Penggawa andalan Liverpool, Mamadou Sakho ternyata memang meminta adanya hukuman pada dirinya setelah dinyatakan gagal lolos tes medis beberapa pekan lalu.
Hasil uji medis memang menyebutkan bahwa bek asal Prancis itu positif menggunakan zat pembakar lemak, yang masuk ke dalam daftar cekal UEFA, ketika beraksi di pentas Liga Europa melawan Manchester United pada 17 Maret.
Buntut dari kejadian tersebut, Sakho kemudian tak bisa lagi memperkuat Liverpool di sisa musim 2015/16 sebagaimana dirinya dijatuhi hukuman awal larangan beraksi selama 30 hari oleh UEFA pada 28 April lalu.
Namun dalam perkembangannya, keputusan mengejutkan dibuat UEFA dengan tak memperpanjang durasi hukuman sang pemain, bertentangan dengan keinginan Badan Anti Doping Dunia (WADA) yang menyarankan agar status sanksinya diperluas.
"Beberapa substansi bisa berujung pada hukuman otomatis, sementara yang lain tidak. Dan dalam kasus ini, sang pemain meminta agar dihukum temporer, dari keinginannya sendiri dan UEFA mengabulkan permintaannya," demikian ungkap Marc Vouillamoz selaku pimpinan tim medis dan doping UEFA seperti dilansir L'Equipe.
Sanksi yang diterima Sakho sejatinya sudah berakhir pada 28 Mei lalu, membuatnya berpeluang untuk segera kembali beraksi di lapangan hijau. Meski demikian, sang bek tetap tak dibawa Prancis untuk tampil di Euro 2016.


