No room for racism 2019Getty

UEFA Gabung Sepakbola Inggris Dalam Umumkan Boikot Media Sosial

Setelah seluruh sepakbola Inggris, yakni FA, Liga Primer, EFL, Liga Super Wanita, Kejuaraan Wanita FA, PFA, LMA, PGMOL, Kick it Out, dan FSA, UEFA kini bersatu untuk melakukan aksi boikot media sosial antara 30 April dan 3 Mei.

Aksi itu dilakukan sebagai upaya untuk "memberantas kebencian online sembari menyoroti pentingnya mendidik orang-orang dalam perjuangan melawan diskriminasi yang sedang berlangsung".

Pemerintah Inggris juga mendapat desakan untuk mengesahkan undang-undang yang kuat dalam RUU Keamanan Online.

Pada musim 2020/21 ini, ada banyak contoh olahragawan yang menjadi sasaran kebencian secara online, namun perusahaan media sosial seperti tidak melakukan cukup upaya untuk meredam menguatnya kebencian online yang terjadi hingga saat ini.

UEFA ikut bersatu untuk mengambil sikap melawan mereka yang terus menodai permainan. Badan sepakbola Eropa itu akan menunjukkan solidaritas dalam memerangi pelecehan online dengan bungkam di media sosial mulai Jumat (30/4).

Tujuan dari boikot ini adalah untuk menunjukkan solidaritas dalam memerangi penyalahgunaan online dan akan berlangsung hingga Senin (3/5) pukul 23:59 waktu setempat.

Presiden UEFA Aleksander Ceferin memberikan dukungan tegasnya pada inisiatif tersebut, dengan mengatakan bahwa tindakan perlu diambil untuk menghentikan penyebaran kebencian dan pelecehan online yang ditujukan kepada pemain-pemain sepakbola dan mereka yang terlibat dengan permainan olahraga ini.

"Ada pelanggaran baik di lapangan maupun di media sosial. Ini tidak dapat diterima dan perlu dihentikan, dengan bantuan otoritas publik dan legislatif serta raksasa-raksasa media sosial. Membiarkan budaya kebencian tumbuh dengan impunitas adalah berbahaya, sangat berbahaya, tidak hanya untuk sepakbola, tapi juga untuk masyarakat secara keseluruhan," demikian ujar Ceferin di laman resmi UEFA.

"Inilah mengapa kami mendukung inisiatif ini. Sudah waktunya bagi sepakbola untuk mengambil sikap dan saya terkesan dengan solidaritas yang ditunjukkan oleh para pemain, klub, dan pemangku kepentingan."

"Saya mendorong semua orang--pemain, klub, dan asosiasi nasional, untuk mengajukan keluhan resmi setiap kali pemain, pelatih, wasit, atau ofosial menjadi korban dari tweet atau pesan yang tidak dapay diterima. Kami sudah muak dengan para pengecut yang bersembunyi di balik anonimitas mereka untuk memuntahkan ideologi berbahaya mereka."

Iklan
0