Pelatih Malaysia U-17 Osmera Omaro mengungkapkan, anak asuhnya masih diliputi kesedihan atas tragedi Kanjuruhan yang telah memakan korban jiwa 125 orang pada akhir pekan kemarin.
Malaysia U-17 dijadwalkan menghadapi Guam, Rabu (5/10) sore WIB, di Stadion Pakansari Bogor pada laga kedua mereka di Grup B kualifikasi Piala Asia U-17 2023. Mereka tidak akan membuang kesempatan untuk mendulang tiga poin, mengingat lawan yang dihadapi bukan unggulan.
Kemenangan atas Guam bisa menjaga asa Malaysia untuk lolos ke putaran final. Saat ini mereka menempati peringkat ketiga klasemen sementara di bawah Uni Emirat Arab dan Indonesia.
Osmera mengatakan, ia tidak akan melakukan pendekatan berbeda untuk melawan Guam, termasuk dalam mempersiapkan mental. Kendati mereka berada di Bogor, tragedi Kanjuruhan tidak luput dari perhatian pemain.
“Kami akan main dengan Guam sama seperti kami main melawan tim lain. Kami akan terus fokus untuk mendapatkan kemenangan, dan sama sekali tidak akan memandang rendah kemampuan lawan,” ujar Osmera dikutip laman Berita Harian.
“Walaupun pemain rasa sedih dengan situasi yang terjadi (tragedi di Malang), namun apa yang terjadi tidak mengganggu mental pemain.”
Tragedi Kanjuruhan terjadi di hari yang sama ketika Malaysia menaklukkan Palestina 4-0. Selepas insiden itu, pertandingan kualifikasi Piala Asia U-17 digelar tanpa penonton.
“Idealnya, suporter bisa menonton bintang mereka, sangat menyedihkan peristiwa ini terjadi. Ini sangat menyedihkan untuk dunia sepakbola. Anak-anak kami memiliki sentimen yang sama,” ucap Osmera dinukil laman New Straits Times beberapa hari lalu.
Osmera berharap tragedi seperti itu tidak terjadi di Malaysia. Menurut Osmera, ia sering mengajak anak dan istri menyaksikan pertandingan sepakbola secara langsung di stadion.
“Ini adalah tragedi yang seharusnya tidak terjadi. Saya pertama kali mendengarnya ketika kami tiba di hotel setelah pertandingan kami,” kata Osmera.
“Saya merasa sangat sedih, karena saya selalu pergi ke pertandingan sepakbola dengan keluarga saya. Jadi saya sangat terpengaruh. Saya harap tidak sampai ke tahap itu di Malaysia. Menakutkan ketika saya membayangkan diri saya, istri, dan anak-anak saya (berusia 6, 9 dan 15) ada (di Stadion Kanjuruhan).”


