Wawancara Eksklusif: Witan Sulaeman Menatap Eropa

Komentar()
Berbagai cerita Witan Sulaeman sampaikan ketika berkunjung ke kantor Goal Indonesia.

Perjalanan berliku dan terjal ditempuh Witan Sulaeman untuk menjadi pemain timnas Indonesia U-19. Tadinya, tidak ada yang mengetahui namanya karena ia merupakan bocah desa asal Palu. 

Berkat semangat dan kerja keras yang gigih akhirnya Witan bisa menapaki tempat tersebut. Ia selalu ikhtiar dan tak pernah menyerah walau sempat gagal membela skuat Merah Putih. 

Dari sejak kecil Witan memang sudah menyukai sepakbola. Setiap ada waktu ia selalu menyempatkan menyaksikan pertandingan si kulit bundar yang bertanding dekat rumahnya.

Bersama teman-teman kecilnya Witan menonton dari pinggir lapangan pertandingan tersebut. Memang hanya sebatas laga antarkampung saja yang disaksikannya ketika itu.

Namun, kondisi tersebut membuatnya tergugah jadi pesepakbola yang hebat. Keluarga Witan juga mendukung penuh untuk mewujudkan impiannya tersebut dengan berbagai cara. 

"Kadang kalau pertandingan beristirahat sebelum babak kedua, terus kita anak-anak masuk ke lapangan menendang-nendang bola dan di situ saya mulai suka sepakbola," kata Witan ketika berkunjung ke kantor Goal Indonesia.

Melihat bakat yang lumayan membuat Witan dimasukan ke Sekolah Sepakbola (SSB) yang ada sekitar tempat tinggalnya. Di sana ia mulai mempelajari teknik dasar bermain bola yang baik dan benar.

Barulah ketika memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), Witan coba peruntungan dengan mengikuti kejuaraan antarpelajar. Hasilnya memuaskan karena ia dipercaya mewakili Sulawesi Selatan.

Padahal, saat itu ada banyak anak yang mencoba peruntungan. Witan pun tak menyangka bisa mendapatkan kesempatan yang menjadi titik awal dirinya bermain di level nasional. 

Barulah, setelah itu pengagum Barcelona tersebut coba naik level. Witan mengikuti seleksi timnas Indonesia U-16 yang dilaksanakan pada 2015 lalu untuk persiapan Piala AFF.

Sayang, Witan yang lolos seleksi tersebut gagal tampil bersama timnas Indonesia U-16 pada ajang tersebut. Sanksi FIFA yang dijatuhkan membuat impiannya jadi sirna. 

"Waktu itu coach Fakhri [Husaini] yang datang ke Palu. Alhamdulillah cuma saya yang lolos dari Palu. Di sana saya ketemu Egy [Maulana Vikri]. Tapi kami tidak ikut sampai turnamennya," kenang Witan.

"Setelah itu saya balik ke Palu, latihan lagi, latihan lagi, sampai saya kelas 3 SMP saya ikut seleksi di Ragunan, Alhamdulillah keterima," tambahnya seraya tersenyum.

Masuk Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, Witan makin diasah bakatnya. Tempat tersebut sudah banyak menelurkan bintang karena dibuat pemerintah untuk membentuk atlet yang bisa mengharumkan nama Indonesia. 

Karier Witan di SKO Ragunan semakin menanjak. Ia bersama Egy dan sejumlah siswa dari sana diboyong Persab Brebes berpartisipasi dalam Piala Soeratin U-17 pada 2016 lalu.

Dalam ajang tersebut Witan berhasil membawa Persab jadi juara. Ia pun menampilkan performa gemilang sehingga diajak Indra Sjafri untuk menjalani seleksi bersama timnas Indonesia U-19.

Mulai dari situ, Witan terus mendapat kepercayaan bermain dengan timnas Indonesia U-19. Akan tetapi, ia gagal mempersembahkan gelar untuk timnya.

Teranyar, timnas Indonesia U-19 tak berhasil ke Piala Dunia U-20 tahun depan, setelah tersingkir di perempat-final Piala Asia U-19 2018. Meski gagal, Witan menyatakan tetap ada pelajaran yang dapat dipetik.

"Harus bekerja keras di setiap pertandingan karena tanpa kerja keras dan semangat kita tak bisa mencapai yang kita lakukan kemarin," ujarnya.

Perjalanan Witan memang masih sangat jauh, karena saat ini baru berusia 17 tahun dan karier sedang menanjak. Tapi ia percaya lima atau sepuluh tahun lagi bisa mengharumkana nama Indonesia di kancah internasional.

"Semoga ke depannya saya bisa main di Eropa, semoga saya bisa membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia. Saya [juga] mau main di Barcelona."

Witan dan Egy merupakan teman dekat setelah dipertemukan pada seleksi timnas Indonesia U-16 tiga tahun lalu. Pertemanan tersebut berlanjut karena mereka satu sekolah di SKO Ragunan.

Memang Egy merupakan seniornya di sekolah tersebut. Tapi tetap saja, mereka dengan tidak ada jarak dengan menceritakan segala hal mulai dari sepakbola sampai hal lainnya.

Saat ini Egy sudah tidak berada dekat dengan Witan. Winger timnas Indonesia U-19 tersebut harus meninggalkan Tanah Air, karena bergabung dengan klub Polandia Lechia Gdansk.

Witan pun menyatakan Egy tidak mengalami perubahan sama sekali. Sifatnya masih sama seperti dulu yang riang dan selalu berbagi cerita senang serta susah kepadanya.

"Kalau perbedaan dari postur tubuhnya. Dia makin berotot soalnya dia latihannya mungkin gym atau apa jadi lebih berotot. Dia juga lebih kuat dan cepat." 

"Dia sering bicara pengalamannya di sana. Kalau di sana [Eropa] harus kuat, kita harus bisa masak sendiri. Harus pintar bahasa sana. Pokoknya dia sering sharing ke saya."

Tak lupa, Witan menyampaikan pesan khusus untuk sahabatnya tersebut. "Semoga di Eropa kita bisa satu tim."

 

 

ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. Kalahkan Ronaldo & Salah, Modric Rebut Takhta Goal 50
2. Zinedine Zidane Tangani Bayern Munich?
3. Antonio Conte Serang Balik Sergio Ramos
4. Presiden FAT Tak Ingin Fans Indonesia Kuasai Stadion Rajamangala
5. Goal 50 5018: Daftar Lengkap 50 Pemain Terbaik Dunia
Selengkapnya:
Daftar Artikel Terlaris Goal Indonesia

  Footer Banner AFF 2018

 

Artikel Selanjutnya:
PSIS Semarang Bidik Dua Pilar Mitra Kukar
Artikel Selanjutnya:
Emile Smith Rowe: Saya Tolak Barcelona
Artikel Selanjutnya:
Persiba Balikpapan Jalin Komunikasi Dengan Bima Sakti
Artikel Selanjutnya:
Koneksi Prancis: "Dia Berada Di Awan Sekarang" - Francois Kamano Gemparkan Ligue 1
Artikel Selanjutnya:
Barito Putera Berencana Rombak Tim Untuk Musim Depan
Tutup