Indonesia Malaysia WCQ/ACQ 05092019Alvino Hanafi

Timnas Indonesia vs Malaysia: Inteligensi Jadi Salah Satu Masalah Pesepakbola Kita

Pernakah Anda melihat situasi saat beberapa pemain Indonesia yang jago dalam menggocek lawan namun kemudian kebingungan atau salah mengambil keputusan kapan harus mengumpan atau menembak? Saat seperti itulah yang bisa merugikan tim ketika mendapat momentum untuk mencetak gol.

Kontras di Eropa, pemandangan tersebut jarang ditemui. Beberapa pemain ternama seperti Paul Scholes, Andres Iniesta, Andrea Pirlo, Xavi, Juan Roman Riquelme, Xabi Alonso dan banyak lainnya bahkan tidak dibekali dengan talenta teknik tinggi, namun mereka menutupinya dengan kecerdasan sepakbola yang sangat mumpuni. Hal ini menjadi sesuatu ekstra yang memisahkan kualitas mereka dari kebanyakan pemain lainnya.

Ya, hal itu yang dinamakan dengan inteligensi dalam sepakbola. Salah satu atribut penting bagi seorang pemain khususnya profesional, selain kemampuan teknik, fisik dan mental, namun kerap terabaikan di kancah sepakbola Indonesia.

Xavi Andrea Pirlo Spain Italy

Lalu, apa itu inteligensi sepakbola?

Inteligensi atau kecerdasan secara umum dalam sepakbola maksudnya adalah kemampuan untuk membaca, apa pun itu mulai dari situasi bermain hingga instruksi pelatih, memahaminya dan kemudian menerapkannya dalam latihan demi mengembangkan kualitas teknik permainan.

"Setiap pelatih berbicara tentang pergerakan, tentang banyak berlari. Saya katakan jangan banyak berlari. Sepakbola adalah permainan yang Anda mainkan dengan otak Anda. Anda harus berada di tempat yang tepat, di saat yang tepat, tidak terlalu awal dan juga tidak terlambat," demikian kutipan ternama legenda Belanda, Johan Cruyff dalam buku karya David Winner yang berjudul Brilliant Orange: The Neurotic Genius of Dutch Football.

Inilah yang menjadi salah satu penyebab kekalahan tim nasional Indonesia 3-2 dari Malaysia dalam laga perdana fase grup Piala Dunia 2022 di Jakarta, Kamis (5/9) lalu. Secara statistik, sebenarnya penguasaan bola kedua tim relatif berimbang, tapi Malaysia bermain lebih efektif.

Sepanjang laga, Malaysia mampu menciptakan 11 peluang, tiga tembakan ke gawang dari 78 kali upaya serangan. Sementara Indonesia hanya bisa membuat lima peluang, dua tembakan ke gawang dari 59 percobaan serangan.

Syafiq Ahmad, Indonesia v Malaysia, 2022 World Cup qualifier, 5 Sep 2019Getty

Secara kasar mata, permainan Malaysia cenderung teks book tanpa banyak improvisasi sehingga tak banyak mengundang decak kagum. Penempatan posisi mereka juga sesuai dengan arahan pelatih. Sederhana tapi menyulitkan Indonesia. Terlepas dari dua gol yang dicetak Beto Goncalves, Indonesia mati kutu di hadapan Malaysia.

Yang ada justru banyak pemain timnas salah dalam membuat keputusan, kapan harus mengumpan atau menembak, mengumpan pun bingung ke mana arahnya, pun demikian saat bertahan, kapan harus menunggu atau menjatuhkan lawan, serta penjaga gawang yang beberapa kali salah dalam penempatan posisi yang akhirnya mampu dimanfaatkan lawan.

Sebenarnya inteligensi pemain tergantung dari latar belakang pendidikan mereka. Di sinilah pentingnya penekanan bahwa pendidikan di luar lapangan sama pentingnya dengan mengejar impian menjadi pesepakbola. Selain kesadaran masing-masing pemain untuk tidak mengabaikan pendidikan, peran pemerintah dalam pemerataan pendidikan sampai ke pelosok-pelosok akan sangat diapresiasi dalam hal ini.

Dan, hal tersebut juga harus berjalan berdampingan dengan tugas federasi, PSSI, untuk terus meningkatkan mutu kompetisi secara berjenjang, mulai dari level akar rumput di mana para anak-anak belajar mengenal sepakbola hingga senior. Klub-klub pun juga harus memahami pentingnya aspek pembentukan tim mulai dari tingkat paling rendah, yakni akademi berbasis sport science, karena merekalah yang menjadi penyokong kualitas timnas.

Semoga generasi sepakbola Indonesia sekarang dan yang akan datang akan mampu lebih bersaing di panggung internasional, setidaknya memutus dahaga prestasi serta mendominasi Asia Tenggara dengan menjadi juara Piala AFF untuk pertama kalinya dan menatap ke level yang lebih tinggi yaitu Asia dan dunia.

Iklan
0