Heysel Disaster 29051985Getty

Tragedi Sepakbola: Heysel, Momen Terkelam Kompetisi Eropa


OLEH  HAPPY SUSANTO

Selain Hillsborough, yang diperingati tiap 15 April, ada tragedi lain yang menjadi kenangan pahit bagi Liverpool, meski kali ini mereka bukan menjadi korban.

Inilah tragedi Heysel yang terjadi 35 tahun lalu. Sebuah momen kelam tidak hanya bagi pendukung The Reds, tapi yang terutama adalah bagi fans Juventus karena merekalah korbannya.

Setiap kali membicarakan pertemuan antara Liverpool dan Juventus, tragedi Heysel akan selalu melekat kepada kedua klub itu.

29 Mei 1985, Juventus dan Liverpool bertemu di final Piala Champions (sebelum bernama Liga Champions) musim 1984/85, yang berlangsung di Stadion Heysel, Brussel, Belgia.

Kekacauan bermula ketika sejumlah suporter Juventus dan Liverpool saling lempar di salah satu sudut stadion. Sekitar satu jam sebelum kick-off atau tepatnya pada pukul tujuh malam waktu setempat, kedua kelompok tersebut sudah mulai bersitegang.

Mayoritas dari 60.000 penonton yang menyesaki stadion sudah mabuk minum-minuman. Saksi mata menyatakan, fans Juventus lebih dulu melempar batu ke arah bagian tempat duduk pendukung Liverpool.

Tersengat, kubu Liverpool juga ikut melempat batu ke arah lawan. Rupanya kondisi kian memanas. Pendukung Liverpool yang memang unggul jumlah orang mengubah skenario dengan melakukan penyerangan dan merusak pagar pembatas. Padahal, pagar pembatas itu hanya berupa rantai berkawat.

Heysel tragedyHeysel Disaster 29051985Getty

Kalah jumlah, pendukung Juventus berusaha mundur. Namun, mereka terhalang dengan tembok besar. Tembok stadion itu akhirnya runtuh akibat dorongan dan banyaknya jumlah orang di satu tempat. Akibatnya, ada 39 korban meninggal, 32 orang merupakan pendukung Juventus dan tujuh lainnya adalah pendukung netral, yang terdiri dari empat orang Belgia, dua Prancis, dan satu Irlandia Utara. Mereka jatuh dan tertimpa reruntuhan material tembok.

Suporter Juventus yang lain berusaha melakukan balasan, namun usaha mereka dihalangi pihak kepolisian. Yang terjadi justru bentrok antara aparat kemananan itu dan suporter Juventus. Hampir dua jam kejadian bentrok ini berlangsung.

Pertandingan tetap dilangsungkan dan berakhir untuk kemenangan Juventus 1-0 lewat gol tunggal Michel Platini. Namun, fokus tertuju pada kerusuhan di tribune penonton, bukan performa kedua tim di atas lapangan. 

Kenny Dalglish, yang melihat kejadian tersebut dengan mata kepalanya sendiri saat menjadi pemain, tidak akan pernah melupakannya. "Faktanya, korban fatal tidak dialami fans Liverpool karena mereka bisa lari dengan melintas [arah lain]," ujar Dalglish.

"Kami melihat fans Italia menangis dan mereka memukul-mukul bagian luar bus ketika kami keluar meninggalkan hotel," ujar Dalglish lagi. "Ketika kami meninggalkan Brussel, sejumlah orang Italia marah-marah, dan memang bisa dipahami karena ada 39 rekannya yang meninggal dunia.

"Saya ingat betul ada seorang Italia, yang wajahnya tepat di bawah jendela tempat saya duduk. Ia menangis dan marah. Anda bisa rasakan bagaimana dia kehilangan seseorang dalam kondisi seperti itu. Anda pastinya tidak pernah berharap hal itu berakhir demikian," ujarnya.

Tragedi ini mendapat perhatian cukup besar. Pihak kepolisian Inggris kemudian turun tangan melakukan penyelidikan dari berbagai sumber. Ada sebuah film berdurasi 17 menit yang dijadikan sumber, begitu juga sejumlah foto yang merekam kejadian. Namun, hanya 27 orang, sebagian besar dari Merseyside, yang ditahan dengan tuduhan penganiayaan dan pembunuhan. 14 orang dari mereka (semuanya dari pendukung Liverpool) akhirnya resmi dinyatakan bersalah dan dipidana, hukuman penjara selama tiga tahun.

Heysel Disaster 29051985GettyHeysel Disaster 29051985Getty

Pada 30 Mei 1985, UEFA membuat sebuah pernyataan, melalui penyidik resmi mereka, Gunter Schneider, yang isinya menyebut bahwa kesalahan sepenuhnya ada di pihak Liverpool.

Tragedi ini mengundang perhatian dari Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher. Pada 31 Mei 1985, ia mendesak agar tim-tim Inggris dilarang tampil di Eropa. Rupanya, peringatan itu diamini pihak UEFA dengan mengeluarkan keputusan resmi, semua klub Inggris dilarang bermain di Eropa.

Selama lima tahun kemudian, tak ada wakil Inggris di kompetisi UEFA. Tak hanya itu, klub-klub Inggris juga dilarang berkiprah di kompetisi di belahan dunia mana pun hingga 1990. Khusus untuk Liverpool, ada tambahan waktu tiga tahun, namun kemudian direvisi menjadi satu tahun saja.

Tregedi Heysel ini cukup berpengaruh bagi sepakbola di dalam negeri Inggris. Klub-klub Inggris yang seharusnya bisa tampil di level Eropa dan dunia, seperti Manchester United, Arsenal, Chelsea, Tottenham, Everton, dan Nottingham Forest, terpaksa tidak bisa bermain.

Dua puluh tahun berselang, Liverpool dan Juventus dipertemukan kembali dalam partai perempat-final Liga Champions 2004/05. Ada sejumlah gestur yang ingin menunjukkan agar hubungan keduanya membaik ketika laga berlangsung di Anfield. Ian Rush dan Michel Platini membawa sebuah baner yang berisi pesan, "In Memory and Friendship"

Tribune The Kop juga membuat sebuah koreografi mosaik dengan tulisan "Amicizia (persahabatan)" yang ditujukan kepada para suporter Juventus. Maksdunya adalah permintaan maaf kepada kubu suporter Juventus. Memang ada beberapa tifosi yang menyambut permintaan maaf tersebut, tapi ada juga yang masih belum menerimanya karena mereka menganggap kenapa baru dilakukan berselang 20 tahun setelah kejadian kelam itu.

Heysel Belgium 05292015Getty Images

TRAGEDI HEYSEL 1985

Jenis tragedi:Kerusuhan suporter
Lokasi:Heysel Stadium, Brussel, Belgia
Waktu:29 Mei 1985
Korban meninggal dunia:39 orang
Korban luka-luka600 orang


Daftar 39 korban jiwa (mayoritas warga negara Italia dan fans Juventus): Rocco Acerra, Loris Messore, Bruno Balli, Gianni Mastrolaco, Alfons Bos, Sergio Bastino Mazzino, Giancarlo Bruschera, Luciano Rocco Papaluca, Andrea Casula, Luigi Pidone,Giovanni Casula, Bento Pistolato, Nino Cerullo, Patrick Radcliffe, Willy Chielens, Domenico Ragazzi, Giuseppina Conti, Antonio Ragnanese, Dirk Daenecky, Claude Robert, Dionisio Fabbro, Mario Ronchi, Jacques François, Domenico Russo, Eugenio Gagliano, Tarcisio Salvi, Francesco Galli, Gianfranco Sarto, Giancarlo Gonnelli, Giuseppe Spalaore, Alberto Guarini, Mario Spanu, Giovacchino Landini, Tarcisio Venturin, Roberto Lorentini, Jean Michel Walla, Barbara Lusci, Claudio Zavaroni, Franco Martelli  

Iklan
0