Klopp Liverpool Super League

The Kop Pamit! Fans Liverpool Mungkin Takkan Beri Maaf Karena Liga Super Eropa

Liverpool bermain imbang dengan Leeds United dalam pertandingan sepakbola, Selasa (20/4) dini hari WIB tadi.

Dan itu, sungguh, adalah tentang sebanyak yang siap saya tulis tentang masalah ini.

Oke, saya bisa bicara tentang Sadio Mane dan Diego Llorente, tentang Jurgen Klopp dan Marcelo Bielsa. Saya bisa melanjutkannya dengan membahas tekanan yang ada dan energi yang ditampilkan, memberikan pendapat saya tentang pertempuran lini tengah, kegemilangan dalam menyerang dan ketidakamanan secara defensif.

Saya bahkan dapat menyebutkan apa arti hasil akhir tadi untuk tabel klasemen Liga Primer. Liverpool kehilangan kesempatan untuk menempati posisi keempat sementara Leeds tetap di urutan sepuluh; masih ada pertaruhhan dengan enam pertandingan tersisa.

Tapi siapa yang peduli tentang semua itu sekarang?

Seriusnya, siapa yang peduli?

Ini adalah pertandingan yang tidak berarti apa-apa karena peristiwa 36 jam sebelumnya, duel yang dimainkan dengan latar belakang pemberontakan dan revolusi. Sepakbola, sepakbola seperti yang kita kenal, sedang dalam krisis, dan sampai itu diselesaikan, maka Anda harus memaafkan kami karena mengabaikan pertarungan empat besar, perjuangan Naby Keita atau absennya Ben Davies yang aneh.

Bagaimana bisa jadi seperti ini? Bagaimana mungkin beberapa miliarder dan eksekutif mengancam keseimbangan seluruh olahraga paling populer di dunia?

Bagaimana para pemain dan staf Liverpool, yang tidak punya suara dalam keputusan klub untuk berkomitmen pada Liga Super, disambut dengan nyanyian “sampah” dan “bajingan rakus”, seperti saat tiba di Elland Road tadi?

Sementara mereka yang menggerakkan gerakan ini tetap diam. Selagi api mengamuk, Fenway Sports Group belum memberikan komentar. Mereka bahkan tidak menampilkan berita yang dimuat di laman resmi klub pada Minggu malam, mengumumkan rencana yang dapat, jika dilihat, benar-benar mengubah wajah sepakbola domestik dan Eropa seperti yang kita ketahui.

Alih-alih siaran pers, samar dan tidak memadai, mengutip Joel Glazer, wakil pimpinan Manchester United, serta presiden Real Madrid Florentino Perez.

The Kop justru keluar, mereka bersuara.

Jelas, fans Liverpool marah dengan hal ini. Mungkin hanya sekitar seratus penonton yang menyambut Klopp dan timnya di Elland Road, tetapi sentimen yang diungkapkan bisa dirasakan di sepanjang permainan.

Minggu ini grup pendukung Liverpool yakni Spion Kop 1906 akan menghapus bendera dan spanduk ikonik mereka dari The Kop menjelang pertandingan akhir pekan melawan Newcastle United. “Kami merasa kami tidak bisa lagi memberikan dukungan kami kepada klub yang menempatkan keserakahan finansial di atas integritas permainan,” tulis mereka.

Spirit of Shankly, persatuan pendukung Liverpool, menyebut rencana Liga Super, yang dibocorkan ke The Times pada Minggu sore, "memalukan" dan  mereka "terkejut" dengan berita keterlibatan klub mereka.

"FSG telah mengabaikan penggemar demi mengejar uang tanpa henti dan rakus," tambah mereka.

“Sepakbola adalah milik kami, bukan milik mereka. Klub sepakbola kami adalah milik kami, bukan milik mereka."

Itu adalah pernyataan yang tegas. Ini juga bentuk dukungan para suporter setia yang  bersemangat, orang-orang yang mengabdikan hidup dan gaji mereka untuk klub mereka, yang mengikuti Liverpool di seluruh dunia, dan mereka merasa malu, terdorong oleh putus asa dengan apa yang mereka saksikan.

Seperti biasa, para suporter lah yang pertama menderita dan dianggap terakhir. Mereka dipaksa untuk tinggal di rumah selama beberapa waktu terakhir, dibuat untuk menanggung kengerian VAR dan sekarang ada masalah ini.

Masih menyebut ini sebagai ‘The Beautiful Game?’

Anda patut prihatin pada Klopp, yang dipaksa untuk menjawab pertanyaan yang harusnya dijawab oleh orang-orang di atasnya di sini. Manajer The Reds itu telah menegaskan posisinya terkait Liga Super yang diusulkan; dia menentangnya, dan fair play baginya, dia tidak mengubah pendiriannya ketika ditanya tentang hal itu sebelum pertandingan. Dia tidak benar-benar berusaha keras melawan atasannya, tetapi dia membuat perasaannya cukup jelas untuk didengar.

"Saya suka aspek kompetitif sepakbola," kata Klopp. "Saya suka West Ham punya kesempatan bermain di Liga Champions. Saya tidak menginginkan mereka karena kami mengajaknya, tapi saya suka mereka memiliki kesempatan."

Klopp membenarkan bahwa baik dia maupun para pemainnya tidak dikonsultasikan sebelum berita itu terungkap, sementara Goal memahami bahwa staf klub hanya diberitahu tentang proposal tersebut melalui surel dari Billy Hogan, kepala eksekutif, pada Senin pagi.

"Kami tahu bahwa pengumuman ini telah memicu perdebatan yang kuat di dalam sepakbola dan di tempat lain," tulis Hogan, yang menggantikan peran Peter Moore pada September lalu. "Tapi kami yakin keputusan ini adalah untuk kepentingan jangka panjang Liverpool Football Club."

Ada beberapa yang meyakini bahwa ini dirancang untuk menggertak UEFA agar memungkinkan klub mendapatkan kekuasaan dan kontrol yang lebih besar dalam struktur Liga Champions yang asli. Banyak yang mengira kompromi pada akhirnya akan dilakukan.

Tampaknya itu masih jauh, sebagaimana presiden UEFA Aleksander Ceferin berbicara tentang "ular" dan bagaimana mereka yang terlibat telah "meludahi wajah semua pecinta sepakbola". Ceferin telah menyatakan bahwa semua pemain dari klub yang terlibat dalam Liga Super akan dilarang bermain untuk negaranya masing-masing sementara Jesper Moller, dari komite eksekutif UEFA, telah menyarankan bahwa Chelsea, Manchester City dan Real Madrid dapat dikeluarkan dari Liga Champions musim ini, yang semi-finalnya akan berlangsung akhir bulan ini.

Jangan salah; sepakbola kini sedang berperang, dan Liverpool berada tepat di tengahnya. Mereka bermain imbang di sini, tapi mereka kalah secara keseluruhan. Kerusakan yang telah mereka dan 11 klub lainnya lakukan minggu ini akan membutuhkan beberapa perbaikan.

Sepakbola tanpa penggemar bukanlah apa-apa, dan fans Liverpool mungkin tidak akan pernah memaafkan klubnya untuk yang satu ini.

Iklan
0