Walter Zenga - Persita TangerangPersita Tangerang

Walter Zenga Marah Sepakbola Indonesia Dianggap Dunia Ketiga

Mantan penjaga gawang tim nasional Italia Walter Zenga merasa gusar dengan penilaian banyak orang yang menganggap persepakbolaan Indonesia sebagai dunia ketiga.

Zenga telah ditunjuk sebagai direktur pengembangan klub Persita Tangerang hampir dua bulan lalu. Pria berusia 63 tahun ini sudah menetap di kota penyangga Jakarta itu sejak 23 Juni.

Banyak kalangan menyesalkan keputusan Zenga yang memilih bekerja di Tangerang dibandingkan negara maju lainnya dengan menyebutkan Indonesia sebagai negara sepakbola dunia ketiga.

Negara papan atas, terutama Amerika Serikat dan Eropa, kerap menganggap negara miskin dan berkembang sebagai dunia ketiga. Anggapan itu membuat Zenga merasa gusar.

Zenga mencontohkan pengalamannya sebagai pionir pelatih Eropa ke Asia yang dilakukan pertama kali saat menukangi klub Uni Emirat Arab (UEA) Al-Ain pada 2007, dan kemudian ke Al-Nassr selang tiga tahun kemudian.

“[Itu] Membuat saya marah. Tentunya sepakbola Indonesia bukan sepakbola level satu, tapi sepakbola yang berbeda. Ada banyak gairah untuk olahraga ini,” cetus Zenga kepada Corriere dello Sport.

“Lagi pula, saya selalu lebih dulu: pada tahun 2006 saya melatih di Turki, pada tahun 2010 di Arab Saudi di Al-Nassr, di mana Cristiano Ronaldo dan Marcelo Brozovic bermain hari ini.”

“[Di sini] Sangat bagus. Saya pernah ke sini sebelumnya. Saya suka pendekatan kehidupan orang Indonesia, tenang dan sopan. Hanya lalu lintasnya yang buruk. Di usia saya, yang kita pikirkan adalah hari ini. Saya hidup di saat ini, saya tidak lagi melihat ke masa depan.”

Ketika disinggung apakah orang Indonesia mengenal dirinya sebagai salah satu penjaga gawang hebat dalam sejarah sepakbola dunia, Zenga menjawab: “Anda bercanda? Di Jakarta ada salah satu fans club Inter terbesar di dunia. Perwakilan suporter lokal Sampdoria juga pernah datang menemui saya.”

Zenga menambahkan, ia kini sudah menetap di sebuah rumah, serta istri dan anaknya akan menyusul ke Tangerang dari Dubai, UEA, dalam satu pekan ke depan, sehingga mereka bisa berkumpul lagi.

“Saya sudah punya rumah, dan keluarga saya akan datang dalam satu pekan ini. Setelah 12 tahun di Dubai, sekarang saatnya untuk pergi. Anak-anak saya sudah berusia 11 dan 14 tahun. Saya pikir Dubai tidak lagi menjadi tempat yang ideal untuk membesarkan mereka,” tutur Zenga.

“Dubai akan sangat sempurna jika Anda mempunyai gelar sarjana atau memiliki pekerjaan. Terlepas dari itu, justru sebagian besar orang-orang di sana menuntut ilmu ke luar negeri.”

Iklan
0