Bukan Romelu Lukaku Atau N'Golo Kante, Thomas Tuchel Si Game-Changer Sejati Chelsea

Terakhir diperbarui
Getty/Goal

Sang singa menerkam habis si ayam jantan!

Di lapangan, Romelu Lukaku dinilai menjadi kepingan terakhir yang melengkapi skuad Chelsea musim ini, tetapi game-changer sejati The Blues semenjak awal 2021 tak lain dan tak bukan adalah Thomas Tuchel.

Jika apa yang diklaim Frank Lampard  bahwa skuad Chelsea ini belum siap bersaing di papan atas, maka penerusnya pantas menuai puja-puji setelah sentuhan Midas-nya berhasil menyulap tim yang terseok menjadi pasukan bermental baja.

Sentuhan Midas tersebut kembali terpampang nyata saat mengalahkan Tottenham Hotspur 3-0, Minggu (19/9).

Saat 45 menit pertama berakhir di London utara, Nuno Espirito Santo boleh jadi tersenyum kesenangan. Pelatih asal Portugal itu mengomandoi pressing ketat, sehingga menyulitkan Chelsea saat membangun serangan, tetapi tetap menjaga kualitas serangan Spurs. Ia menang adu taktik dengan manajer juara Liga Champions.

Trio bek tangguh Thiago Silva, Andreas Christensen, dan Antonio Rudiger sampai jatuh bangun untuk menjaga skor tetap kacamata, tetapi mereka jelas kewalahan.

Tuchel sempat menjajal menyelesaikan masalah sebelum turun minum, menarik Lukaku, Kai Havertz, dan Mason Mount ke tepi lapangan, mestinya untuk memberikan instruksi.

Tetapi setelah meneriaki pasukannya tanpa perbaikan berarti, ia akhirnya mengambil langkah nyata.

Spurs mendominasi ruang mesin berkat pemain-pemain jangkar mereka, dan membuat Tuchel menunjukkan ketegasannya: menarik Pemain Terbaik mereka musim lalu, Mount—yang memang pantas ditarik—dan menggantinya dengan N'Golo Kante.

Hasilnya? Langsung terlihat tak sampai semenit. Chelsea merebut kontrol dengan kehadiran tiga gelandang tengah, dan memungkinkan para wing-back untuk bermain lebih naik.

Memang tak semua tim punya privilese untuk memanggil Kante dari bangku cadangan, tetapi tangan dingin Tuchel-lah, dengan penuh percaya diri, dan di menit yang terbilang dini, yang mengubah formasi dari 3-4-2-1 menjadi 3-5-2.

Waktu baru berjalan dua menit di babak kedua, tetapi Hugo Lloris sudah dipaksa menyelamatkan sepakan voli Marcos Alonso. Dua menit kemudian, hasil nyata tercipta: Silva menanduk sepak pojok Alonso.

Skor 1-0 tak berjalan lama, Kante sendiri yang menambah penderitaan Spurs saat sepakan jarak jauhnya di menit ke-57 mengenai Eric Dier dan bergulir mengabaikan Lloris yang terlanjut mati langkah.

"Saya betul-betul tidak senang dengan 45 menit pertama," ujar Tuchel kepada Sky Sports pasca laga. "Secara umum, kami kurang berniat, energi, dan kegigihan dalam berduel dan dalam bola 50:50."

"[Menarik] Mason Mount adalah keputusan sulit dan memang jadi sedikit lebih defensif dengan kehadiran N'Golo Kante, tetapi saya ingin memberi energi."

"Di paruh kedua, penampilannya sangat bagus dan pantas menang. Reaksi yang sangat bagus, saya senang dengan penampilan kami di babak kedua."

Bagi para pesaing, pertahanan Chelsea yang bak benteng itu pasti sangat menjengkelkan, baik untuk dilihat maupun dilawan. Kendati tampil ambyar sebagai tim, lawan tetap tak bisa berkutik, sehingga Tuchel tinggal memperbaiki sektor serangan dari bangku cadangan.

Dan itulah yang ia lakukan begitu pasukannya unggul 2-0, menarik Havertz—sekali lagi, yang memang tidak efektif—dan menggantinya dengan kompatriotnya, Timo Werner, yang kecepatan dan kualitas larinya mampu merentangkan permainan, ideal jika ingin memproteksi keunggulan.

Meski, seperti biasa, Werner membuang beberapa peluang apik, ia memberi assist bagi Antonio Rudiger pada menit tambahan lewat umpan silang mendatar dari sisi kanan.

Pada akhirnya, Chelsea masih harus mengkhawatirkan kualitas permainan mereka. Dua kemenangan terakhir atas Aston Villa dan Zenit mengikuti pola yang serupa, terseok dahulu, tiga poin kemudian.

Idealnya The Blues memang mampu mengontrol laga-laga seperti ini dengan nyaman, tetapi Tuchel masih punya waktu untuk memperbaikinya di latihan, terlebih karena ia sudah membangun fondasi yang kuat.

Sejak awal Liga Primer musim ini, mereka tak terkalahkan dalam enam laga di semua kompetisi, cuma kemasukan satu gol (penalti Mohamed Salah), dan sudah bertandang ke markas Liverpool, Arsenal, dan Tottenham.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

Mereka berhak duduk di puncak klasemen berkat tren positif tersebut, mengoleksi jumlah poin yang sama dengan Liverpool dan Manchester United, dua tim pesaing yang menjadi unggulan.

Semua ini berkat magis dan hasil kerja keras sang manajer.

Masih ragu apakah Tuchel layak didapuk sebagai pelatih elite?