Pada musim 2005, publik sepakbola Malaysia digemparkan dengan berita perpindahan Bambang Pamungkas. Sang bintang utama musuh tradisional, Indonesia, bergabung ke Selangor yang merupakan klub raksasa sepakbola Malaysia saat itu. Bagi fans di Malaysia, Bambang Pamungkas bukan nama asing. Hanya tiga tahun sebelumnya, gol tunggalnya di Stadion Gelora Bung Karno telah membinasakan impian Malaysia untuk lolos ke final AFF CUP dengan skor 1-0 untuk kemenangan Indonesia.
Bambang bukanlah pemain Indonesia pertama yang beraksi di Malaysia, tetapi perpindahan tersebut tidak dilihat sebagai transfer pemain yang biasa. Malahan, perpindahan itu mampu mencetuskan transfer buzz yang cukup besar di era tersebut kerana melibatkan sebuah klub ternama di Malaysia serta seorang striker haus gol dari negara jiran yang merupakan musuh tradisionalnya. Pada kenyataannya, perpindahan Bambang Pamungkas ke Selangor telah memberi pengertian baru terhadap perpindahan "bolasepak serantau" .
Saat liga sepakbola dua negara bertetangga ini dihimpit persoalan pandemi Covid-19, transfer hype bolasepak serantau Malaysia dan Indonesia tiba-tiba kembali menyeruak. Malahan, berkembang lebih agresif akhir-akhir ini. Melihat perkembangan yang ada saat ini di Malaysia, berbagai upaya positif sedang dijalankan oleh semua stakeholder guna memastikan kelanjutan musim kompetisi 2021 serta tidak terpengaruh atas situasi yang tidak menentu akibat pandemi Covid-19.

Turnamen bergengsi seperti Piala Malaysia 2020 dibatalkan akibat peningkatan tinggi kasus penularan virus tersebut di Malaysia. Pihak pengelola liga, yaitu Malaysia Football League, tidak menunggu lama dalam mengeluarkan rencana jadwal pertandingan berbagai kompetisi sepakbola Malaysia sepanjang 2021. Penerbitan jadwal ini disertai pula penerapan sports/football buble berdasarkan prosedur kesehatan publik yang ketat. Upaya ini memberi sinyal kepada Kerajaan Malaysia dan pejabat pemerintahan yang berwenang bahwa publik sepakbola Malaysia selalu bertindak proaktif guna memastikan industri tidak menjadi lumpuh meski negara masih terancam Covid-19.
Seperti yang disuarakan Duli Yang Amat Mulia Tengku Mahkota Johor, Tunku Ismail Ibni Sultan Ibrahim yang juga pemilik kelab Johor Darul Ta’zim, melalui akun Instagram-nya bahwa fans sepakbola dapat kembali menikmati musim 2012 dengan protokol baru. Lebih seru lagi, fans diizinkan datang ke stadion dengan kapasitas maksimal 10 persen dari kapasitas stadion.
Jaminan tersebut serta kabar-kabar positif turut dicerahkan pula oleh berita perpindahan pelatih maupun pemain sebelum musim 2021 dimulai. Gaungnya begitu kuat dimainkan oleh media massa lokal serta para pemerhati sepakbola melalui berbagai platform media sosial seperti Twitter dan Facebook. Hal lain yang menarik adalah berita perpindahan pemain ini turut melibatkan pemain-pemain utama dari liga Indonesia. Pasalnya, kelanjutan musim kompetisi liga Indonesia masih berada di ujung tanduk, tanpa ada jawaban pasti apakah dilanjutkan atau ditangguhkan. Situasi tak menentu dan tak ada jaminan inilah yang menimbulkan keresahana di kalangan para pemain di liga Indonesia. Akibatnya, kebanyakan memilih pindah demi meneruskan karier sepakbola mereka.
Bagi Liga Malaysia, perpindahan ini bukan lah sebuah masalah karena setiap tim yang bertanding di Liga Super Malaysia memperoleh kuota satu pemain dari wilayah ASEAN.

Selayaknya wartawan sepakbola tersohor Fabrizio Romano, banyak wartawan olahraga Malaysia yang mulai mengabarkan baik berita resmi maupun rumor transfer bahwa sejumlah bintang dari Indonesia bakal melebarkan sayap mereka dengan bergabung di klub-klub Malaysia. Salah satunya adalah Stefano Lilipaly, yang dikaitkan dengan klub juara Liga Super Malaysia 2020 Kedah, setelah kontraknya di Bali United berakhir.
Dari seluruh rumor transfer yang beredar, hingga kini hanya satu transfer yang terwujud, yaitu kepindahan Ryuji Utomo dari Persija Jakarta ke Pulau Pinang dengan kontrak peminjaman selama satu musim. Perpindahan ini tentunya akan memberi jaminan aksi sepakbola musim 2021 ketimbang sang pemain harus menghadapi ketidakmenentuan jika memilih bertahan di Indonesia.
Seperti kebanyakan pemain lain, Ryuji tentu khawatir dengan tak ada keputusan akhir tentang kelanjutan liga Indonesia sehingga dia tidak pikir panjang begitu menerima pinangan Pulau Pinang. Lebih mengkhawatirkan bagi Ryuji maupun pemain utama timnas Indonesia lain seperti Lilipaly atau Evan Dimas gagal bermain secara kompetitif untuk mempersiapkan diri menghadapi sejumlah pertandingan internasional pada 2021.
Aspek emosi dan psikologi para pemain Indonesia harus diberi perhatian karena mata pencaharian serta kehidupan mereka bersandar pada sepakbola. Jika tidak bertanding, seolah-olah mereka kehilangan segalanya. Liga Malaysia, yang siap dijalankan dengan penerapan norma baru, umpawa penawar yang bisa mengobati serta memberikan ruang bagi mereka dalam mencapai lagi potensi diri serta dan penampilan terbaik.

Kesan positif lain dari perpindahan pemain ini adalah penciptaan bintang bolasepak serantau yang baru. Proses penciptaan bintang ini bisa dilihat sewaktu turnamen seperti Piala AFF digelar. Selepas menjadi topskor Piala AFF 2010, Safee Sali menjadi buah bibir bukan hanya di Malaysia, tetapi juga di Indonesia seiring kepindahannya ke Pelita Jaya. Saat bergabung, Safee juga dielu-elukan selayaknya seorang pahlawan.
Bambang Pamungkas dan Andik Vermansah pun pernah mencatatkan nama dalam lembaran sejarah sepakbola Selangor. Bukan hanya meningkatkan prestasi dan kedudukan tim tersebut di ajang kompetisi domestik, tetapi juga membantu pencapaian kejayaan istimewa yang tak terlupakan bagi Selangor, seperti memenangi Piala Malaysia, dan yang paling membanggakan, Sepatu Emas Liga Perdana 2005 buat Bambang.
Turnamen seperti Liga Champions Asia maupun Piala AFC turut menawarkan kesempatan yang sama. Perpindahan antarliga terbaik pernah terjadi ketika pemain Montenegro asal FC Seoul, Dejan Damjanovic, pindah dari K-League ke klub Liga Super Tiongkok, Jiangsu Sainty pada 2014 lalu. Ada pula Diogo Louis Santo, bintang asal Brasil yang bersinar di Thailand dari musim ke musim, sampai akhirnya pindah ke Johor Darul Takzim pada 2019. Keduanya adalah para bintang ciptaan Liga Champions Asia hasil dari penampilan mereka yang cemerlang dan mengagumkan di turnamen tersebut.
Kesan yang sama dapat muncul seandainya kabar angin yang melibatkan Marc Klok, dikaitkan pindah dari Persija Jakarta ke Kedah; serta Makan Konate dan David Da Silva dari Persebaya Surabaya ke Terengganu; menjadi kenyataan. Marc Klok berasal dari Belanda dan memegang paspor Indonesia, adalah pemain yang punya pengalaman dan didikan Eropa. Tentu dia dapat memberi nilai tambah tinggi bagi Kedah di atas lapangan. Begitu juga dengan Makan Konate dan David Da Silva, striker Brasil yang haus gol ciptaan liga Indonesia dan pernah beraksi di K-League bersama Pohang Steelers.
Status pujaan fans yang dimiliki para pemain tersebut dapat membawa keuntungan dari segi publisitas dan peningkatan popularitas Kedah dan Terengganu di kalangan penggemar Indonesia.
PersijaPada masa yang sama, Kedah dan Terengganu tentunya juga berharap untuk memperagakan aksi cemerlang di Piala AFC 2021. Peluang untuk melakukan hal itu amat diharapkan sekiranya dapat diperkuat para pemain asal Indonesia itu. Bayangkan sekiranya Marc Klok atau Makan Konate muncul menjadi pahlawan tim yang membawa kemenangan-kemenangan penting di babak zona ASEAN Piala AFC dan seterusnya. Hal itu dapat meningkatkan profil dan publisitas para pemain itu sekaligus dapat menjadi batu loncatan untuk berkarier di level liga yang lebih baik di Asia.
Di tengah ketidakjelasan situasi di Indonesia, pihak Malaysia Football League serta pemegang hak siar pertandingan sekiranya juga dapat memanfaatkan peluang uni untuk menyiarkan pertandingan para pemain liga Indonesia di televisi ataupun media elektronik Indonesia. Tujuannya, memanfaatkan kesempatan guna melebarkan pasar serta meningkatkan nilai komersial liga Malaysia. Rasa dahaga fans sepakbola Indonesia untuk menyaksikan pertandingan yang melibatkan para pemain pujaan mereka dapat menjadi faktor pendorong lainnya.
Apa yang pasti, pihak yang lebih banyak menerima hal positif dari proses ini adalah stakeholder industri dan publik sepakbola kedua negara, termasuk para fans. Meski dilanda Covid-19, liga Malaysia mampu memberi harapan dan jaminan aksi bagi para pemain dari seberang yang mengharapkan “normalisasi” kehidupan mereka. Jika proses transfer pemain ternama dari liga Indonesia terus mengalir, ini dapat menjadi langkah signifikan yang mengarah bukan saja pemulihan ekosistem dan liga sepakbola Malaysia, tetapi juga dalam lingkup bola sepak serantau musim 2021. Para pemain liga Indonesia ini akan dianggap memegang peran penting dalam proses pembenahan ulang industri sepakbola di negara-negara serumpun, yaitu di Indonesia sendiri, lalu Malaysia, serta Singapura, dan Brunei Darussalam.
