Mantan striker Juventus, David Trezeguet mengatakan pernah melihat beberapa pemain terbaik dunia tetap bertahan setelah latihan di Turin berakhir untuk melakukan sesi tambahan dan itu menginspirasinya untuk menjadi lebih baik.
Trezeguet menghabiskan sepuluh musim bersama raksasa Serie A antara 2000 dan 2010, bahkan tetap loyal meski pun Juventus terdegradasi ke Serie B pada 2006 lalu akibat skandal Calciopoli.
Ia sukses memenangkan dua Scudetto Serie A bersama klub pada 2002 dan 2003, dan juga bermain bersama beberapa pemain sepakbola terbaik pada masanya seperti Zinedine Zidane dan Alessandro Del Piero.
Trezeguet mengatakan bahkan para pemain terbaik di dunia melakukan latihan tambahan setelah menjalani rutinitasnya, dan etos kerja seperti itulah yang membantunya berkembang menjadi striker tajam di tengah persaingan ketat Serie A yang terkenal defensif.
Ia mengatakan kepada Sky Sport: "Di Juve, saya selalu belajar untuk selalu ingin menang dan menjadi tokoh utama. Liga di Italia adalah yang terberat bagi para penyerang. Secara pribadi saya terkesan melihat banyak pemain dari level tertinggi, seperti Del Piero, Zidane, tidak berhenti setelah latihan dan terus mencoba mengembangkan diri."
Trezeguet mencetak 123 gol dalam 214 penampilannya di Serie A, dan pernah tampil melawan beberapa bek terbaik yang ada di dunia sepakbola.
Dari semua pertarungannya menghadapi para pemain di lini belakang di Italia, mantan penyerang internasional Prancis itu mengingat betul kerja kerasnya saat berjumpa bek-bek AC Milan dan Lazio.
Trezeguet mengatakan: "Di Serie A, ada pemain seperti [Paolo] Maldini dan [Alessandro] Costacurta, yang bermain sangat agresif sebagai bek, tapi yang tersulit adalah pasangan Lazio, yakni Fernando Couto dan [Sinisa] Mihajlovic."
"Saya bekerja keras untuk meningkatkan mental dengan mengetahui permainan mereka, saya banyak berbicara dengan [Ciro] Ferrara, [Paolo] Montero dan [Mark] Iuliano. Mereka mengatakan kepada saya bahwa semua bek bisa melakukan kesalahan dan saran dari mereka membantu perkembangan saya."
Trezeguet juga menikmati karier internasional yang sukses, mengemas 34 gol dalam 71 penampilan bersama Prancis, salah satu golnya turut mempersembahkan torehan gelar juara Euro 2000 setelah mengalahkan Italia.
Namun, ia juga mengalami mimpi buruk, gagal mengeksekusi penalti dalam drama adu penalti di final Piala Dunia 2006, yang membuat Italia balas dendam atas kekalahan mereka enam tahun sebelumnya.
Trezeguet mengatakan saat itu adalah masa sulit yang dialaminya, musim panas yang sama ketika adanya skandal Calciopoli. Meski begitu, ia tetap mengambil langkah positif.
"Sampai saat itu, itu bukan Piala Dunia yang sangat menyenangkan bagi saya. Itu adalah tahun ketika Juve diturunkan ke Serie A," katanya.
"Saya mengambil tanggung jawab. Setiap penalti memiliki cerita tersendiri. Satu yang menghadapi [Gianluigi] Buffon, saya menendangnya dengan baik, tapi sayangnya, begitulah [menerpa mistar]. Masa-masa sulit itu membantu saya menjadi lebih kuat, terutama secara mental."


