Valentijn Driessen juga ikut terlibat dalam perdebatan soal pelanggaran pemain PSV Ruben van Bommel terhadap Ajax (1-3). Dalam kolom terbarunya di De Telegraaf, jurnalis itu mengkritik penampilan sang penyerang sayap, tetapi juga secara tegas menyoroti wasit Sander van der Eijk.
Driessen merujuk pada pernyataan terdahulu dari mantan wasit top Mario van der Ende. "Seorang wasit ikut menentukan level sebuah pertandingan," katanya saat itu. Kolumnis tersebut menerjemahkannya ke dalam kata-katanya sendiri. "Seorang pengadil yang baik akan meningkatkan level pertandingan dan membuat pesepak bola bagus terlihat bagus."
"Tentu saja Van Bommel bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Namun, seandainya Van der Eijk membantu Van Bommel setelah duelnya yang nekat dengan Aaron Bouwman dengan kartu merah yang pantas alih-alih kuning. Maka setengah Belanda tidak akan mengecam pemain sayap kiri itu dan dia bisa merenungkan dosanya selama dua atau tiga laga skorsing," kata Driessen.
Pria 63 tahun asal Westland itu melihat bahwa orang tak lagi membicarakan Van Bommel sebagai pesepak bola. "Sebaliknya, pelanggar bernama Van Bommel yang menjadi hot topic. Dari media tradisional hingga media sosial, pembahasannya berkisar dari penjahat sampai tidak dapat dimintai pertanggungjawaban. Setelah pelanggarannya terhadap Bouwman, dia bahkan disarankan mendapat bantuan psikologis. Mungkin yang terakhir itu tidak terlalu aneh setelah semua yang harus ditanggung Van Bommel yang baru berusia 22 tahun."
Driessen menilai pemain sayap PSV itu tetap seharusnya mendapat kartu merah saat melawan Ajax. Jika bukan karena pelanggaran terhadap Bouwman, maka menurut jurnalis itu dia seharusnya menerima kartu kuning kedua atas 'tendangan kasar biasa' kepada Julian Brandt. "Perlakuan istimewa terhadap Van Bommel telah memicu rasa ketidakadilan dan itu bisa saja harus dibayar mahal."
Menurut Driessen, aksinya terhadap bek Ajax itu bisa membuatnya menjadi musuh bersama di banyak stadion sepak bola Belanda. "Tidak adil, tetapi bukan tidak mungkin." Selain itu, dia juga menunjuk ayahnya, Mark van Bommel, yang saat masih menjadi pemain juga tidak populer. "Namun ketika sang ayah bisa bermain licik dan culas dalam memberi tekel dan memprovokasi, putranya melakukannya secara terang-terangan." Dia kemudian merujuk pada insiden terus berlari terhadap Etiënne Vaessen saat melawan FC Groningen (6-1).
Driessen menilai Van Bommel harus segera memperbaiki perilakunya jika tidak ingin mendapat reputasi buruk. "Jangan sampai Van Bommel terjebak dalam jebakan alasan-alasan yang dikemukakan untuknya pada Sabtu. Bahwa perilakunya adalah bentuk mentalitas pemenang atau bahwa dia membutuhkan ini untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Tentu saja Van Bommel tidak harus membiarkan dirinya diinjak-injak," pungkasnya.





