Secara mengejutkan, Jose Mourinho ditunjuk sebagai pelatih AS Roma untuk musim depan. Arsitek asal Portugal berusia 58 tahun itu diharapkan bisa membawa Giallorossi sebagai penantang gelar.
Mourinho adalah pelatih yang terbukti pernah sukses di Italia, yakni membawa Inter Milan meraih treble winners pada musim 2009/10. Ini adalah musim kedua dan yang terakhir buat Mou bersama Nerazzurri sebelum pindah ke Real Madrid.
Di bawah asuhan Mourinho, Inter meraih gelar Serie A Italia untuk yang kelima kali secara beruntun. Selain memenangkan Coppa Italia, mereka juga sukses menjuarai Liga Champions untuk pertama kali dalam 45 tahun. Inter menjadi klub Eropa kelima yang bisa meraih treble atau yang pertama dan satu-satunya di Italia yang mampu melakukannya sejauh ini.
GettySebelum menangani AS Roma mulai musim depan, Mourinho pernah melatih sejumlah klub papan atas Eropa, di antaranya Tottenham, Manchester United, Chelsea (dua kali), Real Madrid, Inter, dan Porto.
Namun, Mourinho memiliki tugas yang berat. Setidaknya, ada tiga pekerjaan rumah (PR) besar yang diemban Mourinho dalam menangani AS Roma, yang tidak akan tampil di kompetisi Eropa pada musim 2021/22.
Memperbaiki pertahanan tim
AS Roma ternyata memiliki persoalan besar di lini belakang. Dalam performa terbaiknya, tim besutan Paulo Fonseca itu dipuji karena mampu menampilkan permainan menyerang yang memukau, namun pertahanan yang buruk membuat pujian itu seakan sirna.
Dalam dua musim terakhir, AS Roma gagal finis di papan Liga Champions. Pada musim 2019/20, tim asal ibukota Italia itu berakhir di peringkat kelima sehingga hanya tampil di Liga Europa musim ini, dengan catatan 21 kemenangan, tujuh imbang, dan sepuluh kekalahan. Dalam urusan mencetak gol (77), mereka adalah terbaik keempat, namun dalam hal kebobolan gol (51), dari tujuh tim teratas mereka merupakan yang terburuk.
Bagaimana dengan musim ini? Menyisakan satu pertandingan lagi, AS Roma tampaknya bakal finis di peringkat ketujuh, dengan catatan 18 kemenangan, tujuh imbang, dan 12 kekalahan sejauh ini. Dalam urusan mencetak gol (66), mereka adalah terbaik keenam, namun dalam hal kebobolan gol (56), hanya terbaik kesepuluh dari keseluruhan tim peserta kompetisi.
Dengan kata lain, musim ini adalah lebih buruk dari musim sebelumnya sehingga perlu ada perbaikan yang cukup besar. Untuk bisa kembali ke kompetisi Eropa, mereka perlu memperbaiki kerawanan di lini belakang.
Mourinho dikenal sebagai pelatih yang konservatif. Pendekatan yang pragmatis kadang diperlukan untuk memperkuat lini belakang, dan ia adalah jagonya untuk itu.
Berjuang lawan tim-tim besar
Dalam dua musim terakhir, AS Roma sering kesulitan ketika menghadapi tim-tim besar di Serie A. Satu-satunya kemenangan Fonseca lawan empat besar pada musim 2019/20 adalah kemenangan 3-1 atas Juventus di pertandingan pamungkas ketika Bianconeri sudah memastikan raihan gelar.
Pada musim 2020/21 ini, performa AS Roma lawan tim-tim besar juga tidak membaik. Sebelum kemenangan 2-0 atas Lazio di pekan ke-37, mereka sempat memiliki catatan buruk tanpa kemenangan dalam 13 pertandingan lawan tim delapan besar saat ini, dengan enam imbang dan tujuh kekalahan).
Masalah cedera
Fokus perhatian Mourinho memang ke lapangan latihan, namun ia juga harus memberikan banyak konsen ke meja perawatan. Masalah cedera, jika tidak diatasi dengan baik, akan berpengaruh terhadap performa tim dalam persaingan di kompetisi domestik dan Eropa.
Sejumlah pemain kunci AS Roma menghabiskan banyak waktu di rumah sakit dalam beberapa bulan terakhir, di antaranya cedera otot yang memaksa Jordan Veretout dan Leonardo Spinazzola hanya bermain 37 menit di Old Trafford. Staf medis Fonseca mendapat sorotan sehingga Friedkins perlu melakukan perubahan di bagian tersebut.
AS Roma perlu melakukan perubahan pada bursa transfer musim panas ini untuk merenovasi skuad di bawah standar, namun para pemain yang ada harus tetap fit menatap kompetisi musim mendatang.




