Hanya ada sedikit mantan dan bintang sepakbola Amerika Serikat yang memahami apa yang sedang dirasakan oleh Weston McKennie saat ini.
Anggota USMT berusia 20 tersebut baru saja merampungkan transfer impian ke Juventus di mana dia bakal bermain bersama Cristiano Ronaldo dan bekerja di bawah komando Andrea Pirlo yang tanpa diragukan pasti diidolakannya.
Oguchi Onyewu adalah salah satu dari sedikit yang mengerti itu. Setelah gemilang di sejumlah tim Eropa seperti Metz, Standard Liege dan Newcastle United, Onyewu juga pernah menuntaskan transfer impian pada musim panas 2009 denan berkostum raksasa Serie A Italia AC Milan, untuk berkiprah bersama sejumlah nama besar di olahraga ini.
Ketika itu Onyewu merupakan salah satu dari sedikit pesepakbola Amerika yang bergabung ke klub besar. Dari sudut pandang lain, bergabungnya Onyewu ke Rossoneri merupakan sebuah terobosan bagi sepakbola Amerika karena berarti para pemain USMNT mulai menemukan jalan untuk masuk ke dalam radar tim-tim papan atas Eropa.
Jadi apakah transfer McKennie bisa mengubah persepsi itu? Atau episode ini hanyalah sinyal palsu lainnya?

"Saya pikir ketika Anda berpindah klub, negara tujuan tidak lagi menjadi penting. bukan? Nama klub telah melampaui batas-batas pasar manapun," kata Onyewu pada Goal.
"Juve melampau batas-batas bursa Italia, seperti halnya Real Madrid atau Barcelona di LaLiga atau Chelsea, Liverpool, Manchester United atau Manchester City yang telah melampaui Liga Primer Inggris."
"Bagi McKennie, nama besar klub harus masuk pertimbangan. Bergabung dengan klub prestius bakal berdampak pada betapa pentingnya sepakbola Amerika saat ini di hadapan dunia. Mereka sekarang menganggap kami dengan serius."
Ketika saya bergabung ke Milan pada 2009, saya merasa episode itu tidak nyata. Bintang-bintang harus berada di posisi sejajar dan semuanya harus dikerjakan secara sempurna karena ketika itu, kita tidak banyak melihat pemain Amerika memperkuat tim-tim besar."
Saat transfer terjadi, Onyewu telah mengukuhkan diri sebagai pemain reguler di klub Belgia Standard Liege, dan jadi pemain andalan timnas Amerika.
Dia menjadi pemain kunci pada Piala Dunia 2006 dan pada momen USMNT menciptakan keajaiban di Piala Konfederasi 2009 di mana Onyewu tampil impresif di kemenangan tak terlupakan 2-0 melawan Spanyol yang menghentikan rekor tak terkalahkan bersejarah milik La Roja.
Setelah kepindahannya ke Milan, dia dimasukkan ke sebuah unit bertahan yang berisikan Alessandro Nesta dan Thiago Silva. Debut pemain berpostur 193cm ini bersama Rossoneri secara kebetulan terjadi di Baltimore: sebuah kota yang sedang bekerja keras ambil bagian sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026.
Bagi Onyewu, laga debutnya itu terasa sangat penting: dihadiri 70.000 penggemar yang memenuhi stadion, tidak jauh dari kampung halamannya. Sayangnya, momen itu hanya setitik dari sedikit masa-masa indahnya di San Siro karena petualangan sang bintang di Italia harus diganggu cedera lutut yang berkepanjangan.
Dia hanya memainkan satu laga kompetitif bersama klub – kekalahan di Liga Champions lawan FC Zurich di San Siro – sementara di Italia, Onyewu lebih dikenang karena perkelahiannya dengan Zlatan Ibrahimovic di sesi latihan.
Getty ImagesNamun pemain berusia 38 tersebut selalu mengingat masa-masa di Serie A dengan penuh cinta, seperti halnya dia menikmati momen indah di awal berkarier di Peninsula.
“Sayangnya, saya mengalami cedera parah. Tetapi dalam waktu satu setengah tahun saya belajar, Anda harus percaya pada diri sendiri, Anda harus memiliki kepercayaan diri,” ungkapnya.
“Saya ingat Ronaldinho, di awal kedatangan saya dia berkata, 'Dengarkan, kita berasal dari jalan yang berbeda untuk tujuan yang sama, dan kamu layak berada di sini seperti semua pemain lainnya yang ada di kamar ganti ini.'"
“Saya pikir ketika Anda sebagai pemain percaya dan memahami itu lalu mampu berkata ‘Hei, saya berada di tim yang sama dengan orang-orang ini, saya tidak peduli siapa namanya karena pada akhirnya, ini semua tentang 11 pemain di lapangan. Ttidak ada perbedaan, Anda hanya harus bekerja dan menuntaskan tugas.”
“Saya menyadari, begitu bermain di luar negeri, berada di luar dari perlindungan negara sendiri dan segala elemen yang kita punya, Anda harus mencari cara bagaimana memotivasi diri. Saya mempelajari itu di Milan. Saya memiliki banyak teman baik dari pengalaman itu.”
Satu pemain yang dianggap sahabat ketika Onyewu di Milan adalah Andrea Pirlo, yang kebetulan saat ini bertugas menangani McKennie.
Ini adalah pengalaman pertama Pirlo bekerja sebagai pelatih tim utama untuk menggantikan Maurizio Sarri. Sebelumnya sang mantan gelandang tersebut menukangi tim U-23 si Nyonya Tua.
Seperti kebanyakan orang, Onyewu terkejut dengan penunjukan Pirlo. Akan tetapi dia yakin mantan sejawatnya itu adalah orang yang tepat.
Getty Images“Saya tidak tahu apakah benar-benar pernah memprediksi itu. Saya bahkan tidak tau apakah ada yang sudah memperkirakan itu semua karena kita tidak pernah mendengar kabar apapun tentang ketertarikan Andrea menjadi pelatih sampai tahun ini,” lanjutnya. “Mungkin hanya sebulan sebelum dia mendapatkan pekerjaan sebagai pelatih kepala, kita baru mengetahui jika dia memang ingin lebih terlibat."
“Bagi saya itu masuk akal. Dia seorang jenius di tengah lapangan, karena dia bisa melihat sebuah pertandingan lalu memainkannya di level yang berbeda.”
“Dia adalah salah satu dari sedikit bintang yang mampu bermain dengan temponya sendiri dan terlepas dari apa yang terjadi di sekitarnya, dia bermain dengan kecepatannya sendiri, dan melakukan apa yang ingin dia lakukan.”
“Saya berharap yang terbaik. Ini adalah kesempatan besar baginya. Tapi saya tertarik melihat bagaimana cara dia menerjemahkan dari seorang pemain hebat ke seorang pelatih jempolan. Semoga saja.”
Gantung sepatu pada 2018, Onyewu masih menyandang status sebagai salah satu pesepakbola Amerika yang paling gemilang, dengan catatan 69 caps USMNT yang ditambah kegemilangan di level klub.
Dan sekarang, dia tengah bekerja keras menjadikan Baltimore ikut ambil bagian dalam pesta sepakbola terbesar pada 2026 yang bisa menjadi momen penting lainnya dalam sejarah sepakbola Amerika. Onyewu mengaku senang melihat para pemain seperti McKennie, Christian Pulisic dan Gio Reyna jadi penerusnya.
Getty Images"Sekarang kita punya Weston yang dahulu bermain di Schalke dan sekarang memperkuat Juventus. Kita juga punya Christian di Chelsea lalu Gio Reyna di Dortmund. Anda melihat para pemain muda ini mulai dikenal karena bakat yang mereka miliki, bukan sekadar status kewarganegaraannya," lanjut Onyewu.
"Itu adalah rintangan besar bagi pesepakbola Amerika. 'Apakah kalian cukup bagus? Kalian orang Amerika, apakah kalian lebih sering bermain baseball dan American football?'"
"Saya pikir dalam satu dekate terakhir, kami telah berhasil mengalahkan stigma terseut. Dan saya sangat bangga melihat McKennie sekarang bersama Juventus. Saya juga sangat menantikan bagaimana aksi dan perkembangannya nanti."


