Ronald Koeman EvertonGetty Images

Everton Terjun Bebas Bersama Ronald Koeman


OLEH    SANDY MARIATNAIkuti di Twitter

Digadang-gadang sebagai calon pendobrak The Big Six Liga Primer Inggris, Everton malah melempem dan bahkan terpuruk di zona degradasi. Pemecatan Ronald Koeman menjadi sesuatu yang tidak terelakkan.

Koeman resmi mengakhiri jabatannya sebagai manajer Everton pada Senin (23/10) setelah timnya dibantai Arsenal 5-2 di Goodison Park sehari sebelumnya. Usai sudah kiprah pria Belanda itu setelah 16 bulan bertugas di klub.

Padahal, pada Mei lalu ia mampu mengantar Everton finis ketujuh dan dinilai memiliki kapasitas untuk mendobrak kekuatan tradisional Liga Primer. Koeman juga mendapat kucuran dana besar di bursa transfer musim panas untuk memenuhi ambisi besar itu. Sembilan muka baru didatangkan dan Everton menjadi klub terboros keempat di Inggris dengan pengeluaran £142,4 juta.

Sayang, apa yang ditabur ternyata tidak sesuai dengan yang dituai. Hingga pekan kesembilan Liga Primer, Everton sudah menelan lima kekalahan dan terperosok ke jurang degradasi. Di level Eropa, The Toffees juga terpuruk dengan menjadi juru kunci Grup E Liga Europa. Status medioker masih sulit lepas dari tim Merseyside Biru.

Perbandingan statistik dengan musim lalu menunjukkan, performa Everton di musim ini memang terjun bebas. Catatan gol, penguasaan bola, akurasi umpan, akurasi tembakan, kreasi peluang – semuanya memiliki rapor merah. Hal ini membuktikan Everton sedang keropos di hampir segala lini.

Paling kentara terjadi di sektor penyerang. Kepergian Romelu Lukaku, sang topskor klub dalam empat musim terakhir, menyisakan lubang besar yang tidak ada obat mujarabnya. “Pertukaran” Lukaku dengan Wayne Rooney hanya manis di lidah. Sang legenda telah pulang ke Goodison, tapi tidak mampu menginspirasi rekan-rekannya.

Wayne Rooney EvertonGetty ImagesRooney bukan pengganti sepadan Lukaku.

Laga kontra Arsenal akhir pekan lalu merangkum kesimpulan bahwa Koeman tidak bisa membangun tim di sekeliling Rooney. Sebuah gol khas Rooney membuka keunggulan atas Arsenal, namun hanya sebatas mengungkit kembali kisah romantis 15 tahun silam ketika sang bocah ajaib membuat gol cantik ke gawang tim yang sama. Setelahnya, Everton bubar jalan.

Striker lain seperti Sandro Ramirez, Oumar Niasse, dan Dominic Calvert-Lewin juga tak mampu menjawab pertanyaan di depan gawang. “Everton tidak mencari pengganti Lukaku dan menurut saya itu adalah kesalahan yang sangat, sangat besar,” kata manajer kawakan Inggris, Peter Reid, kepada Sky Sports.

Selain lini depan yang tumpul, para gelandang Everton juga kesulitan menyuplai bola ke kotak penalti. Adaptasi para penggawa anyar seperti Davy Klaassen dan Gylfi Sigurdsson masih terkendala sehingga performa mereka belum maksimal.

GFXID Kejatuhan Koeman Everton

Di lini belakang, Koeman tampaknya harus berterima kasih kepada Jordan Pickford. Tanpa sang kiper anyar, gawang Everton mungkin kebobolan lebih banyak akibat buruknya performa bek mereka. Saat ini saja, Everton merupakan tim dengan kebobolan terbanyak nomor dua di belakang Stoke City.

Seiring kemajalan di lini depan, lini tengah yang mandek, dan jebloknya lini belakang, tidak heran jika Everton menampilkan permainan yang sangat jauh dari ekspektasi di awal musim. Segalanya kian rumit karena Koeman tidak memiliki formasi pasti di musim ini. Formasi 4-2-3-1, 4-3-3, 3-4-3, 3-5-2 secara bergiliran diterapkan Koeman dari pekan ke pekan. Akibatnya, kebingungan melanda para pemain dan permainan tim menjadi tidak padu.

Kini Koeman telah pergi dan Everton bisa memulai lembaran baru. Skuat mereka sebetulnya sudah oke. Manajer Everton U-23 David Unsworth kini telah ditunjuk sebagai caretaker dan ia diharapkan bisa menjadi nakhoda yang bisa membimbing Everton beranjak menjauh dari zona merah secepatnya.

Iklan