gambar kartun Gnonto. Pesepakbola berusia 18 tahun tersebut menari bersama, dan merupakan bintang muda yang membantu memimpin perjalanan Zurich menuju gelar Liga Swiss.
"Ini Willy Gnonto, 'SuperJoker' Italia," demikian penggalan lagu tersebut yang juga tersedia di Spotify dan Apple Music. Sementara bagian chorusnya diakhiri dengan kalimat, "Dribbing, shoot, goal, pronto!".
Bagaimanapun Gnonto bukan karakter kartun, bahkan jika lagu Ryder juga membandingkannya dengan karakter Looney Tunes. Ia adalah sosok nyata yang punya kemampuan oke.
Gnonto adalah pemain yang memiliki keahlian dalam membawa bola yang sangat mantap. Kemampuan menonjolnya tersebut sudah terlihat sejak ia memperkuat tim kelompok usia Inter Milan.
Kecerdasan permainan dan pergerakan Gnonto di sepertiga akhir memungkinkannya muncul dalam banyak posisi pencetak gol. Ia juga mampu bermain di lini depan secara baik dan telah dibuktikannya saat dipromosikan ke skuad senior.
Sering disamakan dengan Franck Ribery karena punya kemiripan dalam beberapa gaya permainannya. Namun, Gnonto memiliki idola sendiri yang menjadi inspirasinya.
“Saya terinspirasi oleh Raheem Sterling, tetapi saya bermain sepakbola berkat Lionel Messi,” katanya kepada Cronache di Spogliatoio. Dalam wawancara lebih lanjut dengan situs web FC Zurich, ia menambahkan tentang Messi: "Bagi saya dia adalah yang terbaik dalam sejarah."
Gnonto boleh jadi favorit penggemar di Swiss. Namun kisah sepakbolanya dimulai di kota Verbania, yang menghadap Danau Maggiore di barat laut Italia.
Lahir dari orang tua Pantai Gading, Gnonto sudah menunjukkan kecintaannya dengan sepakbola sejak bocah. Ia suka sekali terhadap olahraga paling populer di dunia tersebut.
“Ayah saya seorang pekerja, ibu saya seorang pelayan, dan mereka tidak pernah membuat saya kekurangan apa pun,” ucapnya.
“Kami tinggal di dekat lapangan kecil. Mungkin itu takdir, saya tidak tahu, tetapi ketika saya melihat ke luar jendela, saya hanya bisa melihat bola. Saya sering turun untuk bermain sampai larut malam.
"Tumbuh dewasa, itu sekolah, sepakbola, sekolah, dan lebih banyak sepakbola!"
Sekolah itu berada di Suno, sekitar 80 kilometer di luar Milan, dan di sanalah bakat Gnonto pertama kali ditemukan oleh Inter pada usia sembilan tahun.
"Setelah dua musim di Suno, sekolah sepakbola yang berafiliasi dengan Inter, saya menjalani beberapa uji coba di klub," katanya.
"Saya pergi ke Appiano [tempat latihan Inter] seminggu sekali, lalu saya kembali ke rumah. Pada akhirnya, mereka merekrut saya."
Secara cepat Gnonto belajar apa yang diperlukan untuk menjadikannya sebagai seorang profesional. Ia berkembang di semua tingkat kelompok umur, membentuk kemitraan pada lini serang yang kuat dengan sesama pemuda Italia, Sebastiano Esposito.
Seperti keberuntungan, Esposito sekarang juga berada di Swiss. Ia menikmati masa pinjaman di Basel, tetapi kepindahannya terjadi 12 bulan setelah Gnonto memutuskan untuk meninggalkan klub San Siro.
"Saya ingin bermain," katanya tentang keputusan untuk menolak kontrak profesional di Inter dan sebagai gantinya bergabung dengan Zurich dalam kesepakatan senilai €200.000 pada musim panas 2020.
“Sebelum datang ke sini, saya pikir saya selalu ingin bermain untuk Inter. Bagi saya, hanya ada jersey Nerazzurri."
"Tetapi manajemen di sini segera membuat saya mengerti bahwa saya akan memiliki ruang yang tepat untuk berkembang. Di usia saya, Anda tidak bisa duduk di bangku cadangan."
Memang Gnonto memulai kiprah di klub barunya dengan bermain untuk tim U-21. Hanya saja, setelah mencetak gol pada dua pertandingan pembukaannya, ia lantas dipromosikan ke tim utama.
Di mana Gnonto memberikan turut memberikan assist saat debut melawan FC Vaduz. Itu adalah yang pertama dari empat assist yang ia sumbangkan ketika tampil reguler dari bangku cadangan, sebelum pada hari terakhir musim ini ia mencetak gol untuk pertama kalinya dalam karier seniornya, lagi-lagi menghadapi Vaduz.
Gnonto telah mencetak 10 gol di semua kompetisi, termasuk 10 pertandingan antara November-Maret di mana mengukir tujuh gol. Ia juga menjadi penentu kemenangan melawan juara bertahan Young Boys dan satu gol menghadapi tim peringkat kedua Basel.
Penampilan Gnonto membuatnya mencetak gol atau assist setiap 91 menit pada 2021/22. Ia juga membantu tim Andre Breitenreiter membuka selisih 12 poin di puncak klasemen saat mereka mendekati gelar liga pertama sejak 2009 .
Gnonto hampir selalu dimainkan, dan cuma melewatkan satu pertandingan karena skorsing. Meskipun ia masih lebih sering diturunkan sebagai pemain pengganti.
Bukan cuma di klub saja, Gnonto juga tampil apik bersama timnas Italia dengan cetak lima gol dalam pertandingan pada Kualifikasi Euro U-19 dan membawanya negara melaju ke putaran final ajang tersebut yang digelar di Slowakia pada Juli mendatang.
Pencapaian itu akan menjadi bagian dari musim panas yang menarik bagi Gnonto. Kontraknya di Zurich akan habis pada 2023, yang membuat sejumlah klub Serie A memantau situasinya dengan cermat.
“Motto saya adalah 'selalu bersenang-senang'. Apa pun yang saya lakukan, saya mencoba untuk bersenang-senang," kata Gnonto kepada website resmi klub dalam sebuah wawancara baru-baru ini.
Jika lagu-lagu YouTube yang menarik adalah sesuatu untuk diikuti, penggemar klub juga senang memiliki 'Superjoker Italia' dalam barisan mereka.




